DetikNews
Selasa 01 Juli 2014, 13:12 WIB

Wiji Thukul di Mata Sahabat: Si Cadel yang ingin Banyak Tahu

- detikNews
Wiji Thukul di Mata Sahabat: Si Cadel yang ingin Banyak Tahu
Solo - Namanya baru dikenal di kalangan terbatas ketika pada dekade 80-an, pemuda miskin asal Jagalan, Solo, bernama Wiji Widodo atau yang kemudian akrab dipanggil Wiji Thukul Wijaya mengawali kegiatan sastra di Solo. Kekuatan puitika dari lelaki yang tak lulus SLTA tersebut justru pada kesederhaan ucap dan tema-tema karya yang ditulisnya.

Adalah Halim HD, seorang pekerja jaringan seni dan kebudayaan, yang 'menemukan' Wiji Thukul sekitar akhir dekade 70-an. Thukul saat itu adalah anggota dari Grup Teater 'Sarang Jagat' pimpinan Cempe Wisesa Lawuwarta, eks anggota Bengkel Teater Rendra. Jagat diambil dari akronim Jagalan Tengah, lokasi sanggar teater tersebut.

"Saat itu saya baru saja tinggal di Solo, tapi saya sudah kenal Lawu cukup lama sebelumnya di Yogya. Dari banyak anak buah Lawu, Jikul (sapaan akrab seniman Solo kepada Wiji Thukul -red) memang lebih terlihat punya rasa ingin tahu yang lebih. Dia sangat sering datang ke kontrakan saya untuk meminjam buku dan menanyakan banyak dengan kebiasaan dan kondisinya yang membuat saya sering kewalahan," ujar Halim.

Yang disebut kebiasaan dan kondisi itu, menurut Halim adalah, karena Thukul selalu berkomunikasi dengan bahasa Jawa kebanyakan padahal Halim yang berasal dari Banten seringkali kurang bisa memahami bahasa Jawa kasar. Selain itu kondisi Thukul yang cadel sangat parah, sehingga seringkali apa yang diucapkan Thukul benar-benar tak dipahami Halim.

Namun melihat kegigihannya, Halim punya cara sendiri untuk memacu kemampuan Thukul. Setiap Thukul datang meminjam buku, Halim yang memiliki koleksi ratusan buah buku selalu melarang Thukul meminjam buku-buku teori sastra atau seni. Thukul sering dipinjami buku-buku pemikiran tokoh-tokoh besar, novel-vovel satrawan besar, dan majalah-majalah terkemuka saat itu. Thukul hanya boleh meminjam 2 buah buku sekali pinjam dan paling lama meminjam 2 pekan.

"Harapan saya adalah untuk memacu dia membaca, bukan hanya sekedar meminjam. Rupanya kiat saya ini behasil. Jikul punya disiplin membaca yang baik. Setiap dua pekan dia selalu datang mengembalikan buku dan meminjam buku yang lainnya," kata Halim.

Persahatan keduanya semakin akrab ketika kemudian Halim pindah kontrakan di dekat rumah Thukul. Lalu keduanya mengelola rumah kontrakan itu sebagai ruang belajar, ruang membaca, dan ruang bagi anak-anak kampung untuk bermain. Rumah kontrakan itu diberi nama 'Sanggar Suka Banjir', sebagai sindiran karena kawasan tersebut merupakan lokasi langganan banjir. Bahkan ketika masa awal menjalani rumah tangga, Thukul dan istrinya juga ikut tinggal di rumah tersebut.

Setelah itu Halim mendorong Thukul untuk menuliskan semua yang dia terima dari pengalaman-pengalaman barunya. Tak cuma itu, Halim juga sering mengajak Thukul setiap bertemu tokoh-tokoh seni dan berkunjung ke kota-kota lain untuk menghadiri diskusi atau pentas seni. Dari Halim, Thukul bisa mengenal Emha Ainun Nadjib, Arief Budiman, Ariel Haryanto, dan lain-lainnya.

"Tulisan Jikul menjadi menarik. Dia tidak menulis layaknya kebanyakan sastrawan yang katanya suka menunggu ilham. Dia menulis dari hasil riset ala Jikul dengan mengamati lingkungannya lalu melakukan pelacakan, mereflesikannya hingga memunculkan kesimpulan. Dia tidak bersastra dengan bahasa ucap adiluhung. Dia mengambil bahasa jalanan bahkan dengan arikulasi bahasa lisan. Lama-lama dia mampu menguasai itu menjadi gaya dia dalam menulis," lanjut Halim.

Thukul saat itu mulai sering aktif membacakan puisi-puisinya di berbagai kantong kesenian di Solo. Dari sanggar ke sanggar, dari forum diskusi ke forum diskusi. Keluguan dan kesederhanaan ucap Thukul dalam diksinya, menjadi kekuatan tersendiri. Bahkan beberapa kali mulai mendapat undangan baca puisi di luar kota Solo.

Karya-karya awalnya kemudian diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta. Dalam cover antologi (kumpulan puisi) itu tertulis judul antologi 'Puisi Pelo' oleh Thukul Wijaya, yang diterbitkan pada Januari 1984. Dalam kumpulan itu Thukul banyak menulis lingkungan sekitarnya. Menulis tentang ayahnya sebagai pengayuh becak, menulis tentang profesinya sebagai tukang pelitur mebel, menulis tentang para tetangganya, dan pengamalannya tidak lulus SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) karena tidak ada biaya.

"Saat itu Jikul hadir memberikan penyegaran tersendiri, ketika pada masa-masa itu kecenderungan puisi masih banyak terpengaruh metafora-metafora lama dan kuatnya pengaruh gaya Abdul Hadi WM yang benapas sastra sufistik. Jikul hadir dengan bahasa keseharian, sederhana dan menampilkan kritik sosial ala Thukul yang lugu dan menyampaikan kesegaran dalam memandang kehidupan sosial ala pemuda kota dari kalangan pinggiran," ujar Wijang Wharek, penyair asal Solo.

Penilaian lain juga disampaikan oleh Sosiawan Leak, penyair Solo yang sangat akrab dengan Thukul. Menurut Leak, fenomema Wiji Thukul sering terjadi dalam dunia kreatif karena terdorong oleh kejujuran sikap. Karya puisi yang mampu 'menyihir' memori kolektif publik adalah karya yang berangkat dari kejujuran sikap. Karya-karya awal Thukul lebih banyak mendapat tempat di hati publik karena saat itu Thukul berkarya dengan steril dan memilih diksi dengan jujur.

"Greget karyanya lebih nampak ketika awal berkarya. Ketika dia sudah menjadi partisan karyanya menjadi kurang ada pendalaman. Pada awal-awal kemunculannya Thukul juga sering kok menggunakan istilah-istilah layaknya 'penyair-penyair bunga'. Saya ingat betul ketika sama-sama awal berkarya dulu, Jikul pernah mengatakan 'penyair adalah pertapa yang agung'. Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa pandangan Jikul terhadap penyair saat itu belum sedemikian radikal," ujar Leak.

Nama Wiji Thukul kembali menjadi perbincangan setelah mantan pentolan PRD yang kini staf khusus Presiden SBY, Andi Arief, menyebut bahwa Thukul tidak ditangkap dan masih hidup. Tapi di mana rimbanya sekarang, Andi tidak tahu.



  • Wiji Thukul di Mata Sahabat: Si Cadel yang ingin Banyak Tahu
  • Wiji Thukul di Mata Sahabat: Si Cadel yang ingin Banyak Tahu

(mbr/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed