Ortu Beri Penjelasan Pilihan Anaknya Hingga Nilai Agama Kosong dan Tak Naik Kelas

Ortu Beri Penjelasan Pilihan Anaknya Hingga Nilai Agama Kosong dan Tak Naik Kelas

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 27 Jul 2016 14:48 WIB
Foto: Angling/detikcom
Semarang - SW (45), ibunda ZL siswa SMK N 7 Semarang memberi penjelasan tentang pilihan anaknya sehingga nilai agama kosong. Pilihan itu disadari konsekuensinya hingga bisa berakibat tak naik kelas.

Detikcom pada Selasa (26/7) bertandang ke rumah sederhana ZL di Kelurahan Pedurungan Tengah. SW, sang ibu menyambut baik dan ramah. Sayangnya ZL sang putra tak ada di rumah. Namun SW mau memberi penjelasan mengenai kasus anaknya.

Menurutnya putra keduanya di kelas X tidak bermasalah dengan pelajaran karena mengikuti mata pelajaran Agama Islam berupa teori.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kelas 1 (X) tidak masalah karena pelajar agama tidak bareng praktik Shalat Duha. Di kelas 2 (XI) pelajarannya bersamaan Salat Duha. Anak saya kan tidak meyakini, jadi tidak mau ikut. Kalau pelajaran teori ikut," kata SW.

Guru agama ZL sering memberikan nasihat dan memintanya agar salat. Namun sesuai keyakinannya, ZL tidak melakukannya karena memang menurutnya hal itu tidak bisa dipaksakan. Nilai Pendidikan Agama dan Budi Pekerti ZL pun kosong pada semester pertama.

"Semester 2 anak saya tetap kukuh dengan keyakinannya. Kata gurunya kalau tidak mau ikut tidak usah ikut pelajaran saya. Nah, anak saya di luar, to," ujarnya.

Sehari sebelumnya SW diminta bertemu bagian Bimbingan Konseling dan Kepala Sekolah. Ia kemudian diminta membuat pernyataan agar putranya mau ikut pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti secara keseluruhan. SW menolak karena untuk praktik, anaknya tidak bisa menjalankan karena beda keyakinan.

"Hari Jumat pas ambil raport, anak saya masih disuruh tanda tangan surat pernyataan, sampai lama itu, tetap tidak mau. Saya bilang sudah matur Kepsek, kenapa disodorkan lagi," katanya.

"Dikasih kesempatan naik tapi pindah sekolah. Kemudian ada SK dikasih, saya baca alasanya karena tidak mengikuti pelajaran Agama dan Budi Pekerti, saya tidak terima karena anak saya hanya tidak mengkuti Sholat. Kalau alasannya tidak mengikuti Sholat Duha malah saya terima," imbuhnya.

ZL diminta kembali menandatangani surat penyataan serupa tertanggal 21 Juli 2016. Saat itu SW tidak sedang berada di rumah. Setelah tahu tentang surat pernyataan tersebut, SW berusaha menariknya.

"Saya ke sekolah lagi. Saya bilang saya mau mencabut pernyataan itu," tegasnya.

SW sempat mengadu kepada Gubernur Ganjar Pranowo lewat SMS. Ternyata Ganjar menanggapi dan menanyakan keinginan SW untuk anaknya.

"Anak saya itu ya baik, budi pekertinya juga baik. Sederhana, dia berangkat sekolah naik sepeda padahal jaraknya jauh, suruh naik motor tidak mau. Saya SMS pak Ganjar dan ditanggapi, orangnya baik, tapi saya lupa SMS-nya gimana," pungkas SW.

"Anak saya masih ingin sekolah, seharusnya budi pekertinya juga bisa jadi bahan pertimbangan," imbuhnya.

Terpisah, ketua RT setempat, Sugiarto mengatakan keluarga ZL memang penghayat aliran kepercayaan, namun mereka terbuka dan kehidupan sosialnya baik. Sejak awal ayah ZL juga sudah mengatakan kepada warga kalau tidak bisa menghadiri jika ada undangan acara hajatan atau syukuran.

"Warga tidak masalah, tidak mengganggu, dan memang orangnya baik. Kalau ada kumpulan warga ya datang," ujarnya.

Ayah ZL juga selalu berkonsultasi dengan ketua RT termasuk ketika mengurus KK dan KTP. Ayah ZL sedang berusaha mengubah keterangan pada kolom agama yang selama ini tertulis agama Islam.

Saat ini, orang tua dan ZL masih menunggu keputusan pihak sekolah dan sementara ZL juga tidak masuk sekolah karena jika masuk, ia harus belajar di kelas XI lagi. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads