SPOTLIGHT

Derita yang Tak Kunjung Surut di Aceh

Sudah lebih dari sebulan banjir bandang melanda Aceh. Kini sejumlah titik masih dilanda krisis air bersih dan ancaman mewabahnya berbagai jenis penyakit.

Foto : Sejumlah warga korban banjir di tenda darurat di kawasan hutan Desa Kuta Teugoh, Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, Kamis (11/12/2025). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz)

Senin, 5 Januari 2026

Banjir susulan yang berulang kali melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Hingga lebih dari satu bulan setelah banjir pertama, ribuan warga masih hidup dalam kondisi darurat, dengan ancaman banjir susulan dan wabah penyakit.

Muhammad Habibi, laki-laki berusia 32 tahun asal Pidie Jaya sekaligus dosen Universitas Malikussaleh, menjelaskan banjir bandang pertama menyebabkan perubahan drastis pada alur Sungai Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Lumpur dan kayu menutup aliran sungai hingga sepanjang sekitar 2 kilometer.

“Pada saat banjir bandang pertama itu, terjadi pemindahan aliran sungai. Jadi aliran air itu menerjang kampung itu dua kali. Yang pertama malam, itu airnya sangat kental dan penuh lumpur,” kata Habibi kepada detikX pekan lalu.

Lumpur yang mengendap kemudian menyumbat sungai hingga merendam kebun warga. Ketika hujan kembali turun, air dari gunung tidak lagi mengalir di jalur lama, melainkan lurus menerjang permukiman.

“Ada dua desa yang tegak lurus dengan aliran sungai. Yang pertama itu Desa Dayah Kruet, kedua Desa Blang Cut, kemudian hilirnya ke Desa Buangan dan Lueng Bimba yang dekat dengan laut,” ujarnya.

Menurut Habibi, sungai utama yang tertimbun lumpur dan gelondongan kayu tidak lagi dapat dilewati air. Kondisi ini menyebabkan banjir susulan terus terjadi. Hingga wawancara dilakukan, warga telah mengalami enam kali banjir susulan. Menurutnya, selama Sungai Meureudu belum dinormalisasi, ancaman banjir akan terus menghantui warga.

“Selama Sungai Meureudu dipastikan bisa dinormalisasi, kami akan setiap kali hujan air akan tetap terendam kembali dengan arus yang sangat kencang,” ujar Habibi.

Kondisi tersebut mengakibatkan lebih dari 15 ribu orang masih mengungsi. Mereka berasal dari Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, yang dipisahkan oleh Sungai Meureudu.

Sayangnya, menurut Habibi, tenda pengungsian yang tersedia kondisinya kurang layak. Tenda-tenda itu didirikan di atas hamparan lumpur yang telah mengering. Di Desa Dayah Kruet, misalnya, endapan lumpur mencapai ketinggian 2-3 meter. Saat hujan turun, lumpur kering itu kembali lembek dan tergenang air.

Dalam kondisi itu, sebagian warga memilih bertahan di rumah masing-masing meski banjir terus berulang. Saat air mulai naik, mereka berpindah ke plafon. Ketika ketinggian air kembali bertambah, mereka naik ke atap rumah. Begitu air surut, warga turun kembali untuk membereskan sisa lumpur di bawahnya.

Kondisi ini berlangsung berulang kali selama berminggu-minggu sehingga memicu merebaknya penyakit. Sebagian warga dilaporkan diduga terinfeksi cacing tambang di bagian kaki. Selain penyakit kulit, banyak warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Di dalam kulit sebenarnya. Bentuknya kayak cacing, kayak urat nadi. Tapi, kalau sudah lima hari, nanti dia meletus," ucap Habibi.

Per hari ini juga, di Pidie Jaya terdapat 2.985 lansia, 2.975 anak-anak, dan 574 bayi yang terpaksa tinggal di pengungsian. Selain penyakit fisik, Habibi menyebut gangguan psikis juga dialami oleh warga.

“Secara psikis, anak-anak itu, kalau hujan turun, mereka pada nangis,” ujarnya.

Kondisi itu diperparah oleh rusaknya fasilitas kesehatan, seperti puskesmas. Saat ini pelayanan kesehatan hanya mengandalkan kunjungan tim medis dari luar daerah.

“Itu tidak diinventaris dengan baik, bisa jadi ada desa yang belum pernah sekali pun (tersentuh oleh bantuan kesehatan)," ungkap Habibi.

RSUD menjadi satu-satunya fasilitas rujukan kesehatan bagi warga terdampak banjir di Pidie Jaya. Namun perjalanan menuju rumah sakit itu nyaris tidak mungkin dilakukan karena kondisi medan yang berat dan jalur desa yang terus terputus akibat lumpur dan genangan air. Upaya merujuk lansia maupun pasien rentan kerap dibatalkan karena dianggap terlalu berisiko.

Ancaman kesehatan juga makin terasa karena rusaknya fasilitas sanitasi dan terputusnya ketersediaan air bersih. Banyak septic tank warga tidak lagi berfungsi akibat tertimbun lumpur, sehingga tidak bisa digunakan. Adapun air bersih hanya tersedia dalam jumlah terbatas dan bergantung pada distribusi bantuan yang didrop di posko-posko.

Pada hari-hari awal bencana, sebagian warga bahkan terpaksa menggunakan air banjir untuk bertahan hidup karena tidak memiliki pilihan lain. Ditambah saat ini banyak warga tidur di atap rumah atau di atas lumpur yang telah mengering dengan alas seadanya.

Habibi menegaskan warga Pidie Jaya belum bisa disebut selamat dari ancaman banjir. Selama Sungai Meureudu belum dinormalisasi dan air masih berpotensi kembali mengalir ke permukiman, warga merasa nyawa mereka terus dipertaruhkan.

“(Pemerintah) harus segera normalisasi Sungai Meureudu atau kami yang sudah selamat ini akan menyusul yang lainnya (yang meninggal karena banjir),” ucap Habibi.

Nasib serupa dialami oleh warga Kecamatan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya. Menurut Ismail, warga setempat, bencana kali ini jauh lebih parah dibanding banjir bandang yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Selain volume air yang besar, banjir kali ini membawa material kayu dalam jumlah masif, menghantam permukiman dan meratakan ratusan rumah warga. Meskipun mayoritas warga selamat dari banjir, kini kondisi mereka jauh dari kata aman dan layak.

“Memang orang itu tinggalnya di dalam kegelapan, Bang. Memang tidak ada penerangan, Bang,” ujar Ismail kepada detikX pekan lalu.

Ismail mengatakan 563 rumah di kecamatannya dilaporkan terdampak, dengan kondisi rusak berat hingga hilang tersapu banjir. Seluruh pemilik rumah tersebut kini mengungsi. Namun, alih-alih berada di lokasi pengungsian yang layak, sebagian besar warga terpaksa bertahan di hutan dan area kebun yang sebelumnya tidak pernah dijadikan tempat tinggal. Tenda-tenda darurat didirikan menggunakan terpal dan kayu seadanya. Terlebih hujan masih kerap mengguyur daerah tersebut.

Salah satu pengungsi yang kakinya terinfeksi parasit cacing tambang.
Foto : Dok. Istimewa

Akibatnya, anak-anak, bayi, dan lansia dilaporkan banyak mengalami keluhan kesehatan. Sayangnya, fasilitas dan pasokan medis terbatas. Menurut Ismail, puskesmas setempat mengalami kekurangan obat-obatan dan tidak mampu menampung seluruh warga yang membutuhkan layanan.

Banyak warga dilaporkan mengalami sakit, mulai demam hingga penyakit kulit. Hal itu dipicu oleh kondisi pengungsian yang tak memadai, terutama jika hujan kembali turun. Banyak tenda tidak memiliki dinding pelindung, membuat warga khawatir menghadapi cuaca buruk berikutnya.

"Sangat (membutuhkan bantuan). Sangat perlu, Bang. Habis itu kan orang sakit, anak-anak, bayi, memang semua," kata Ismail.

Menurut Ismail, bantuan tenda dari pemerintah sudah ada, tetapi jumlahnya disebut tak memadai dan belum merata untuk seluruh pengungsi. Pemerintah Aceh juga disebut sempat hadir di lokasi terdampak, tetapi kehadiran itu dinilai belum disertai rencana jangka panjang untuk menjamin keberlangsungan hidup warga, terutama menjelang Ramadan. Kekhawatiran utama warga adalah stok logistik yang berpotensi habis, sementara akses dan penghidupan belum pulih.

Ismail mengatakan kondisi infrastruktur dasar memang masih memprihatinkan. Jaringan internet dan sinyal telepon belum pulih seperti semula, sementara listrik sama sekali belum menyala. Oleh karena itu, menurut Ismail, kebutuhan paling mendesak bagi warganya saat ini adalah generator listrik beserta bahan bakarnya.

Sementara itu, untuk logistik makanan, bantuan dinilai belum mencukupi di Beutong Ateuh, terutama jika diproyeksikan untuk kebutuhan jangka panjang selama Ramadan mendatang. Ismail menilai perhatian pemerintah masih bersifat sesaat, tanpa perencanaan yang matang terkait ketersediaan beras dan kebutuhan pokok lainnya dalam waktu mendatang.

Akses transportasi juga masih menjadi kendala. Walaupun jalan nasional di Kecamatan Beutong Ateuh sudah kembali normal, jalan-jalan desa masih banyak yang terputus. Di setiap desa, sekitar 300 meter jalan rusak akibat diterjang banjir. Hal itu juga mengakibatkan terhambatnya kegiatan belajar-mengajar. Dua bangunan sekolah di Beutong Ateuh dilaporkan hilang akibat banjir. Sementara itu, satu sekolah yang masih berdiri tidak dapat diakses karena jalan yang terputus.

Pentingnya Air Bersih
Lebih dari sebulan setelah banjir bandang melanda wilayah Langkahan, Aceh Utara, krisis kesehatan dan keterbatasan akses air bersih juga menjadi persoalan utama di pengungsian. Perwakilan relawan dari komunitas Iya Lagi Manjat, Sabrina, mengatakan ratusan rumah warga rusak total dan akses air bersih terputus

“Di Langkahan itu ada satu dusun, 482 rumah hilang. Bukan rusak ya. Jadi, kalau rumah tinggal setengah, itu kategorinya rusak berat. Kalau hilang tuh, sampai ke fondasinya nggak ada,” kata Sabrina kepada detikX pekan lalu.

Menurut Sabrina, keterbatasan fasilitas dasar masih dirasakan di Langkahan setidaknya hingga akhir Desember lalu. Fasilitas listrik belum menyala sepenuhnya dan hanya tersedia secara bergiliran.

Namun persoalan yang paling dirasakan warga adalah akses air bersih. Selama sebulan, relawan hanya mampu memasok air dalam jumlah terbatas.

“Air itu terasa banget kurang. Kita cuma sempat masukin 4.000 liter, itu pun cuma sekali selama sebulan,” kata Sabrina.

Sementara itu, banyak sumur milik warga yang tidak bisa digunakan karena tertutup material banjir, seperti lumpur dan kayu.

“Ada yang bikin bor cincin, itu pun swadaya masyarakat. Kalau dari pemerintah belum ketemu," ungkapnya.

Sabrina menilai perhatian pemerintah masih belum menyasar kebutuhan paling mendasar warga terdampak. Ia menegaskan wilayah dengan akses paling sulit justru belum menjadi prioritas.

“Alasannya akses susah. Padahal justru yang susah itu yang harusnya diprioritaskan,” katanya.

Karena sulitnya akses air bersih, untuk kebutuhan harian, warga terpaksa menggunakan air genangan yang bercampur lumpur. Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan warga di pengungsian. Beberapa penyakit dilaporkan mulai merebak. Stok obat-obatan, terutama salep untuk penyakit kulit, cepat habis karena kebutuhan yang tinggi.

“Penyakit paling banyak diare sama penyakit kulit,” ujar Sabrina.

“Makanya kemarin kita kehabisan stok obat-obatan, terutama salep penyakit kulit. Karena salep itu satu orang satu, tapi kebutuhannya banyak banget," sambungnya.

Selain penyakit kulit dan diare, gangguan pernapasan mulai muncul. Lumpur yang mengering berubah menjadi debu dan terhirup oleh warga serta para relawan.

“Karena lumpurnya, setelah kering, jadi berdebu. Banyak yang batuk. Relawannya juga sudah banyak yang sakit,” katanya.

Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga belum sepenuhnya siap menghadapi kondisi tersebut. Puskesmas kecamatan baru dibersihkan pada minggu ketiga pascabencana. Ia menyebut hanya ada dua tim kesehatan yang benar-benar menetap dan memberikan layanan secara berkelanjutan di lokasi pengungsian.

Meski banyak warga mengalami sakit, sebagian besar enggan dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar wilayah terdampak. Warga yang mengalami luka atau infeksi kulit parah akhirnya hanya dirawat seadanya di pengungsian.

“Mereka juga nggak mau dirujuk. Karena kalau mereka pergi, nggak ada yang ngurus keluarga intinya,” kata Sabrina.

Kondisi anak-anak dan kelompok rentan, kata Sabrina, juga belum tertangani secara optimal. Di lokasi pengungsian, terdapat bayi berusia lima bulan serta ibu hamil yang melahirkan setelah bencana. Keterbatasan tenaga dan akses membuat pendampingan kesehatan tidak maksimal. Tanpa perbaikan akses air bersih dan layanan kesehatan yang memadai, warga Langkahan dinilai akan terus berada dalam kondisi rentan.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, David Kristian Irawan (magang)
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE