DetikNews
Jumat 06 Agustus 2004, 17:01 WIB

Mahasiswa Yogya Bakar Bendera AS dan Inggris

- detikNews
Yogyakarta - Sekitar 150 mahasiswa Yogyakarta dari berbagai elemen yang tergabungan dalam Gerakan Rakyat Anti Imperalisme (Geram) menggelar aksi menolak intervensi asing.Dalam aksi itu mahasiswa sempat melakukan pembakaran bendera Amerika Serikat dan Inggris yang dianggap sebagai simbol kekuatan asing.Aksi yang digelar hari ini Jumat (6\/8\/2004) pukul 13.30 WIB itu dimulai dari depan tangga masjid Jami kampus IAIN Sunan Kalijaga di Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta. Di depan tangga masjid sebelum melakukan orasi salah seorang mahasiswa sempat membakar sebuah ban bekas sambil meneriakkan yel-yel anti asing dan bubarkan WTO, Bank Dunia dan IMF.Satu buah spanduk warna hitam berukuran 2,5x 2 meter dibentangkan di depan barisan bertuliskan \\\"Usir Amerika dari Bumi Indonesia.\\\" Beberapa poster yang dibawa di antaranya bertuliskan \\\"Anti Imperalisme, Bubarkan IMF, WTO dan PBB, Indonesia Merdeka 100 %, Awas Freeport, Exxon Mobile, Newmont adalah Penjajah Baru\\\".Sebelum melakukan longmarch dari kampus IAIN menuju perempatan Tugu Yogyakarta di Jl Sudirman, mahasiswa sempat melakukan aksi pembakaran bendera AS dan Inggris di pertigaan Jl Laksda Adisucipto. Saat membakar dua bendera itu, beberapa orang mahasiswa meneriakkan yel-yel \\\"Amerika kita setrika, Inggris kita linggis dan Jepang kita tendang.\\\"Setelah itu mereka melanjutkan longmarch menuju Tugu Yogyakarta. Arak-arakan yang mereka lakukan sempat menimbulkan kemacetan arus lalu lintas di sepanjang Jl Laksda Adisucipto hingga Jl Jenderal Sudirman selama 1 jam mulai pukul 14.00 - 15.00 WIB.Akibatnya para polisi dibuat kerepotan mengatur arus lalu lintas yang macet terutama di pertigaan Jl Demangan - Jl Laksda danperempatan Galeria Mall di Jl Sudirman. Aksi tersebut berakhir di perempatan Tugu Yogyakarta sekitar pukul 15.30 WIB.Koordinator aksi Geram, Caesar Hanif dalam orasinya mengingatkan kembali penjajahan gaya baru di Indonesia, yakni bukan lagi menggunakan senjata tapi kekuatan ekonomi yang jauh lebih berbahaya. Penjajahan gaya baru yang muncul saat ini antara lain dengan cara mengeksploitasi sumber-sumber ekonomi Indonesia seperti PT Newmont, PT Freeport, PT Exxon Mobile yang telah menguasai dan menguras habis berbagai pertambangan di Indonesia.\\\"Kita harus belajar dari kasus Newmont yang justru tidak memperoleh apa-apa, tetapi justru lingkungan jadi tercemar limbah beracun dan masyarakat juga terkena pencemaran, sehingga muncul berbagai macam penyakit,\\\" kata Hanif.Menurut Hanif, rakyat Indonesia saat ini menginginkan kemerdekaan 100 persen seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Merdeka yang diinginkan aalah merdeka alam arti bebas dari campur tangan asing, mandiri dan bia menentukan nasib sendiri. Namun bukan menjadi antek kekuatan asing dan terus menerus didikte oleh negara lain.
(nrl/)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed