Laporan dari Antwerpen

Diplomasi 'Nyai Ontosoroh' Menyapa Eropa

- detikNews
Kamis, 27 Mei 2010 15:03 WIB
Antwerpen - Drama teater They Call Me Nyai Ontosoroh (TCMNO) garapan sutradara Wawan Sofwan, diangkat dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, memukau publik Antwerpen, Belgia. Sebuah pendekatan baru mempromosikan Indonesia di negeri orang.

Standing applause menggantung lama di langit-langit Zuiderpershuis Culturel Centrum, Antwerpen, Belgia, selepas drama berdurasi 100 menit itu berakhir. Lakon TCMNO begitu menyentuh, sehingga membuat publik seolah terhipnotis untuk tak henti bertepuk tangan.

Melibatkan empat tokoh utama, Nyai Ontosoroh (Sita Nursanti), Annelies (Agni Melati), Minke (Bagus Setiawan), dan Meneer Herman Mellema (Willem Bevers), lakon dengan latar Jawa Timur ini mengisahkan perjuangan anak manusia melawan ketidakadilan, pembedaan hak dan kelas sosial. Sebuah tema kolonial, namun hingga sekarang tetap aktual.

Pengarah Musik dipercayakan kepada Riki Setiawan, yang juga pernah pentas di beberapa tempat di Belgia bersama grup Lungsuran Daur (2009). Tata panggung oleh Deden Bulqini, sementara busana dan rias ditangani Irina Dayasih.

"Pertunjukan seni teater ini adalah hal baru dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia di Belgia," tutur Sekretaris III Pensosbud Diplik Royhan N. Wahab kepada detikcom Rabu malam atau Kamis hari ini (27/5/2010) WIB.

Menurut Roy, seni teater Indonesia perlu lebih lanjut untuk diperkenalkan kepada publik Eropa bahwa kebudayaan Indonesia sedemikian kaya, tidak hanya beragam tari, musik, busana, dan seni panggung tradisional, namun juga teater moderen seperti TCMNO.

"Promosi dan diplomasi kebudayaan Indonesia dengan media film, tari dan musik sudah biasa di mata masyarakat Eropa. Kali ini berbeda dengan lainnya, bukan hanya seni teater moderen Indonesia saja yang dipromosikan TCMNO, namun juga Bahasa Indonesia," papar Roy.

Dikatakan bahwa contoh pentas seni teater seperti ini yang salah satunya akan dilakukan oleh Pusat Kebudayaan Indonesia (Puskebi) Brussel ke depan. Puskebi, yang diresmikan oleh Dubes Nadjib Riphat Kesoema pada Maret 2010 lalu, secara bertahap akan menjadi pusat promosi seni dan kebudayaan Indonesia di Eropa, terutama Belgia dan Luksemburg.

"Ke depan, seni teater Indonesia bisa menjadi salah satu andalan kegiatan promosi dan diplomasi kebudayaan Indonesia di Puskebi Brussel," demikian Roy.

Sementara itu produser Faiza Hidayati Mardzoeki mengatakan bahwa penggarapan TCMNO itu memakan waktu sekitar 2 tahun sebelum dilakukan pertunjukan perdana di beberapa kota di Indonesia (2007).

Selama penggarapan TCMNO, sekitar 400 naskah halaman cerita asli dipangkas menjadi 60 halaman naskah peran. Selain itu tokoh teater dan sineas kawakan Slamet Rahardjo dan Jajang C. Noer juga dimintai konsultasi demi meningkatkan kualitas cerita di dalam naskah.

Pertunjukan TCMNO di kota Antwerpen tersebut merupakan rangkaian terakhir pertunjukan di Eropa, setelah sebelumnya di Tropen Theater Amsterdam (20-21/5/2010), dan Tong Tong Festival, Den Haag (22-23/5/2010). (es/es)