detikNews
Jumat 26 Agustus 2016, 23:48 WIB

Jatuh Bangun Nelayan Pulau Bungin Kelola Resto Apung dan Budidaya Ikan Laut

Ahmad Masaul Khoiri - detikNews
Jatuh Bangun Nelayan Pulau Bungin Kelola Resto Apung dan Budidaya Ikan Laut Resto Apung Pulau Bungin, NTB (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
NTB - Pendirian resto apung di tengah laut dan tempat budidaya ikan segar nelayan Pulau Bungin, Kabupaten Sumbawa, NTB pada perjalanannya tidak selalu menemui mulus. Mulai dari kematian ikan sebelum panen hingga kekurangan biaya menjadi kendala klasik bagi pengusaha resto berbasis wisata alam itu.

Budidaya ikan di pulau ini mulai dikembangkan pada akhir tahun 2014. Sebelas orang mencoba peruntungan mengubah nasib mereka untuk melakukan budidaya ikan. Pada saat awal-awal mereka tidak bisa mandiri baik pada bibit ataupun yang lainnya.

Bermodalkan dana patungan serta bantuan Pemkab Sumbawa, mereka membudidayakan sekitar 6000 ekor ikan jenis Bawal Bintang. Jenis ikan ini dikatakan Ketua Pengelola Marine Aquaculture Pulau Bungin, Tison Sahabudin (27) hanya terdapat di Batam, dan Sekotong, Lombok Barat untuk pembibitannya.

"Kami mendapat bibit itu atas kerjasama bayar setelah panen. Ternyata di tengah perjalanan ada ikan yang mati. Jadi kami ada tantangan itu karena otomatis tidak bisa bayar. Kami tidak putus asa dan bangkit menjadikan ini sebagai budidaya seperti sekarang ini," cerita Tison, .

Alasan lain pembuatan resto ini kata Tison sangatlah sederhana. Apa itu? Jika anda pergi ke restoran di kota maka yang anda makan adalah ikan yang sudah dibekukan. Namun jika anda memakannya di sini, ikan yang baru ditangkap di dalam keramba menjadi hidangannya.

"Lalu kenapa ada resto? Resto ini misinya itu kita kalau ke kota dan ke restoran, pembeli mendapatkan ikan yang tidak segar dalam artian ikan beku. Pertama kita ingin memilah-milah protein, kemudian ada yang daging dan ikan. Kemudian adalah kecenderungan orang Indonesia makan ikan ekspor dengan harga Rp 800-900 ribu seperti di Bali dan di sini kita jual Rp 150-300 ribu. Terjangkau bukan?" jelas Tison.

"Kami gandeng manajemen resto dengan budidaya ikan ini. Manajemen kita juga pengelolanya. Istilahnya budidaya yang reguler itu dia ada panen prematur dan panen total. Nah, bagaimana menjawab bagaimana panen total menunggu sampai 8-9 bulan dan prematur 4-6 bulan. Bagaimana mungkin persoalan kesejahteraan terjawab? Sehingga kita cari formula bagaimana kita bisa panen tiap hari. Akhirnya kita akumulasikan semua tadi dan ketemulah resto apung," imbuh dia.

Hingga saat ini resto apung yang dikelola oleh Tison dan kawan-kawan sudah memiliki sekitar 20 petak keramba. Pada awalnya resto apung hanya mempunyai petak keramba sederhana yang terbuat dari kayu dan tong plastik di bawahnya. Namun sekarang, jumlahnya seperti tadi setelah mendapat sumbangan dari salah satu perusahan petak keramba modern yang terbuat dari plastik.


(rii/jor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com