DetikNews
2015/09/29 15:20:28 WIB

Menengok 'Jalur Maut' Saketi-Bayah

Sudrajat - detikNews
Halaman 3 dari 3
Menengok Jalur Maut Saketi-Bayah Foto: Dikhy Sasra

Saat tiba di Bayah, majalah detik bersama rombongan Napak Tilas, yang berjumlah 50 orang, tak melihat lagi sisa bangunan bekas stasiun di sana. Area stasiun telah berubah menjadi lapangan sepak bola dan sekolah dari tingkat dasar hingga menengah atas. Permukiman warga pun umumnya sudah dibangun permanen. Dari jarak sekitar 200 meter, debur ombak Samudra Hindia jelas terdengar dan terlihat putih bergulung-gulung.

Jalur Rel mati (foto: Dikhy Sasra)


Di Malingping, pertengahan antara Saketi dan Bayah, pun kondisinya nyaris serupa. Yang tersisa di sana tinggal fondasi bekas peron stasiun dengan beberapa pohon kelapa tumbuh di sana. Sementara itu, sekeliling area bekas stasiun sudah sejak berpuluh tahun menjadi lahan persawahan.

Meski begitu, sejumlah tokoh masyarakat di sana menyampaikan harapan agar jalur kereta api Saketi-Bayah bisa diaktifkan kembali. Bukan sekadar untuk nostalgia, tapi memang bisa menjadi alternatif kendaraan yang lebih murah dan cepat ketimbang lewat jalan raya.

"Jadi, kalau bagi kami, sih, kunjungan Bapak-Ibu sekalian sebaiknya tidak sekadar napak tilas, tapi apa yang diperjuangkan setelah itu. Kami senang sekali bisa jalur ini bisa hidup lagi," kata Sekretaris Camat Bayah Ali Rachman.

Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, yang turut dalam rombongan Napak Tilas, menilai tuntutan semacam itu tidak berlebihan. Sebab, di dekat Pulau Manuk, Bayah, kini telah berdiri pabrik Semen Merah Putih, ada perkebunan sawit di jalur Saketi-Malingping, serta obyek wisata Sawarna sekitar 8 kilometer dari Bayah. "Reaktivasi jalur-jalur kereta api yang melintasi kawasan pedesaan seperti Saketi-Bayah ini pada gilirannya akan menghidupkan roda perekonomian di pedesaan," ujarnya.

Foto: Dikhy Sasra


Selain jalur Saketi-Bayah, masih ada jalur lintas Rangkasbitung-Labuan sejauh 56 kilometer, yang menurut Djoko mendesak untuk diaktifkan kembali. Dulu di jalur ini, puluhan kilogram ikan dari Labuan diangkut menuju Stasiun Tanah Abang, yang berjarak 129 km. Dari Tanah Abang, kereta biasanya mengangkut garam untuk keperluan pembuatan ikan asin di Labuan. Labuan sebagai penghasil ikan dapat menjadi pemasok konsumsi ikan bagi warga Jakarta.

Di jalur Rangkasbitung-Labuan terdapat Stasiun Pandeglang, Saketi, dan Menes. Kondisi stasiun tersebut masih berwujud bangunan, meski tidak seutuh seperti dulu.

"Dengan diaktifkannya jalur ini, dapat diteruskan ke lintas cabang dari Saketi ke Bayah sejauh 89 km," kata Djoko.

Di samping itu, di dekatnya sudah dikembangkan kawasan industri dan pariwisata Tanjung Lesung yang cukup terkenal. Selain rencana membangun jalan tol dari ruas Jakarta-Merak, tidak ada salahnya dibangun pula jalan rel dari Labuan atau Menes.

Tersedianya jalan rel menuju Tanjung Lesung cukup mendukung distribusi barang dan pengembangan pariwisata di Provinsi Banten. Dengan mengaktifkan jalan rel, ada alternatif mobilitas bagi warga selain melalui jalan raya.

Hanya, dalam Rancangan Induk Perkeretaapian Nasional yang disusun Departemen Perhubungan pada 2011, tidak dicantumkan jalur Saketi-Bayah untuk diaktifkan kembali. Rancangan itu hanya mencantumkan 12 jalur kereta api mati yang akan diaktifkan kembali, yaitu jalur Sukabumi-Cianjur-Padalarang, Cicalengka-Jatinangor-Tanjungsari, Cirebon-Kadipaten, Banjar-Cijulang, Purwokerto-Wonosobo, Kedungjati-Ambarawa, Jombang-Babat-Tuban, Kalisat-Panarukan, Semarang-Demak-Juana-Rembang, Madiun-Slahung, Sidoarjo-Tulangan-Tarik, dan Kamal-Sumenep.




========


Tulisan selengkapnya bisa dibaca gratis di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 200, 28 September 2015). Edisi ini mengupas tuntas "Tragedi Mina Salah Siapa". Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, seperti rubrik Nasional "Menuju Bursa DKI Satu", Internasional "Setelah PM Lee", Ekonomi "Rizal Vs Lino", Gaya Hidup "Hijab di Australia Lebih Longgar, Lebih Kasual", rubrik Seni Hiburan dan review Film "The Intern", serta masih banyak artikel menarik lainnya.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi Pdf bisa di-download di www.majalah.detik.com. Gratis, selamat menikmati!!
(mad/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed