detikNews
Senin 30 November 2015, 09:40 WIB

PT KAI Hapus Fasilitas 'Free Out' Penumpang KRL Pertengahan Desember

Yulida Medistiara - detikNews
PT KAI Hapus Fasilitas Free Out Penumpang KRL Pertengahan Desember Ilustrasi/Para penumpang mengantre di loket tiket Stasiun Palmerah, Jakarta, Senin (06/10). Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ) M N Fadhila mengatakan PT KCJ akan menghapus sistem free out ticketing pada pertengahan Desember 2015. Penghapusan dilakukan karena banyak penumpang yang menyalahgunakan aturan ini.

"Fasilitas ini ada yang menyalahgunakan sehingga dia menjadi free rider," ujar Dirut PT KCJ M N Fadhila di Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, Senin (30/11/2015).

Free out ticketing adalah fasilitas bagi penumpang untuk bisa masuk dan keluar di satu stasiun yang sama dengan durasi tidak lebih dari satu jam.

Sistem ini sebelumnya dibuat karena beberapa toilet ada di luar pintu masuk sehingga bila calon penumpang hendak ke toilet maka penumpang harus melewati pintu keluar terlebih dahulu.

Namun menurut Fadhila, fasilitas ini disalahgunakan dengan cara memanipulasi perjalanan kereta api. Berbagai modus dilakukan, misalnya apabila dua orang akan pergi ke suatu stasiun, orang pertama akan masuk dengan tapping (menempelkan) tiket di pintu masuk (gate in), kemudian menempelkan tiket elektronik tanpa orang pertama keluar (tapping out).

Dirut PT KCJ M N Fadhila /Foto: Yulida M


"Ini preseden buruk dan nanti dikhawatirkan akan bertambah walaupun datanya masih kecil kurang dari satu persen per 803.000-an penumpang, tapi nanti kita antisipasi, kita hapus karena ke depannya itu akan menjadi preseden buruk bagi tranaportasi moda," kata Fadhila.

Modus lain misalnya ada penumpang yang naik KRL jarak dekat dan jarak jauh menggunakan fasilitas free out ini. Hal itu bisa terjadi bila penumpang memiliki banyak kartu.

Dirut KCJ mengatakan hal ini bukan hanya bicara tentang kerugian akibat insiden ini. Namun, menurutnya hal ini dilakukan demi kenyamanan penumpang.

"Ini terjadi di beberapa stasiun, kalau misal masyarakat mau pakai commuter line kita anggap sebagai orang yang siap berangkat karena tidak perlu diantar saa yang mengantar jangan masuk ke area steril (peron, toilet)," imbuh Fadhila.
(fdn/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com