Gagalnya Rekayasa Cuaca

Rekayasa Cuaca Tak Maksimal, Jakarta Tetap Kebanjiran

- detikNews
Rabu, 05 Feb 2014 12:22 WIB
Banjir di salah satu kawasan di Jakarta. (foto - detikcom)
Jakarta - Banjir belum berakhir. Hujan lebat kembali melanda sebagian wilayah Jakarta pada Rabu pagi tadi. Sejumlah pemukiman warga terendam banjir. Beberapa saluran dan sungai tak mampu menampung air. Wal hasil air meluber hingga ke jalanan dan menimbulkan kemacetan di beberapa titik.

Sejak pertengahan Januari lalu banjir memang menghantui Jakarta. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah memprediksi tingginya curah hujan di Ibu Kota. Tingginya curah hujan berpotensi memicu terjadinya banjir.

Sejumlah cara pun dilakukan demi menangkal banjir. Salah satunya dengan rekayasa cuaca untuk mengurangi intensitas curah hujan. Sayang program dengan anggaran Rp 20 miliar itu tak sepenuhnya berhasil.

Kepala UPT Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Heru Widodo mengatakan, rekayasa cuaca sangat tergantung dari ketersediaan pesawat. Agar program ini berjalan maksimal dan konsisten, diperlukan minimal dua pesawat jenis Cassa atau Hercules.

Persoalannya, selama Januari kemarin hanya ada satu pesawat sehingga proses penyemaian tak bisa maksimal. Beruntung sejak Kamis pekan lalu sudah ada bantuan tambahan satu pesawat Cassa.

Tambahan ini secara perlahan membantu intensitas penerbangan menjadi empat kali dalam satu hari. “Sekarang ada dua pesawat. Kan sebelumnya cuma satu. Yah, terbantu jadinya,” kata Heru saat dihubungi detikcom, Senin (3/2) lalu.

Menurut Heru, tak mudah mencari pesawat seperti yang direncanakan. Penyemaian garam di udara harus menyesuaikan waktu dengan jadwal penerbangan pesawat. Karena umumnya, hampir semua jenis pesawat Cassa sudah terikat dengan jadwal penerbangan dan kontrak kerja.

Begitupun dengan pesawat Hercules yang saat ini fokus terhadap kejadian bencana alam di beberapa daerah. Kedua pesawat ini yang paling bisa diandalkan dalam program rekayasa cuaca. “Ya jelas dong. Pesawat itu kan enggak seperti beli aqua. Kita masuk toko bisa beli banyak. Enggak seperti itu,” papar Heru.

Menurut Heru, apabila kebutuhan pesawat minimal dua terpenuhi, modifikasi cuaca senilai Rp 20 miliar ini bisa berjalan lancar. Contohnya, ia menyebutkan karena sudah ada dua armada pesawat, jumlah penyemaian garam ke awan meningkat dalam sepekan ini.

Saat pesawat Cassa tidak mampu menembus jangkauan awan tebal maka bakal digunakan pesawat Hercules. Dengan fisik yang besar, pesawat Hercules milik TNI itu jadi andalan untuk menembus dan menyemai awan.

Saat ini, penyemaian garam ke awan sudah bisa dilakukan setiap hari dengan intensitas sebanyak enam – tujuh kali per hari. Untuk lokasi rekayasa hujan biasa dilakukan di daerah pantai pelabuhan ratu.

Hingga saat ini sudah dilakukan 32 penerbangan dengan jumlah 105,56 ton garam yang disemai. Adapun untuk target pengurangan air hujan diharapkan bisa berkurang 30 persen. Secara perlahan, ditargetkan bisa berkurang 35-45 persen. Heru yakin target ini bisa terpenuhi kalau melihat proses perkembangannya.

“Ini kan salah satu cara. Semoga benar bisa nanti sesuai target karena kalau hitungan pasti saat awal tahun. Kesulitannya ya paling ini kan tergantung sama cuaca. Kalau cuaca gerimis terus ya susah dilakukan,” kata Heru.

Meski demikian, ia menekankan rekayasa cuaca ini tidak dianggap sebagai andalan untuk mengurangi banjir di Ibu Kota. Dia mengatakan upaya di dataran bawah juga harus diselesaikan. Beberapa poin yang disinggungnya seperti normalisasi sungai, waduk, dan drainase.

“Kalau cuma andelin awan diakalin ya susah. Yang di bawah juga harus diprioritasin juga,” ujarnya.




(hat/erd)