DetikNews
Kamis 15 Oktober 2015, 15:26 WIB

Laporan Dari Frankfurt Book Fair 2015

Filosofi dan Canda Komik Indonesia Ditampilkan ke Publik Jerman

Rachmadin Ismail - detikNews
Filosofi dan Canda Komik Indonesia Ditampilkan ke Publik Jerman Foto: Rachmadin Ismail
Frankfurt - Stan Island of Images di Paviliun Indonesia menarik perhatian pengunjung Franfurt Book Fair 2015. Ada cerita di balik pembuatan komik 'Mencari Kopi Aceh' dan kolaborasi spontan empat komikus dalam membuat karya sindiran yang lucu dan menggelitik.

Beng Rahadian, salah seorang pembuat komik top dari Indonesia mempresentasikan karyanya di depan pengunjung Frankfurt Book Fair 2015, Rabu (14/10/2015). Salah satu yang paling banyak dibahas adalah karya terakhirnya 'Mencari Kopi Aceh' yang diterjemahkan dalam bahasa Jerman menjadi 'auf der Suche nah Aceh Kaffe'.

Dikutip dari situs pribadinya, Beng menyebut dirinya sebagai seorang peminum kopi yang 'taat'. Tak heran, karya-karyanya banyak berkisah seputar kopi. Sebelum Mencari Kopi Aceh, dia sudah membuat komikstrip bertajuk '101 canda kopi'.

Saat presentasi, Beng lebih banyak ditanya soal alasannya menulis kopi Aceh. Salah seorang pengunjung menanyakan, kenapa kopi Aceh yang dipilih?

"Aceh bagi saya sangat menarik. Konfliknya unik, semua bisa redam di warung kopi. Warung kopi tempat netral," cerita Beng di lokasi pameran.

Selain itu, Beng penasaran dengan kopi Aceh yang selama ini mempunya reputasi sangat bagus di kalangan pecinta kopi. "Kopi Gayo enak, kopi Aceh selalu terdengar enak. Apa betul? saya ingin membuktikannya," imbuh Beng yang juga seorang pengajar di sekolah pembuatan komik ini.

Bagi Beng, komik bukan hanya sebuah media. Namun juga tempatnya untuk mengekspresikan suara. Komik juga memiliki kekuatan sebagai sarana kritik dan pendorong perubahan. Karena itu, dia kini sedang fokus bersama komunitas lain agar membuat komik lokal tetap eksis di tengah gempuran komik impor dari luar negeri.

"Saya ingin mengubah bahwa komik Indonesia, bisa dibeli oleh orang Indonesia sendiri," harapnya.

Canda dan Kritik dalam Komik

Empat pembuat komik handal asal Indonesia, Is Yuniarti, Aji Prasetyo, Karisma jati dan Muhammad 'Mice' Mirsad, unjuk kebolehan di arena Island of Images Paviliun Indonesia. Mereka membuat komik dadakan berdasarkan tema tertentu, secara bergantian.

Aji Prasetyo berkolaborasi dengan Is Yuniarto menghadirkan realita Pulau Nusa Kambangan. Mereka menyindir perihal suap di penjara paling menakutkan di Indonesia itu. Proses pembuatannya hanya memakan waktu beberapa menit saja. Namun isi komik sudah bisa bercerita banyak.

"Istilah halal tidak hanya berlaku untuk makanan, tapi juga uang di Indonesia. Apakah uang itu halal atau tidak? Apakah dari korupsi?" demikian penjelasan soal cerita komik tersebut.

Sementara Muhammad Misrad alias Mice dan Kharisma Jati berguyon kontrasnya suhu di Jakarta dan Frankfurt. Mereka membuat empat gambar dengan tokoh yang sama. Gambar pertama berisi orang bersarung sedang berada di Indonesia dan kepanasan, gambar kedua orang Indonesia di Frankfurt yang kedinginan dan berjaket tebal, gambar ketiga orang Indonesia berjaket tebal sedang kepanasan di Indonesia, gambar keempat orang Indonesia bersarung di Frankfurt yang menggigil kedinginan.

Salah satu pengunjung asal Jerman, Gisela Fischer mengungkapkan kekagumannya terhadap karya spontan mereka. "Saya terpukau, meski berasal dari genre berbeda, mereka bisa kompak menghasilkan ide yang segar," ucapnya.


(mad/faj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed