"Informasinya, pengungsi yang pencari suaka bisa tinggal di mana aja termasuk di sini (Kalibata City) selama dia nggak bekerja," ungkap salah seorang korban pelecehan Hussein, E, saat berbincang dengan detikcom di Kalibata City, Jaksel, Jumat (26/6/2015).
Sebagai imigran yang tidak memiliki pekerjaan dan menjadi tanggungan, Hussein memiliki cukup banyak uang. Hal tersebut yang membuat E heran. Pasalnya saat digeledah di Polda Metro Jaya ketika E membuat laporan, Hussein membawa uang dollar dan rupiah yang cukup banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada cincin-cincin juga, banyak batu-batu akik itu di tas slempangnya. Katanya nggak punya uang," imbuh wanita asal Solo itu.
Berdasarkan informasi yang didapat E, Hussein merupakan penghuni tower Damar di Kalibata City. Ia diketahui ingin pindah ke tower Raflesia yang merupakan apartemen untuk kelas menengah ke atas.
"Jadi pas kejadian dia bilang ke security mau ketemu orang di tower Kemuning. Saya suruh hubungi orangnya tapi kata orang di lantai yang dimaksud, orang itu bilang nggak ada janji sama siapa-siapa hari itu. Orangnya juga lagi ada di kantor. Berarti Husseinnya bohong kan," tutur E.
Hussein yang berusaha membela diri lalu menghubungi salah seorang temannya bernama Ira. Menurut pengakuan Ira kepada E, Hussein bermaksud menyewa apartemen milik kakak iparnya. Ira ini sempat diminta datang ke Polda Metro Jaya untuk menjadi penerjemah sebab Hussein kurang menguasai bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
"Dia (Ira) bilangnya Hussein mau sewa di unit tempat kakaknya. Ira minta saya maafin aja karena dia nggak mau berurusan dengan banyak pihak. Saya nggak mau, lagian saya nggak ada urusan sama si Ira ini," ucap E.
E merasa Hussein perlu mendapat pelajaran sebab 2 hari sebelum melakukan pelecehan terhadap dirinya, pria yang memiliki parut di wajahnya itu juga melakukan pelecehan terhadap wanita lain di Kalibata City. Kejadian tersebut terekam melalui CCTV.
Menurut sejumlah penghuni, di Kalibata City memang terdapat banyak pengungsi dari Timur Tengah. Kehadiran mereka dinilai cukup meresahkan.
"Memang banyak di sini, cerita soal pelecehan dari orang-orang Timur Tengah juga udah banyak. Mereka kadang suka tidur-tidur di taman, mungkin karena di kamarnya sudah sempit. Saya pernah lihat ada dari mereka 3 hari nggak ganti baju. Tapi ada juga yang bersih-bersih,"Β terang seorang pria penghuni Kalibata City yang enggan disebutkan namanya.
Menurut penghuni ini, sekitar setahun yang lalu pihak imigrasi melakukan sweeping terhadap para imigran dari Timur Tengah yang ada di Kalibata City. Hal tersebut lantaran para imigran tersebut dianggap meresahkan.
"Ada kali 2 mobil elf yang sweeping mereka. Pernah ada rombongan dari Timur Tengah yang tinggal di sebelah unit saya. Mereka suka buka pintu kamarnya, kalau ngomong teriak-teriak. Merokok terus sering banyak botol-botol bir dia taruh di depan kamarnya. Agak ganggu ya," tutup pria berkacamata itu.
Cerita di atas dibenarkan oleh Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti. Menurutnya, ada orang-orang yang bermodus pengungsi agar dilindungi UNHCR agar ketika masuk ke dalam suatu negara mendapatkan privilage tanpa paspor. Namun kadang mereka membuat ulah.
"Kemudian negara mendapatkan pengungsi seperti itu mendapatkan kewajiban melayani karena ini menjadi konvensi. Selain itu ada orang yang bermoduskan pengungsi padahal mereka imigran gelap dan ilegal dan ini salah satu terjadi, dia tidak memiliki kelengkapan dokumen dan dia berkeliaran," jelas Krishna.
(mad/mad)