SPOTLIGHT

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalbar:

Menghirup Asap, Menuai Derita

Karhutla di Kalimantan memicu ledakan kasus gangguan pernapasan akut yang jauh melampaui angka tahun sebelumnya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 1 September 2026

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti keseharian warga Ketapang, Kalimantan Barat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kegiatan belajar mengajar di sekolah dan mengancam kesehatan siswa serta para guru.

Wahdah, perempuan berusia 37 tahun, guru bahasa Indonesia di SMK Negeri 2 Ketapang, mengatakan sekolahnya terpaksa kembali menerapkan belajar dari rumah (BDR) setelah sempat beberapa hari melakukan pembelajaran tatap muka. Penerapan BDR dilakukan karena kondisi kabut asap yang dinilai makin parah.

Menurut Wahdah, kabut asap di Ketapang belum mereda karena titik api masih menyala di sejumlah wilayah. Kebakaran bahkan terjadi di kawasan hutan kota di Jalan Lingkar Kota Ketapang (Hutan Kota Teluk Akar Bergantung). Di kawasan tersebut terdapat penangkaran satwa, termasuk kelempiau atau owa kalawat.

Selain kawasan hutan kota, kebakaran juga disebut masih terjadi di Pelang, Sungai Awan, dan Sungai Putri. Pada pagi hari, menurut Wahdah, kabut di sejumlah wilayah tersebut cukup pekat.

Pekatnya asap juga dirasakan oleh warga hingga ke dalam rumah. Bau asap disebut masuk ke dalam rumah dan abu pembakaran dapat ditemukan pada benda-benda di dalam rumah apabila tidak ditutup.

"Jadi kami jarang buka pintu. Di rumah kami pun sendok-sendok makanan kita, kalau nggak ditutup, abu-abu pembakaran itu sudah sampai ke dalam rumah," kata Wahdah kepada detikX.

Menurut Wahdah, pakaian yang dijemur di luar rumah juga dapat berbau asap.

"Jadi Ini Magrib nih, nanti habis Isya, mmm kabut terasa kalau kita bernapas mau tidur tuh, rumah-rumah itu isi-isinya bau asap. Kita jemur baju aja bau asap."

Di tengah kondisi tersebut, meski siswa belajar dari rumah, guru tetap diwajibkan datang ke sekolah. Mereka harus hadir untuk memberikan tugas kepada siswa. Kondisi itu membuat guru juga tetap terpapar asap ketika melakukan perjalanan maupun berada di sekolah.

"Mata perih kalau kita berkendara," ujar Wahdah.

Di sekolah, Wahdah bersama tim kesiswaan berinisiatif membagikan masker kepada siswa dan para tenaga pendidik. Langkah itu dilakukan karena pemerintah daerah sempat kembali memerintahkan pembelajaran luring. Namun, hingga wawancara dilakukan, belum ada bantuan masker khusus untuk sekolahnya dari pemerintah maupun dinas terkait. Padahal, sejak asap menyelimuti, sejumlah siswa turut dilaporkan mengalami batuk dan mata perih.

"Terutama masker yang paling utama untuk anak-anak sama vitamin," tegasnya.

Selain dampak kesehatan, kabut asap diakui menghambat proses belajar siswa. Peralihan pembelajaran ke BDR juga menimbulkan persoalan lain. Sejumlah siswa yang berasal dari daerah hulu atau pelosok kampung kesulitan mengakses jaringan internet. Terutama ketika terjadi pemadaman listrik.

"Kalau mati lampu, ya mati juga sinyalnya di sana mereka. Jadi syukur-syukur ada grup WhatsApp. Tapi ndak seefektif luring-lah," ujarnya.

Sementara itu, di Pontianak, asap disebut masuk hingga ke dalam rumah-rumah dan menyebabkan warga berulang kali mengalami penyakit pernapasan kronis.

Putri—bukan nama sebenarnya—35 tahun, tinggal di Pontianak Barat bersama suami dan tiga anaknya. Akibat paparan asap menahun, keluarganya berulang kali menderita asma. Bahkan ia pernah dirawat di rumah sakit ketika mengandung anak kedua akibat kabut asap.

Kabut asap mulai terasa pekat sejak awal Agustus. Saat itu, anak-anak Putri masih bersekolah sehingga ia tetap mengantar dan menjemput mereka menggunakan sepeda motor. Anak pertama dan keduanya kemudian mengalami batuk dan pilek. Keduanya memiliki gejala asma dan alergi debu. Kondisi itu kemudian diikuti anak bungsunya yang saat itu masih berusia 8 bulan.

"Jadi pada sakit satu rumah, akhirnya bawa ke dokter sekaligus semuanya sama bapak-bapaknya juga berobat semua sekaligus," kata Putri kepada detikX.

Kondisi anak bungsunya kemudian memburuk. Setelah mengalami batuk, pilek, dan demam yang naik turun, bayi tersebut kembali dibawa ke dokter. Akhirnya ia dirawat selama sekitar empat hari di Rumah Sakit Bhayangkara.

"Naik demam, ini yang bahaya kan kalau untuk anak yang di bawah 1 tahun. Demam-demam batuk pileknya terus-terusan sampai masuk rumah sakit," ucapnya.

Setelah anak bungsunya pulang dari rumah sakit, kini giliran anak pertama dan keduanya yang mengalami batuk dan pilek. Menurut Putri, gejalanya dimulai dari batuk dan pilek, kemudian muncul suara mengi saat kedua anaknya bernapas. Anak-anak tersebut juga dilaporkan mengalami kesulitan bernapas. Adapun obat asma yang biasanya dikonsumsi untuk meredakan gejala kini tidak lagi efektif karena paparan asap terus berlangsung.

"Tapi biasanya Ventolin (obat pereda gejala asma dan melonggarkan saluran napas) itu ngefek, ini dia nggak ngefek, karena asapnya kan terus-terusan, ya nggak berhenti-berhenti, kan," ucapnya.

Sayangnya, paparan asap tidak hanya terjadi ketika keluarga Putri berada di luar rumah. Kabut juga masuk melalui ventilasi dan bagian rumah yang terbuka. Ia menggambarkan kondisi di dalam rumah seperti ketika ada asap pembakaran sampah masuk ke dalam ruangan.

"Debunya masuk rumah tuh benar asapnya kayak asap habis ada orang bakar-bakar sampah di luar terus masuk ke dalam, kayak gitu kira-kira."

Bahkan, menurut dia, kondisi di dalam rumah terkadang sampai terlihat berkabut dan dapat berlangsung sepanjang hari.

"Jadi agak-agak berkabutlah dalam rumahnya gitu," sambungnya.

Dampak kabut asap juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Putri mengatakan anak-anak tidak lagi bisa bermain dan beraktivitas di luar rumah dengan bebas.

Kondisi itu terasa semakin berat karena terjadi bertepatan dengan momentum perayaan 17 Agustus. Anak-anak sempat berharap dapat mengikuti berbagai perlombaan di sekolah, tetapi kondisi asap membuat kegiatan tersebut tidak dapat mereka ikuti.

"Sedih sih karena saat ini kan anak-anak semuanya nggak bisa keluar rumah dengan bebas ya, nggak bisa bermain. Padahal ini lagi momennya 17 Agustus, anak-anak kepingin ikut lomba-lomba kan, di sekolah lagi seru-seruan, tapi nggak bisa ikut," ucapnya.

Putri menggambarkan anak-anak terpaksa dijaga tetap berada di dalam rumah sepanjang waktu.

"Jadi malah seperti dikurung di rumah, nggak bisa keluar, mau keluar harus pakai masker."

Namun, menurutnya, penggunaan masker pun belum sepenuhnya membuat anak-anak terbebas dari paparan asap.

"Masker aja itu masih nembus. Jujur, masih nembus maskernya."

Sebagai warga yang lahir dan besar di Pontianak, Putri mengatakan kabut asap bukan fenomena baru. Menurutnya, kondisi serupa muncul setiap beberapa tahun ketika musim pembukaan lahan. Ia ingat kondisi parah sebelumnya terjadi pada 2017-2018. Namun kondisi tahun ini merupakan yang terparah selama ia tinggal di Pontianak.

Putri mengatakan hujan yang turun sebelumnya biasanya dapat mengurangi kabut asap. Namun kali ini kondisi asap tetap bertahan meski hujan telah beberapa kali turun.

Kondisi tersebut membuat Putri berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap dampak karhutla. Ia juga berharap penyebab kebakaran ditelusuri lebih jauh, termasuk kemungkinan adanya pembakaran lahan.

"Mungkin (pemerintah) lebih bisa diinvestigasi apakah benar penyebabnya kebakaran lahan ataukah dibakar lahannya. Semoga bisa diinvestigasi lebih dalam sama pemerintah ya," ucapnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, per 28 Agustus 2026, terdapat 5.419.467 warga dari tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota yang terdampak. Warga yang terjangkit ISPA dari keseluruhan provinsi tersebut meningkat jika dibandingkan pada 2025. Sepanjang Agustus atau pada periode karhutla terjadi pada tahun ini, setidaknya terdapat 4.082 warga yang terjangkit ISPA.

Sedangkan total kumulatif kasus ISPA sepanjang Juli-Agustus 2026 terdapat 50.891 orang terjangkit. Dari total kasus tersebut, sebanyak 12.600 kasus terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun. Sementara itu, 38.291 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun. Per hari ini saja, terdapat 451 kasus ISPA baru.

Peningkatan jumlah kasus ISPA tidak hanya terjadi di wilayah yang memiliki indeks standar pencemar udara (ISPU) tinggi atau menjadi lokasi karhutla. Hal tersebut lantaran asap karhutla terbawa angin ke wilayah lain sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

"Terjadi bukan hanya pada tujuh provinsi atau kabupaten tertentu yang punya indeks ISPU yang tinggi, tetapi sebenarnya ini mencakup juga seluruh provinsi di Kalimantan," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Andi Sagun.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sumarjaya, mengungkapkan karhutla tak hanya berdampak terhadap penyakit yang mengganggu pernapasan. Namun ada pula warga yang menderita penyakit kulit dan iritasi mata.

“Nah, ada yang kemarin diinput, makanya saya tahu data kenapa ada iritasi mata, keluhannya, ada misalnya kulit. Lalu saya tanya, kenapa dengan ada kulit? Wah, ternyata memang dia mandikan air sumur ya. Ya sumurnya kan terbuka kalau orang kampung dan lain-lain, seperti itu kan. Nah, mungkin itu tadi, karena debu-debunya masuk, akhirnya mandi yang gatal," ujarnya kepada detikX.

Sumarjaya mengimbau agar warga yang terpaksa ke luar rumah melengkapi perlindungan dirinya. Bisa berupa masker atau kacamata.

"Minggu lalu ke teman-teman, baik surveilans, baik tenaga kesehatan lingkungan, dan juga Puskris yang membagi untuk masker. Kebetulan kita masker kita banyak. Jadi kami udah bagi dan kami juga koordinasi dengan teman-teman Menko PMK, dengan dinas sosial. Dan kami ada grupnya. Tapi intinya kita nggak melihat karhutlanya berapa, tapi kami bagaimana menjaga status kesehatan masyarakat," ujarnya.

Selain menimbulkan penyakit kronis, karhutla di Kalimantan juga memakan korban jiwa. Dikutip dari detikNews, pada 4 Agustus lalu, pria bernama Taufik Hidayat (26) ditemukan tewas di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Poros Sungai Pelang-Tumbang Titi, Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Korban diduga terjebak di lokasi itu.

Korban ditemukan dengan kondisi tubuh hangus terbakar. Dia diduga terjebak asap tebal dan kobaran api saat melintasi lokasi kebakaran. Kapolsek Matan Hilir Selatan AKP Sigunari membenarkan identitas korban.

Begitu pula di Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Di sebuah kebun sawit, Kasim (65) ditemukan meninggal dunia dalam posisi tertelungkup saat berada di tengah aktivitas penanganan karhutla pada 11 Agustus lalu.

Rentetan kejadian di Kalbar tersebut tak kebetulan. Berdasarkan pantauan Fire Emissions Watch pada 13-19 Agustus, emisi karbon akibat kebakaran lahan tertinggi di Indonesia berada di Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Angka yang tercatat mencapai 221.623 ton.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Melanie Hotarina Margaret Sihotang (magang)
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE