DetikNews
Senin 31 Agustus 2015, 17:15 WIB

Cerita Tentang Tembong Agung, Kerajaan yang Jadi Nama Waduk Jatigede

Erna Mardiana - detikNews
Cerita Tentang Tembong Agung, Kerajaan yang Jadi Nama Waduk Jatigede Foto: Rengga Sancaya
Bandung - Waduk Jatigede resmi digenangi hari ini, Senin (31/8/2015). Proyek raksasa yang direncanakan 50 tahun lalu itu, diusulkan diganti namanya menjadi Waduk Tembong Agung.

"Usulan penggantian nama untuk menghormati kerajaan yang pernah berdiri di sini, kerajaan Tembong Agung," ujar Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat peresmian penggenangan waduk Jatigede dimulai.

Dari berbagai referensi yang ditelusuri, cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedanglarang berawal dari kerajaan Tembong Agung pada abad ke-12. Kerajaan itu didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih pada Tahun 900 Masehi, seorang resi dari Kerajaan Galuh. Kerajaan itu berada di salah satu desa yang tergenang yaitu Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja. Arti nama kerajaan itu Tampak Luhur.



Dikisahkan nama Sumedang muncul saat Prabu Tadjimalela, anak dari Guru Aji Putih yang meneruskan kekuasaan ayahnya. Ia dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang Larang. Saat kepemimpinan Prabu Tadjimalela Tembong Agung sempat diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam.

Ia kerap bertapa. Hingga suatu ketika usai bertapa, ia melihat kilatan cahaya selama beberapa malam, dan Prabu Tadjimalela berucap "Insun medal insul madangan" yang artinya "aku lahir, aku menerangi". Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang.

Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandinganya.

Prabu Tadjimalela mempunyai tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun. Anak pertama dan keduanya tidak ada yang mau menjadi raja, meneruskan kekuasaannya. Akhirnya sang raja pun memerintahkan kedua anaknya Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung pergi ke Gunung Nurmala, yang saat ini disebut Gunung Sangkanjaya.

Hal itu merupakan ujian keduanya. Prabu Lembung Agung dan Prabu Gajah Agung harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda. Siapapun yang kalah, berarti dialah yang akan menjadi raja. Konon dikisahkan, Prabu Gajah Agung tak kuasa menahan dahaga dan akhirnya membelah kelapa muda atau dawegan. Ia diperintahkan memimpin Kerajaan Sumedang Larang, namun mencari lagi ibukota sendiri. Ia memilih Ciguling.



Setelah Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan para keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Kerajaan Sumedang Larang mencapai puncak kejayaaannya di masa kepemimpinan keturunannya, Pangeran Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun, abad ke-16. Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).
(err/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed