DetikNews
Senin 07 Maret 2016, 08:23 WIB

Kisah Irwansyah: Dari Jual Martabak hingga Tiket Pesawat, Kini Wali Kota

Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
Kisah Irwansyah: Dari Jual Martabak hingga Tiket Pesawat, Kini Wali Kota Wali Kota Pangkalpinang Irwansyah (Foto: Dikhy Sasra)
Jakarta - Namanya Muhammad Irwansyah. Masih muda, pekerja keras, dan bersemangat. Pria 33 tahun ini pernah menjadi penjual martabak dan sales tiket pesawat sebelum menduduki kursi Wali Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Bagaimana ceritanya?

Saat datang ke kantor detikcom pekan lalu, Wawan—demikian Muhammad Irwansyah biasa dipanggil, didampingi 2 pemuda yang lebih mirip teman daripada ajudan. Wawan berkemeja putih, sedangkan 2 temannya berpakaian bebas.

"Silakan panggil apa aja. Pak Wawan boleh, Wawan juga boleh. Kalau nggak pakai seragam kayak gini, bukan wali kota," kata pria berkacamata ini enteng.

Wawan datang ke kantor detikcom karena selain silaturahmi juga penasaran. Tiap hari ia mengklik berita detikcom, tapi tak pernah tahu bagaimana proses dan orang-orang di baliknya. Padahal ia sering ke Jakarta. Ia juga ingin detikcom mengenal Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Bangka Belitung yang dipimpinnya.

Wawan menjadi wali kota sejak 2013. Dia mengalahkan 7 penantang. Pilkada digelar 2 putaran. Wawan dan pasangannya, M Sopian, sukses di tahap kedua dan berhak atas kursi wali kota dan wakil wali kota periode 2013-2018.

Saat berbicara, Wawan kerap menggunakan istilah 'lu gua'. Ternyata dia memang pernah tinggal tak jauh dari Jakarta, tepatnya di daerah Bintaro, Jakarta Selatan. Lebih dari itu, dia memiliki kenangan banting tulang jualan martabak Bangka.

"Kami mulai usaha satu gerobak dengan nama Martabak Sri Bunga di persimpangan Bintaro Permai Sektor 1 pada tahun 2002," kata Wawan.

Peminat martabak Sri Bunga banyak. Tak heran, dalam waktu 6 bulan, usaha berkembang. Cabang baru didirikan, yakni di Sektor 9, Sektor 5, depan RS Fatmawati, dan Alfa Bintaro.

"Saya turun langsung. Ini soal kualitas (martabak) dan service soalnya," ungkap Wawan sambil menambahkan, "Pernah tidak pegang, langsung drop penjualannya."

Tak hanya detikcom, dua teman Wawan ikut menyimak serius. Seluruh pandangan tertuju kepada orang nomor satu di Pemkot Pangkalpinang itu.

"Ini teman saya juga belum pernah dengar cerita ini," kata Wawan sambil tersenyum seolah tahu alasan dua staf mendengar lika-liku hidupnya.

Di tengah perkembangan pesat jualan martabak, tawaran datang dari Sriwijaya Air pada akhir 2003. Wawan tak menolak. Ia bergabung di bagian sales dan marketing. Intinya, jualan tiket. Saat itu, tiket pesawat tak didapat semudah sekarang. Belum ada sistem online. Wawan harus door to door agar targetnya tercapai.

"Sama-sama jualan, cuma beda produk. Sebelumnya martabak, ganti ke tiket pesawat," canda Wawan.

Pelan tapi pasti, karier Wawan menanjak. Pada tahun 2005, dia dipindahkan ke Palembang untuk pengembangan usaha Sriwijaya Air. Di sela pekerjaan, pria asli Bangka ini kembali berbisnis martabak. Kali ini bukan usaha sendiri, tapi franchise.

Tangan emas Wawan di bidang usaha terbukti. Martabak franchise itu sukses. "Pernah dalam satu hari omzetnya Rp 8 juta," kata lulusan Universitas Sjakhyatri Palembang ini.

Pada tahun 2007, di tengah pesatnya jualan martabak dan menjadi manajer Sriwijaya Air, Wawan mendapatkan peluang istimewa: mengoperasikan ground handling di Bandara Palembang. Dia didapuk menjadi direktur.

Kesibukan Wawan bertambah setelah diajak masuk PDIP. Suami Dessy Ayu Trisna ini diplot sebagai bendaraha PDIP Babel. Nah, pada tahun 2013, tiba-tiba dia diminta mencalonkan diri sebagai Wali Kota Pangkalpinang.

"Yang bener saja. Saya bilang begitu ke teman-teman partai. Sempat kaget juga. Tapi okelah, karena tidak perlu mengeluarkan uang (ke partai), saya mau. Saya mantapkan diri," aku Wawan.

Selain PDIP, Wawan diusung Hanura. Juga didukung PKS dan NasDem. Tapi dukungan ini tak otomatis membuat proses pencalonan gampang. Tak ada yang mau menjadi pendamping Wawan. Sebab, Wawan mengajukan syarat cukup berat, pendampingnya harus PNS, berpengalaman, dan sevisi.

"Susah nyari orang seperti itu. Akhirnya dapat camat," tutur Wawan sambil tertawa.

M Sopian, pendamping Wawan memang PNS murni. Pria 52 tahun itu malang melintang sebagai abdi negara dengan jabatan terakhir sebagai Camat Rangkui.

Wawan dan Sopian menghadapi 7 pasangan lawan kuat. Salah satunya adalah incumbent. Yang lain politikus dan pengusaha. Wawan dan pasangannya menang tipis.

Kini Wawan bekerja keras menata Pangkalpinang. Dia ingin kotanya menjadi magnet di sektor jasa dan pariwisata. Karena itu, banyak hal yang akan dibenahi.

"Kota dibenahi, pantai juga. Sekarang masih proses. Penginnya jadi Bali-nya kawasan Sumatera dan sekitarnya," kata Wawan.

Wawan enggan pamer berlebihan soal kotanya. Setelah 2 jam, dia pamit. "Silakan datang agar lebih tahu Pangkalpinang," kata pria berkulit putih ini sambil beruluk salam tanda perpisahan.
(trw/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed