Masih Layakkah Jakarta Bagi Pesepeda?

- detikNews
Minggu, 28 Apr 2013 08:24 WIB
Jakarta - Budaya bersepeda dan jalan kaki di Jakarta masih sangat rendah. Meskipun masyarakat tahu banyak manfaat dari kebiasaan bersepeda dan berjalan kaki tersebut.

"Lingkungan di Jakarta memang masih kurang mendukung bagi pesepeda. Bahkan sebenarnya menurut kesehatan justru tidak layak bersepeda di Jakarta karena polusi udaranya sangat tinggi," ujar seorang penggiat sepeda dr. Billiater Sinaga saat dihubungi, Sabtu (27/4/2013).

Menurut dokter yang bertugas di RS Hermina ini, adanya jembatan penyeberangan orang merupakan bukti bahwa masyarakat Jakarta kurang menghargai pejalan kaki. Sebab keamanan penyeberang jalan melalui zebra cross tidak terjamin.

"Pejalan kaki tidak dilindungi kan? Disingkirkan lewat jalan layang," ujarnya.

Menurutnya, banyak pengguna kendaraan bermotor yang tidak mengindahkan zebra cross. Mereka tidak peduli ada orang yang hendak menyeberang meskipun sudah memencet tombol lampu merah.

"Di Eropa, ada seorang kakek yang mengetuk mobil yang parkir di jalan karena melebihi batas zebra cross dan menyuruhnya untuk mundur. Begitu berwibawanya pejalan kaki di sana," tuturnya.

Selain itu, ruas jalan khusus pesepeda banyak diserobot oleh pengguna sepeda motor. Sehingga ia merasa ruang bagi masyarakat yang gemar bersepeda dan berjalan kaki semakin sempit. Ditambah lagi dengan harga sepeda yang cukup mahal.

"Sepeda juga jangan jadi eksklusif lah di Indonesia. Harganya jangan mahal-mahal," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Billy tersebut mengatakan, harga sepeda saat ini yang paling murah sekitar Rp. 1.000.000. Harga tersebut dinilai terlalu mahal untuk rakyat Indonesia.

"Padahal nggak sampai Rp. 500.000 kita bisa bikin sepeda yang merakyat," ucap Billy.

Meski demikian, menurutnya upaya Pemprov DKI Jakarta untuk memberi ruang bagi pesepeda dan pejalan kaki sudah cukup bagus. Hanya saja budaya masyarakat yang masih sangat kurang.

"Memang kondisi Jakarta sudah panas. Polusi juga terlalu banyak di udara," ujarnya.

Namun hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan bagi masyarakat untuk lebih memilih kendaraan bermotor. Mengingat lebih banyak manfaat yang akan dihasilkan dengan budaya go green tersebut.

"Kami berharap pada tahun 2018, Jakarta bisa menjadi kota yang layak bagi pesepeda," ucapnya.

Billy yang sudah sejak tahun 1980 menggiatkan budaya bersepeda di Universitas Indonesia ini optimis hal tersebut akan terwujud. Sebab saat ini sudah mulai banyak acara fun bike yang digelar di Jakarta.

"Seharusnya orang berangkat ke kantor bersepeda atau jalan kaki. Lalu mandi di kantor. Itu lebih fresh," ujarnya yang mengaku selalu melakukan rutinitas tersebut setiap hari.


(kff/mpr)