DetikNews
Selasa 29 September 2015, 17:05 WIB

Data dan Fakta Tentang 'Jalur Maut' Saketi-Bayah

Sudrajat - detikNews
Data dan Fakta Tentang Jalur Maut Saketi-Bayah Foto: Yayan Anjasmara
Jakarta - Pemerintah kolonial Belanda menemukan kandungan batu bara di Bayah, Banten Selatan, sejak 1903. Tapi, hingga awal 1940-an, temuan itu tak kunjung dieksplorasi hingga militer Jepang tiba pada Maret 1942. Demi memenuhi kebutuhan batu bara bagi kegiatan operasional kereta dan kapal-kapal perang mereka, Jepang nekat mengeksplorasi tambang batu bara di Bayah. Untuk memudahkan akses, Jepang membangun jalur kereta dari Saketi di Pandeglang ke Bayah sejauh 89 kilometer. Puluhan ribu tenaga kerja Indonesia dikerahkan lewat program romusa.

Berikut data dan fakta tentang jalur Saketi-Bayah, seperti dihimpun dari Unit Pusat Pelestarian Perawatan dan Desain Arsitektur PT KAI dan survei lapangan, akhir pekan lalu: 

- Militer Jepang terpikat oleh data temuan Belanda bahwa ada potensi tambang batu bara di wilayah Bayah, Banten Selatan. Tepatnya di sekitar Gunung Mandur, Pulau Manuk. Dari kajian Belanda, potensinya mencapai 20-30 juta ton, dengan ketebalan 80 cm. Data ini tercantum buku karya Jan de Bruin, Het Indische Spoor in Ooorlogstijd, terbitan Eindhoven: Uitgeverij Uquilair B.V, 2004

- Mulai Juli 1942, penguasa militer Jepang mengerahkan para ahli interniran Belanda untuk melakukan studi lapangan pembangunan jalur kereta api menuju kawasan tambang batu bara.

- Januari 1943, pembangunan jalur kereta api dimulai dari Stasiun Saketi dengan sistem membuka lahan, menyiapkan, kemudian menaruh balas, bantalan, dan memasang rel secara berjalan terus ke arah Bayah. Jalur Saketi-Bayah merupakan persimpangan dari jalur Rangkasbitung-Pandeglang-Saketi-Labuan, yang sudah lebih dulu dioperasikan pada 1906 oleh perusahaan kereta api Belanda, Staats Spoorwegen (SS).

- Semua tenaga kerja romusa dari Indonesia dikerahkan. Mereka sebagian besar berasal dari Yogyakarta serta Jawa Tengah, seperti Purworejo, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, dan Purwokerto. Mereka yang direkrut umumnya berasal dari kalangan masyarakat miskin di pedesaan dan berusia 14-30 tahun.

- Jalur Saketi-Bayah memiliki 20 jembatan dengan setiap ujungnya berstruktur batu. Dari Malingping hingga Bayah, jalur melintasi tepian Samudra Hindia dengan deburan ombaknya yang cukup besar.

- Di jalur ini ada tiga stasiun besar, yakni Saketi, Malingping, dan Bayah. Di luar itu ada 10 stasiun kecil atau halte, yakni di Cimanggu, Kaduhauk, Jasulang, Pasung, Kerta, Gintung, Cilangkahan, Sukahujan, Cihara, Panyawungan, Gunung Mandur.

- Bahan-bahan material menggunakan limpahan rel dari jalur pabrik gula di Jawa Tengah yang ditutup. Ada pula yang menggunakan bekas bongkaran jalur Pasoeroean Stoomtram Maatschppij (PsSM) sepanjang 19 kilometer.

- Tidak kurang 500 jiwa romusa melayang akibat perlakuan buruk tentara Jepang. Total sampai kira-kira 60 ribu romusa menjadi korban tewas selama pembangunan jalur tersebut, tidak termasuk korban meninggal di lokasi tambang batu bara.

- Jalur Saketi-Bayah merupakan jalur sepur tunggal, pada setiap stasiun atau halte dibuat menjadi jalur sepur ganda. Menggunakan tiang sninal handel dari kayu. Jalur ini mulai resmi beroperasi pada 1 April 1944 di bawah pengawasan militer Jepang.

- Pada 1 April 1944 diresmikan penggunaan lokomotif uap jenis BB106 yang berasal dari Staatspoorwegen

dok. detikTV


- Angkutan batu bara mencapai 300 ton setiap hari, sedangkan angkutan penumpang sebanyak 800 orang setiap hari, yang kebanyakan merupakan pekerja tambang batu bara. Mereka semua diangkut menggunakan 15 rangkaian kereta kelas III.

- Pada 1945-1946, jalur ini tetap beroperasi di bawah pengelolaan DKARI (Djawatan Kereta Api). Pada 1946-1947 jalur ini tidak aktif akibat situasi keamanan yang semakin kacau. Pada 1948 kembali beroperasi sampai Agresi Militer Belanda II. Operasi terakhir adalah 1951.

- Pada 1952 sempat diadakan penelitian untuk menghidupkan kembali jalur, tapi terpaksa dibatalkan karena tingginya biaya operasional, sedangkan pemasukan sangat minim.

- Sepanjang jalur Saketi-Bayah, akhir peran kereta api digantikan oleh bus Damri pada 1952-1953 sesuai dengan SK Menteri Perhubungan No. L 1/126 tanggal 21 Agustus 1952 tentang perizinan otobis, dan SK No L 1/3/2 tanggal 22 April 1953 tentang perizinan truk.

- Kini, nyaris tak banyak yang tersisa dari jalur Saketi-Bayah selain bekas badan jalur rel (roadbed), bekas fondasi jembatan, serta bekas fondasi emplasemen di beberapa tempat. Selebihnya lahan di sepanjang jalur ini telah diokupasi menjadi rumah-rumah penduduk, pasar, sekolah, area persawahan, hingga lapangan olahraga.



***

Tulisan selengkapnya bisa dibaca gratis di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 200, 28 September 2015). Edisi ini mengupas tuntas "Tragedi Mina Salah Siapa". Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, seperti rubrik Nasional "Menuju Bursa DKI Satu", Internasional "Setelah PM Lee", Ekonomi "Rizal Vs Lino", Gaya Hidup "Hijab di Australia Lebih Longgar, Lebih Kasual", rubrik Seni Hiburan dan review Film "The Intern", serta masih banyak artikel menarik lainnya.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi Pdf bisa di-download di www.majalah.detik.com. Gratis, selamat menikmati!!
(mad/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed