Dendam Antar Kelompok, Penyebab Kekerasan di Papua

- detikNews
Rabu, 06 Jun 2012 14:40 WIB
Jakarta - Sejumlah kasus kekerasan terjadi di Papua. Selain penembakan, perang antar suku juga kerap terjadi. Polisi menengarai hal ini karena adanya dendam antar kelompok.

"Memang antar suku di Papua sering terjadi masalah kecil, seperti masalah perbatasan dan lain-lain yang kecil-kecil. Maka terjadi perselisihan antar mereka dan membawa sukunya untuk menyerang antar suku sehingga terjadilah suatu benturan suku," ujar Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Sutarman usai rapat tentang Century dengan pimpinan DPR dan anggota DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/6/2012).

Untuk menghindari terjadinya perang antar suku, pendekatan pencegahan dilakukan. Caranya adalah dengan menyampaikan imbauan ke masyarakat agar menyelesaikan masalah tidak dengan cara perang.

"Karena memang budaya di sana menyelesaikan masalah dengan cara-cara balas dendam, jadi banyak persoalan di Papua akhirnya menimbulkan korban jiwa yang dibayar mahal antar kelompok," sambung Sutarman.

Tim dari Bareskrim Polri telah dikirim ke Papua untuk mem-back up pasukan. Sementara itu pasukan telah disiagakan di sejumlah wilayah seperti Mimika, Puncak Jaya, dan di beberapa daerah lainnya. Sayangnya komunikasi dan transportasi di Papua cukup sulit, sehingga jika terjadi bentrokan melibatkan banyak orang menjadi korban.

"Kita datang ke sana memerlukan transportasi yang agak sulit, sehingga mungkin terlambat sampai sana. Atau kalau daerah yang sudah orang kita di sana itu cepat. Tapi kalau di pedalaman ada pertengkaran seperti itu transportasi ke sana mengalami kesulitan," terang mantan Kapolda Jabar ini.

Perselisihan antar suku, imbuhnya, diupayakan diselesaikan secara adat. Polisi akan mendorong penyelesaian persoalan tanpa melibatkan masyarakat banyak dan unsur lainnya. "Kalau bisa antar masyarakat sendiri ya kita dorong," ucap Sutarman.

Apakah bentrokan antar suku ini terkait keberadaan PT Freeport? "Tidak. Itu selisih antar kampung saja. Itu masalah kecil saja, seperti masalah perbatasan, tanaman dan masalah lain," kata Sutarman.

Sebelumnya, vwarga Kampung Harapan dan Kampung Amole di Kelurahan Kwamki Lama, Timika, Papua terlibat perang panah. Peristiwa serupa pun pernah terjadi pada Mei lalu.

Sementara itu penembakan juga terjadi di tanah Papua. Pada Selasa (5/6/2012) malam, seorang anggota TNI, Pratu Frangki Kune (25) dan dua warga sipil, Iqbal Rifai (22) dan Hardi Jayanto (22), ditembak. Keduanya selamat dan kini dirawat di RSUD Dok-2 Jayapura.

Pada Selasa (29/5/2012), seorang WN Jerman Dietman Pieper ditembak saat bersantai di pondok wisata Port Numbay, Distrik Japut, Kelurahan Tanjung Ria, Jayapura. Pada hari yang sama, guru SD warga Kampung Kulirik, Distrik Mulia, Puncak Jaya, Papua, tewas karena ditembak.

(vit/nrl)