Anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI Ahmad Sanusi diminta responsnya soal keunggulan Ahok di survei SMRC. Sanusi awalnya mengatakan tingginya popularitas Ahok di survei tak menjamin kemenangan. Dia lalu masuk menyoroti rendahnya penyerapan anggaran di DKI.
"Tidak ada alasan tidak menyerap APBD. Di provinsi lain, bagaimana mencari anggaran supaya bisa membangun. Ini ada anggaran nggak bisa membangun," kata Sanusi kepada wartawan di Gedung DPRD DKI, Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (15/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak ada alasan. Kenapa? Pertama, musrenbang yang buat siapa? Ahok. e-Planning yang buat siapa? Ahok. e-Budgeting siapa? Ahok. e-Catalog siapa? Ahok. LKPP siapa? Ahok. Lalu kemudian yang assesment yang dibilang the right man in the right plus, lelang para pejabat siapa? Dia juga. Nggak ada alasan nggak terserap," ulas Sanusi.
"Kalau tidak terserap, berarti manajemennya bermasalah. Bagaimana lelang jabatan setiap tiga bulan pejabat diganti. Mau nggak presiden dinilai 30 hari, atau gubernur dinilai 30 hari? Bayangkan begitu mau lelang terus diganti, lalu bagaimana mau terserap," sambungnya.
Menurut Sanusi, manajemen kepemimpinan Ahok bermasalah. Ahok, masih menurutnya, kerap menimbulkan ketegangan di internal Pemprov DKI, sehingga kerja tak maksimal.
"Yang paling penting jadi pemimpin itu bukan hanya harus merasa bisa, tapi harus bisa merasa. Kalau pemimpin anda selalu merasa bisa, ya kita berantem. Ini yang penting itu pemimpin harus bisa merasa. Sedikit banyak pemimpin itu selalu merasa bisa, tapi nggak bisa merasa," ujar Sanusi. (tor/tor)