detikNews
Kamis 25 Juli 2013, 02:04 WIB

Penyu Hijau di Kepulauan Derawan Kian Langka Diduga Akibat Perburuan Liar

- detikNews
Penyu Hijau di Kepulauan Derawan Kian Langka Diduga Akibat Perburuan Liar dok detikcom
Samarinda, - Populasi Penyu Hijau (Chelonia Mydas) di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), kian menyusut diduga akibat perburuan liar kapal nelayan yang menebar pukat di area konservasi salah satu satwa langka di dunia itu.

Kapal nelayan berbadan besar yang menebar jaring pukat di sekitar Pulau Sangalaki dan Pulau Semama, tidak hanya mengancam kelangsungan populasi penyu, namun juga mengancam kelangsungan biota di bawah permukaan laut.

\\\"Kedua pulau itu memang menjadi kawasan pakan penyu. Juga terdapat biota laut lainnya seperti terumbu karang dan ikan,\\\" kata Project Coordinator WWF Indonesia-Berau untuk Program Penyu, Rusli Andar, dalam perbincangan bersama detikcom di ujung telepon, Rabu (24\/7\/2013) malam.

Peristiwa penangkapan 2 kapal nelayan berbadan besar asal Jakarta oleh warga dan tim gabungan TNI AL, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Berau dan kepolisian pada Senin (22\/7\/2013) lalu, bukan kali pertama terjadi di perairan Kepulauan Derawan.

\\\"Tahun 2010 pernah ada kapal nelayan berbadan besar, juga menebar pukat di area pakan penyu yang juga terdapat banyak ikan. Pukat itu seharusnya ditebar di laut lepas, bukan di area konservasi penyu,\\\" ujar Rusli.

\\\"Karena keberadaan kapal itu di areal konservasi penyu, kemungkinan mereka sudah tahu. Karena di wilayah itu banyak ikan dan penyu keluar masuk mencari makanan,\\\" tambahnya.

Dalam penelitian WWF, sambung Rusli, sejak tahun 2007 lalu, penyu yang keluar masuk mencari makanan di Pulau Sangalaki dan Pulau Semama, berkisar 90-100 ekor. Namun beberapa tahun terakhir, pemandangan penyu mencari makan sulit ditemukan.

\\\"Beberapa tahun terakhir ini sejak 2007, penyu yang cari makan bisa dihitung, berkurang sekitar 75 persen populasinya dari sekitar 90-100 ekor,\\\" terang Rusli.

\\\"Sekarang susah mencari penyu dewasa yang sedang makan meskipun lokasi mereka sudah kita beri tanda khusus sebagai wilayah pakan penyu. Tidak tahu kemana mereka (penyu),\\\" ungkapnya.

Berkurangnya populasi penyu diduga akibat penebaran pukat yang tidak ramah lingkungan. Penyu sendiri, menurut Rusli, memiliki pangsa pasar cukup besar. Nelayan diduga kuat mengincar Plastron atau bagian dada penyu yang memiliki nilai jual tinggi.

\\\"Dari informasi yang kita peroleh, bahwa daging penyu itu dikonsumsi untuk kesehatan. Di sejumlah wilayah di Indonesia, 1 ekor penyu bisa dijual Rp 3-5 juta. Semakin besar penyu, semakin mahal,\\\" jelasnya.

Masih menurut Rusli, dunia sendiri sudah menjadikan satwa penyu sebagai satwa langka di dunia, dimana Penyu masuk dalam Convention International Trade Endangered Species (CITES) yang harus dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan karena masuk dalam daftar Apendik I yang terancam punah.

\\\"Melaui pemerintah sendiri, penyu juga dilindungi berdasarkan UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam yang diperkuat oleh PP No 07 dan No 08 Tahun 1999,\\\" sebut Rusli lagi.

\\\"Pengawasan laut terutama yang menjadi area konservasi penyu yang tidak terlalu ketat, diduga menjadi potensi nelayan untuk menjerat ikan dan penyu di sekitar kepulauan Derawan, dengan pukat,\\\" tutupnya.

Seperti diberitakan, 2 kapal nelayan asal Jakarta, ditangkap petugas gabungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) serta petugas TNI AL, di sekitar perairan laut Kepulauan Derawan, Berau, Kaltim, Senin (22\/7\/2013).

Kedua kapal itu menebar jaring pukat di daerah konservasi penyu, sekitar perairan pulau Sangalaki dan Pulau Semama. Pulau Sangalaki itu sendiri saat ini menjadi base camp Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim untuk pelestarian penyu.




(mpr/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com