DetikNews
Sabtu 30 Jan 2016, 03:21 WIB

Modus Sindikat Penjual Ginjal: Palsukan KTP dan Permak Korban Tampil Muda

Baban Gandapurnama - detikNews
Modus Sindikat Penjual Ginjal: Palsukan KTP dan Permak Korban Tampil Muda Foto: Ilustrasi oleh Basith Subastian
Bandung - Sindikat perdagangan organ tubuh manusia punya strategi guna memuluskan aksinya. Selain membidik warga miskin dan orang terjerat utang, para pelaku menyiapkan modus sedemikian rupa guna meyakini dokter dan pasien.

Salah satu korban, Edi Midun (39), membeberkan siasat jahat jaringan penjual ginjal yang kiprahnya sukses dibongkar Bareskrim Mabes Polri. Edi terpaksa menjual satu ginjal bagian kiri seharga Rp 70 juta lantaran harus melunasi utang. Dia menyadari perbuatan nekat tersebut tidak patut ditiru.

"KTP saya dipalsukan," kata Edi di rumahnya,Kampung Pangkalan, Desa Wangisagara, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/1/2016).

Para tersangka yaitu AG, DD dan HS, mengubah tahun kelahiran Edi. Tertera dalam KTP palsu itu Edi seolah-olah lahir pada 1986.

"Soalnya kan dokter atau pasien lebih memilih pedonor berusia muda, ya sekitar usia 20 tahunan," ucap Edi yang bekerja sebagai sopir angkutan barang.

Bapak empat anak ini tampang aslinya memang tak muda lagi. Ciri khasnya berkumis.

"Nah, sebelum dipoperasi, saya dipermak sama mereka (sindikat). Kumis harus dicukur. Rambut dipangkas rapi ala anak muda zaman sekarang," tuturnya.

Aksi penyamaran Edi atas perintah para pelaku berlangsung lancar. Dia berhasil mengelabui tim dokter dan pasien. "Bukan hanya saya, korban lain yang usianya kelihatan tua, mau enggak mau haru menyamar jadi muda," ujar Edi.

Lelaki berperawakan kurus tersebut menjalani operasi pengangkatan ginjal pada Oktober 2014 silam di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta Pusat. "Ginjal saya dibeli seorang pasien pria. Usia pasien itu sekitar 35 tahun," katanya.

Selain itu, Edi dipaksa berbohong oleh sindikat soal hubungan dia dengan pasien penerima donor ginjal. "Saya bilang ke dokter, saya ini mantan pegawai si pasein," ujarnya.

Berdalih membantu pasien demi kemanusian, para pelaku memanfaatkan korban yang nampak galau gara-gara faktor ekonomi. Iming-iming uang berlimpah memicu korban lupa logika. Tentu saja, faktor ketidaktahuan soal hukum menjadikan korban terjerumus mengkomersilkan ginjalnya.

Edi mengakui memperjual belikan organ tubuh merupakan tindakan negatif. "Saya ingatkan kepada masyarakat, kalau mengalami kesusahan, janganlah jual ginjal," kata Edi.


(bbn/khf)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed