DetikNews
Kamis 30 Juli 2015, 11:02 WIB

Jelang Muktamar Ke-33 NU

Duet Rais Aam dan Ketum PBNU dari Masa ke Masa

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Duet Rais Aam dan Ketum PBNU dari Masa ke Masa Foto: Situs Resmi NU
Jakarta - Kepengurusan Nahdlatul Ulama sedikit berbeda dengan kebanyakan organisasi masyarakat lainnya dengan keberadaan seorang Rais Aam dan seorang Ketua Umum atau Ketua Tanfidziyah. Pada Muktamar ke-33 yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur mendatang sekaligus memilih duet dari Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk periode 2015 - 2020.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber oleh detikcom, Kamis (30/7/2015) hingga saat ini NU telah berganti 9 Rais Aam, dua di antaranya merupakan pejabat sementara (Pjs). Sementara untuk Ketua Umum PBNU sudah berganti 5 kali.

Rais Aam pertama adalah juga pendiri NU yakni KH Hasyim Asy'ari (1875 - 1947), dia juga dipanggil dengan sebutan Hadratus Syeikh atau maha guru oleh para santrinya. Dibesarkan di pesantren Gedang, Jombang, Jawa Timur yang diasuh oleh kakeknya yakni Kyai Utsman. Ayahnya, Kyai Asy'ari, juga memberikan ilmu dasar-dasar agama kepada Hadratus Syeikh.

KH Hasyim Asy'ari telah menuliskan berbagai buku atau kitab yang menjadi acuan dari NU. Salah satunya adalah kitab Ahlis-sunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang hingga kini menjadi ciri khas ajaran Islam di NU.

Di masa awal NU tahun 1926, KH Hasyim berduet dengan KH Hasan Gipo atau Hasan Basri. KH Hasan yang berdarah Arab (bermarga Sagipoddin, -red) itu merupakan saudagar dan juga kerabat dari Sunan Ampel. KH Hasan Gipo bisa dibilang amat mampu di bidang ekonomi pada masa itu, dia berlatar pesantren dan juga pernah mengenyam pendidikan umum (saat itu masih bernuansa Belanda, -red).

KH Hasyim Asy'ari wafat pada tahun 1947 dan digantikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah yang aktif berdakwah lewat surat kabar 'Soeara Nahdlatul Oelama' dan 'Berita Nahdlatul Ulama'. Dia ikut mendirikan kedua media massa tersebut. KH Wahab juga sempat menimba ilmu ke Mekah, Arab Saudi dengan berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani.

KH Wahab berduet dengan KH Hasan Gipo sampai tahun 1952. Ketum PBNU kemudian diganti oleh KH Idham Khalid yang berasal dari Kalimantan Selatan. KH Idham Khalid merupakan politisi terpandang pada masa Presiden Sukarno dan menjabat sebagai Wakil PM Republik Indonesia Serikat di kabinet Ali Sostroamidjojo II (1956-1957) dan kabinet Djuanda (1957-1959).

KH Idham Khalid cukup lama menjabat sebagai Ketum PBNU, dari 1952 hingga 1984. Dirinya bahkan sempat 3 kali berduet dengan Rais Aam yang berbeda.

KH Wahab digantikan oleh KH Bisri Syansuri yang juga aktif berpolitik dengan menjadi Ketua Majelis Syuro PPP. Kepemimpinan KH Bisri sebagai Rais Aam dimulai tahun 1971 dan berakhir pada 1980. Selanjutnya tampuk kepemimpinan Rais Aam berpindah ke KH Muhammad Ali Maksum hingga tahun 1984.

KH Ali Maksum merupakan pengasuh Pesantren Krapyak yang sangat perhatian kepada santri-santrinya. Pada tahun 1984 KH Ali Maksum digantikan oleh KH Achmad Muhammad Hasan Siddiq yang berduet dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kepemimpinan Gus Dur sebagai Ketum PBNU juga cukup lama yakni sejak tahun 1984 hingga tahun 1999. Jabatannya berakhir ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden ke-4 RI. Gus Dur juga aktif menyampaikanpandangan politik lewat surat kabar pada masa orde baru.

Sepeninggalan KH Achmad Hasan tahun 1991, Rais Aam dipimpin oleh pejabat sementara yakni KH Ali Yafie. Hakim Pengadilan Agama Ujung Pandang itu menjabat Rais Aam selama satu tahun.

Rais Aam kemudian dijabat oleh KH Mohammad Ilyas Ruhiyat sampai dengan tahun 1999. Duet kepemimpinan NU kemudian berganti Rais Aam KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz dan Ketum PBNU KH Hasyim Muzadi.

KH Sahal yang terpandang di NU itu wafat pada tahun 2013 dan digantikan pejabat sementara yakni KH Mustofa Bisri. Sementara kepemimpinan KH Hasyim Muzadi berakhir tahun 2010 pada Muktamar ke-32 dan digantikan oleh KH Said Aqil Siroj hingga kini.
(bag/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed