DetikNews
Jumat 25 November 2011, 01:09 WIB

Lim Joe Thay, Dokter yang Memvisum Jasad Pahlawan Revolusi Itu Telah Tiada

- detikNews
Jakarta - Lim Joe Thay, salah seorang dokter yang melakukan visum et repertum terhadap jasad para jenderal korban Gerakan 30 September (G30S) 1965, meninggal dunia, Selasa lalu. Lim diperkirakan adalah saksi hidup terakhir dari peristiwa 3 hari pasca G30S tersebut.

\\\"Meninggal Selasa (22\/11) yang lalu sekitar pukul 19.00 WIB,\\\" kata menantu almarhum, Maria Fatimah, saat dihubungi detikcom<\/strong>, Kamis (24\/11\/2011).

Maria menuturkan, sekitar pukul 18.30 WIB, Selasa itu, almarhum sempat minum susu seperti biasanya. Namun, dokter Lim merasa pusing dan minta pindah ke kamar tidur.

\\\"Dia bilang ke suster mau tidur,\\\" tutur Maria.

Suster pun lantas mendorong kursi roda yang diduduki dokter Lim ke kamar tidurnya dan membaringkannya di tempat tidur. Almarhum menggunakan kursi roda karena sakit stroke yang dideritanya.

\\\"Saat di tempat tidur suster melihat almarhum sudah tidak bergerak,\\\" ujar Maria.

Suster lantas berteriak dan memberitahukan ke pihak keluarga tentang kondisi dokter Lim yang tidak bergerak. Keluarga pun memanggil tetangga dan kemudian menghubungi dokter.

\\\"Dari dokter diketahui almarhum meninggal dunia,\\\" ujarnya.

Jenazah disemayamkan di Aula FKUI, di Salemba, Jakarta Pusat, pukul 10.00 WIB, Kamis (24\/11), pagi. Proses persemayaman dihadiri oleh civitas akademika FKUI dan dokter forensik. Jenasah dikremasi di Rumah Duka Cilingcing, Jakarta Utara pukul 13.00 WIB siang.

Lim Joe Thay merupakan satu dari 5 dokter forensik yang melakukan visum terhadap jasad 6 jenderal dan 1 letnan TNI Angkatan Darat (AD) yang menjadi korban G30S. Saat itu, Lim, berusia 39 tahun, merupakan dokter di Fakultas Kedokteran Kehakiman UI.

Anggota tim dokter dari UI lainnya adalah Liauw Yan Siang dan Soetomo Tjokronegoro. Sementara dua dokter lainnya berasal dari AD, yaitu Brigjen Roebiono Kertopati dan Kolonel Frans Pattiasina.

Lim dkk ditugaskan memvisum mayat para jenderal itu di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Hasil dari visum yang berlangsung hingga 5 Oktober itu sangat mengejutkan.

Hasil visum menunjukkan tidak adanya tanda-tanda penyiksaan yang dialami para jenderal AD itu sebelum dibunuh. Fakta itu membantah berita-berita koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha saat itu yang menulis para jenderal tersebut disiksa simpatisan PKI tanpa berperikemanusiaan.

Meski bertolakbelakang dengan pemberitaan dua koran milik AD tersebut, namun tim dokter tetap menandatangani hasil visum mereka.





(ahy/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed