DetikNews
Selasa 10 Mei 2005, 18:19 WIB

Operasi \'Bodrek\' di Solo Dikeluhkan Tim Sukses Pilkada

- detikNews
Solo - Kehadiran puluhan orang yang mengaku-aku sebagai wartawan atau biasa disebut \\\'bodrek\\\' dikeluhkan oleh para tim sukses di Pilkada Solo. Para tim sukses mengatakan \\\'bodrek-bodrek\\\' itu biasanya datang dari luar kota Solo secara berombongan. Ujung-ujungnya meminta uang dan bahkan kadang disertai dengan memaksa.Seperti diketahui, 27 Juni 2005 mendatang Kota Solo akan menggelar Pilkada langsung untuk memilih walikota dan wakil walikota. Di Kantor KPUD, Selasa (10\/5\/2005) ini KPUD Solo mengadakan pengundian nomor urut empat pasangan. Dalam acara itu puluhan orang dengan penampilan layaknya wartawan juga datang merubung pasangan calon maupun tim suksesnya.Menurut para tim sukses, tidak hanya dalam acara seperti itu saja para \\\'bodrek\\\' datang. Tidak jarang mereka datang ke kantor tim sukses atau rumah salah satu pasangan calon dengan dalih ingin wawancara atau alasan lainnya. Tapi jika dilayani ujung-ujungnya akan meminta uang dengan berbagai alasan pula.\\\"Selain mendatangi acara-acara yang kami adakan, mereka sering datang ke kantor kami. Biasanya mereka (para \\\'bodrek\\\') datang berombongan antara tiga hingga lima orang. Mereka tidak sungkan untuk meminta uang,\\\" papar ketua tim sukses pasangan Hardono-Dipokusumo dari Partai Golkar dan Demokrat, Seno Hadi Sumitro, Selasa (10\/5\/2005).Ahmad Qowim dari tim sukses pasangan Purnomo-Istar (PAN) juga mengatakan pihaknya sering dijadikan target operasi \\\'bodrek\\\'. Mereka ada yang mengaku datang dari luar kota bahkan luar pulau. Ada pula yang mengaku berasal dari Kota Solo. Qowim cukup banyak kenal dengan wartawan Solo, namun dia sama sekali asing dengan wajah-wajah wartawan sering mendatanginya itu.\\\"Ada yang mengaku dari Solo, Kudus, Yogyakarta dan Surabaya, bahkan dari Balikpapan. Yang menjengkelkan, mereka kalau datang di atas pukul 22.00 WIB. Rata-rata mengaku ingin wawancara dan membuat profil calon. Kalau dipikir-pikir apa untungnya koran Balikpapan membuat profil calon walikota Solo,\\\" keluh Qowim.Pengalaman tim sukses pasangan Joko Widodo-Rudy (PDIP) tidak kalah menariknya. Anggit Nugroho mengaku sering tertawa sendiri melihat ulah para \\\'bodrek\\\' itu. Maklum, Anggit adalah mantan wartawan yang cukup lama bertugas di Solo, sehingga dia hapal hampir semua wartawan di Solo.Dipaparkan Anggit, pernah pada suatu malam kantor tim suksesnya didatangi puluhan \\\'bodrek\\\'. Mereka mengaku tidak boleh masuk ke sebuah acara Partai Golkar Solo yang dihadiri Jusuf Kalla karena tidak memiliki tanda pengenal. \\\"Mereka mendatangi kantor kami dan meminta uang saku untuk pulang. Ya saya tertawakan karena tidak ada hubungannya acara Partai Golkar dengan kami,\\\" ujarnya.Ada pula, masih menurut Anggit, \\\'bodrek\\\' yang datang ke rumah calon walikota Joko Widodo. Mereka lalu disuruh ke kantor tim sukses dan diberitahu bahwa semua urusan harus melewati tim sukses. Sesampai di kantor tim sukses, mereka marah sambil mengancam akan memberitakan bahwa Joko Widodo tidak merakyat karena tidak boleh ditemui wartawan di rumahnya.\\\"Mereka juga mengancam akan mempersoalkan karena kami dinilai menghalang-halangi kerja pers. Tidak jarang mereka membentak-bentak. Tapi ujung-ujungnya ya cuma minta duit juga. Bahkan pernah ada yang saya ancam akan kami seret paksa dari ruangan jika tidak segera pergi, dan ternyata mereka takut juga,\\\" paparnya.\\\"Lucunya lagi, beberapa hari lalu ada teman sesama tim sukses yang menerima SMS dari nomor tidak dikenal. Isinya begini: \\\'Jangan ladeni bodrek dari luar kota. Perhatikan nasib para bodrek di Kota Solo sendiri\\\'. Rupanya telah terjadi persaingan cukup ketat di antara sesama \\\'bodrek\\\' dalam mencari mangsanya,\\\" lanjut mantan wartawan Harian Bernas tersebut sambil tertawa.Lalu apa yang dilakukan para tim sukses untuk mengusir para \\\'bodrek\\\' ini? Ternyata cara yang dipakai hampir sama, yaitu menolak kehadiran \\\'bodrek\\\' itu. Bagi \\\'bodrek\\\' yang terus memaksa minta uang, terpaksa tim sukses mengeluarkan uang dalam jumlah kecil agar segera pergi.\\\"Kalau sikap saya tegas, tidak akan memberikan sepeser uang pun kepada mereka. Diberi uang atau pun tidak, ulah mereka tidak akan mempengaruhi pemberitaan karena mereka tidak memiliki media apa pun. Tapi kadang-kadang teman-teman di tim sukses terpaksa mau memberi uang dalam jumlah kecil dengan alasan daripada ribut dan biar cepat pergi,\\\" ujar Anggit.


(nrl/)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed