DetikNews
Selasa 16 Desember 2014, 07:39 WIB

Cerita Makam Keramat di Sumedang yang Terancam Tergenang Waduk Jatigede

- detikNews
Cerita Makam Keramat di Sumedang yang Terancam Tergenang Waduk Jatigede
Sumedang -

Problematik mematik polemik berkaitan pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Selain sengkarut ganti rugi lahan dan relokasi warga, satu masalah mencuat soal bertebaran situs cagar budaya yang mayoritas berupa makam leluhur Sumedang. Makam yang dikeramatkan warga itu terancam tergenang lantaran berada di zona genangan bendungan.

Balai Pengelolaan Keperbukalaan Sejarah dan Nilai Tradisi (BPKSNT) Disparbud Jabar mencatat sebanyak 48 situs cagar budaya terkena dampak pembangunan bendungan raksasa Jatigede. Jumlah tersebut terdiri 33 situs akan terendam dan 25 situs tak tenggelam. Data 33 situs yang bakal tergenang, BPKSNT memetakan 30 direlokasi dan 3 tidak direlokasi.

Proses secara bertahap, sejak 2009 hingga 2013, sudah 15 situs berhasil dipindahkan. "Hingga kini yang belum direlokasi atau ditangani sebanyak 15 situs," ucap Kasi Keperbukalaan BPKSNT Disparbud Jabar Ayie Atikah sewaktu berbincang bersama detikcom, akhir pekan lalu.

Sebaran situs peninggalan zaman prasejarah dan sejarah ini berlokasi di empat kecamatan yakni Kecamatan Darmaraja, Jatigede, Wado, dan Cisitu.

"Ada makam leluhur serta pemuka agama Islam dan sesepuh desa. Daerah paling banyak situs berada di Darmaraja," ujar Ayie.

Bentuk dan formasi makam keramat di tiap wilayah tersebut mencerminkan penyerapan budaya megalitikum. Karakteristik seperti itu terlihat berdasarkan penggunaan menhir atau batu tegak sebagai nisan dan wujud struktur bangunan makam menyerupai punden berundak.

Situs bersejarah yang tersohor yaitu makam leluhur Prabu Aji Putih di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja. Konon, Prabu Aji Putih ialah raja pertama Kerajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang.

"Makam (Prabu Aji Putih) kalau tenggelam, maka riwayat Sumedang pareum (mati). Jangan direlokasi," ucap Ahdiyat (62), kuncen makam Prabu Aji Putih, kepada detikcom di Sumedang.

Waduk Jatigede yang membendung aliran Sungai Cimanuk itu dicap terbesar kedua di Indonesia. Luas lahannya 4.983 hektare dan luas genangan 4.402 hektare. Proyek pembangunan berlangsung sejak 1988, tahap konstruksi bergulir pada 2007.

Fungsi Waduk Jatigede antara lain guna penyedia air bersih, pengairan area persawahan, serta sumber tenaga penggerak turbin untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air. Pemerintah sempat menargetkan bendungan raksasa ini diisi air jelang pamungkas 2014, namun nyatanya ambisi tersebut belum terwujud lantaran menunggu Perpres.

Meski begitu, wajar situasi masih begejolak karena sejumlah warga di area genangan Waduk Jatigede kekeuh menolak makam keramat dipindahkan. Mereka tak rela akar sejarah dan warisan budaya 'terkubur' air gara-gara dampak pembangunan Waduk Jatigede.

"Masih kuat tradisi budaya di daerah sini," ucap Eman Suherman, salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Darmaraja, sewaktu ditemui di kediamannya, Desa Tarunajaya, Sumedang.

"Nilai sakral dan menghormati tokoh sejarah itulah menjadikan makam-makam dikeramatkan penduduk setempat dan warga luar daerah," tutur mantan Kades Tarunajaya periode 2003-2008 tersebut menambahkan.

Soal pemindahan situs cagar budaya, instansi terkait menunggu keputusan masyarakat setempat. "Ketika ingin segera relokasi, kita siap. Kita menyiapkan tenaga ahli untuk relokasi (makam) ke lokasi yang aman atau tidak tergenang," ujar Kepala BPKSNT Disparbud Jabar Agus Hanafiah via telepon.

  • Cerita Makam Keramat di Sumedang yang Terancam Tergenang Waduk Jatigede
  • Cerita Makam Keramat di Sumedang yang Terancam Tergenang Waduk Jatigede
  • Cerita Makam Keramat di Sumedang yang Terancam Tergenang Waduk Jatigede

(bbn/ndr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed