DetikNews
Sabtu 02 April 2016, 16:00 WIB

44 Rumah Rusak Akibat Gempa di Lombok, Begini Analisis BMKG

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
44 Rumah Rusak Akibat Gempa di Lombok, Begini Analisis BMKG Ilustrasi: Mindra Purnomo
Jakarta - Sebanyak 44 rumah rusak di Lombok Barat akibat gempa bumi tektonik berkekuatan 4,7 SR. Namun kerusakan rumah-rumah itu tidak sampai parah.

Menurut keterangan tertulis yang diterima detikcom, Sabtu (2/4/2016) gempa terjadi pada Kamis, 31 Maret 2016 pukul 16.34 WITA. Gempa dirasakan kuat oleh warga Dusun Malimbu dan Dusun Nipah, Desa Malaka, Pemenang, dan Kabupaten Lombok Utara.

Pusat gempa terletak pada koordinat 8,50 LS dan 116,06 BT. Titik pusat gempa terletak di pesisir Lombok Barat, atau berjarak 13 kilometer dari arah barat laut kota Mataram.

Penyebab rusaknya rumah-rumah yang di antaranya adalah Puskesmas itu adalah hiposenter gempa yang dangkal, yakni hanya 13 kilometer. Faktor kedua adalah karena material tanah setempat yang lunak. Penyebab selanjutnya adalah bangunan yang tak memiliki standar tahan gempa.

"Dengan kedalaman hiposenter gempabumi 13 kilometer maka berdasarkan analisis data parameter gempabumi dan parameter sesar yang ada, semakin mengokohkan kita bahwa gempa bumi ini memang akibat aktivitas sesar naik belakang busur kepulauan," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono.

Peristiwa gempabumi Lombok Barat ini, kata Daryono, mirip dengan peristiwa gempa bumi serupa yang terjadi 3 tahun lalu, yaitu pada 22 Juni 2013 dengan kekuatan M = 5,4 pada kedalaman hiposenter 10 kilometer. Pusat gempa saat itu terletak di koordinat 8,43 LS dan 116,04 BT dengan mekanisme sumber berupa sesar naik (thrust fault).

"Dampak dari peristiwa gempa bumi ini dilaporkan hampir seluruh wilayah Pulau Lombok merasakan guncang gempabumi hingga menyebabkan ratusan bangunan rumah mengalami kerusakan," tutur Daryono.

Posisi Pulau Lombok unik karena terkurung oleh dua sumber gempa bumi di selatan dan utara menjadikan Lombok sebagai kawasan seismik yang aktif dan kompleks. "Sehingga menarik untuk dilakukan studi gempa bumi," pungkas Daryono.
(bag/faj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed