detikNews
Kamis 04 Februari 2016, 20:02 WIB

Operasi Bakamla di Perairan Batam, Penyisiran Dilakukan di Selat Singapura

Dhani Irawan - detikNews
Operasi Bakamla di Perairan Batam, Penyisiran Dilakukan di Selat Singapura Foto: Dhani Irawan/detikcom
Batam - Kapal Negara (KN) 4801 Bintang Laut milik Badan Keamanan Laut (Bakamla) melancarkan operasi di perairan Batam. Penyisiran pun dilakukan di sekitar Selat Singapura hingga perairan Tanjung Balai Karimun yang sering digunakan sebagai jalur perlintasan.

Kapal Bakamla yang dengan arahan komandan Letnan Kolonel Maritim Faruq Dedy Subiantoro itu memulai operasi sejak pagi pukul 05.30 WIB dari Batam. Kapal diarahkan menyusuri Selat Singapura yang merupakan perlintasan kapal-kapal barang atau kargo.

"Ini perairan internasional. Jadi banyak kapal-kapal yang melintas di sini," kata Faruq saat berbincang dengan detikcom saat melakukan operasi, Kamis (4/2/2016).
Foto: Dhani Irawan

Kapal pertama yang dicegat oleh Bakamla yaitu Mitra Bahari di Selat Singapura. Kapal tersebut sempat tidak berhenti ketika diberi peringatan angin gauk.

Muatan kapal yang ditutup terpal kemudian dibuka untuk dilihat isinya serta untuk dicek apakah ada barang-barang yang mencurigakan. Selain itu, pengecekan muatan dengan surat-surat kapal pun dilakukan.

Saat pemeriksaan, seluruh anak buah kapal diminta untuk berkumpul di haluan sementara nahkoda akan diinterogasi mengenai kelengkapan kapal. Hal tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika petugas melakukan pemeriksaan muatan kapal.

Setelah dipastikan kelengkapan surat dan muatan tidak bermasalah, kapal tersebut diizinkan untuk kembali melintas. Kemudian KN 4801 kembali menyisir perairan hingga ke Selat Durian.

"Biasanya di lokasi ini juga cukup ramai. Banyak kapal-kapal yang melintas," kata Faruq.
Foto: Dhani Irawan

KN 4801 pun kembali memeriksa sebuah kapal bermuatan barang-barang campur. Kapal itu juga sempat tidak berhenti walaupun telah diberi peringatan angin gauk. Namun setelah dicek seluruh kelengkapannya, kapal tersebut tidak bermasalah.

"Prosedurnya seperti itu, bisa misal kita merapat ke kapal lain atau kapal itu kita minta merapat. Pemeriksaan pengecekan semua dilakukan. Kalau misal tidak ditemukan pelanggaran kita lepas. Kalau memang ada dugaan pelanggaran, kita bisa bawa ke pangkalan terdekat," ucap Faruq.



(dhn/Hbb)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com