SPOTLIGHT
Kini sekitar 134 dari 30 ribuan pondok pesantren telah melakukan tirakat energi fosil. Mereka memanfaatkan energi terbarukan guna mencegah memburuknya krisis iklim dan kerusakan lingkungan.
Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga pusat membentuk karakter, etos kerja, dan pola pikir. Kini banyak pesantren menanamkan nilai tambahan: semangat menjaga bumi lewat konservasi energi. Salah satunya Pondok Pesantren Wali Barokah, Kota Kediri, Jawa Timur, yang memasang 636 lembar modul panel surya untuk mengaliri listrik tiga lift dan kebutuhan lainnya. Mereka berhemat hampir Rp 60 juta per bulan.
Sekitar 2015, kata Sunarto, pesantren di bawah naungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tersebut sering padam listrik. Kegiatan belajar dan ibadah terganggu. Lalu mereka bermusyawarah untuk mencapai transisi energi secara mandiri ke energi baru terbarukan.
“Kami meniadakan genset, kemudian beralih ke PLTS (pembangkit listrik tenaga surya). Ini menjadi semakin ramah lingkungan,” kata Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah, Kota Kediri, tersebut.
Instalasi PLTS untuk menyerap tenaga matahari yang dipasang berukuran 40x41 meter, lebih dari luas delapan lapangan tenis standar internasional. Pengeluaran yang sebelumnya untuk aliran listrik konvensional PLN dialokasikan untuk pendidikan, perbaikan fasilitas, dan kesejahteraan santri.
“Tagihan abonemen kami dengan PLN yang rata-rata setiap bulan Rp 140 juta. Dengan keberadaan PLTS, bisa terkurangi sekitar 40 persen. 40 persen dikali 140 juta atau 150 juta sudah sekitar Rp 60 juta. Ini yang bisa kami hemat,” ujar pengasuh pesantren yang juga Ketua Dewan Penasihat DPD LDII Kabupaten Kediri ini.
Panel tenaga surya atap itu ditopang kerangka baja. Sistemnya on-grid dan hybrid,
“Energi yang bersumber dari PLTS itu untuk mem-backup segala kebutuhan tenaga listrik di pondok, untuk ruang belajar yang paling utama. Jadi untuk penerangan, kipas angin. Kalau ruang tertentu, untuk perkantoran, kesekretariatan, pertemuan, menggunakan AC,” ujarnya.
Pondok pesantren ini berkategori salaf. Memiliki kekhasan dalam penyampaian materi kajian Al-Qur’an dan hadis dengan metode manqul, musnad, dan muttashil. Sedangkan hadis difokuskan pada kajian Kutubus Sittah. Pola pembelajarannya menyatukan pendidikan umum dan agama jenjang wustha (SMP/MTs) dan ulya (SMA/MA) dengan sistem sekolah berasrama. Mereka kerap dilibatkan merawat pesantren.
"Melibatkan para santri mulai penyediaan konsumsi, kebersihan, sampai pembuangan sampah. Pelibatan para santri ini dikandung maksud sekaligus untuk membekali mereka agar tahu bagaimana cara mengelola pesantren. Lebih-lebih mereka ini kami siapkan untuk menjadi calon dai-daiah, calon guru ngaji, yang akan bertugas di berbagai tempat di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri,” ujarnya.
Kini jumlah santri dan santriwati sebanyak 3.250-an. Oleh karena itu, keberadaan PLTS menjadi sangat membantu. Namun, permasalahannya, perlu perawatan intensif hingga saat cuaca mendung atau hujan arus akan melemah.
Tagihan abonemen kami dengan PLN yang rata-rata setiap bulan Rp 140 juta. Dengan keberadaan PLTS, bisa terkurangi sekitar 40 persen.
Selain itu, lokasi pesantren yang berada di sekitar pabrik terimbas polusi udara. Debu hitam pekat yang menempel mengganggu solar panel menyerap cahaya dari langit. Meski begitu, Sunarto bersikukuh memakai PLTS karena banyak dalil Al-Qur’an maupun hadis yang melarang merusak alam semesta.
“Kalau energi fosil ini kan semuanya menyadari suatu ketika akan habis. Misalnya batu bara suatu ketika akan habis. Tetapi, kalau matahari, insyaallah sepanjang hayat, sepanjang dunia ini masih ada. Ini sebagai rahmat dari Allah SWT yang harus kita syukuri dan manfaatkan,” ujarnya.
Hertanto menyebut PLTS itu menyerap daya lebih dari 1 juta watt peak per hari. Pembersihannya membutuhkan waktu hingga 6 jam. Pemelihara kebersihan memakai tali, sabuk pengaman, karabiner, hingga helm.
“Kalau nyuci, ngambil waktu efektif pagi. Kami matikan daya. Ada matahari muncul, kami turun dan hidupkan lagi. Itu baru separuh. Agak sore, kami matikan lagi dan bersihkan,” kata teknisi PLTS Wali Barokah tersebut.
Pondok Pesantren Al-Mukarramah di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, juga memasang instalasi PLTS berbasis atap. Yusuf Budiana menegaskan sumber energi habis pakai seringnya menjadi rebutan para kapitalis.
“Kalau energi matahari yang relatif tak terbatas tidak akan direbut oleh para kapitalis karena tidak tersedianya teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk memonopolinya. Energi matahari sudah menjadi given dari Gusti Allah sebagai rahmat bagi seluruh makhluk. Tinggal kita bagaimana memanfaatkannya. Sumber daya alam itu terkadang tidak menjadi berkah malah bencana,” kata Ketua Yayasan Al-Mukarramah tersebut.
Energi fosil, kata Yusuf, memiliki risiko geopolitik yang rawan karena menjadi rebutan para kapitalis. Sumber energi itu membuat beberapa negara di Timur Tengah kerap berkonflik. Salah satunya Irak, invasi Amerika Serikat terjadi karena faktor menguasai instalasi minyak.
“Dengan banyaknya dimanfaatkan solar cell, masyarakat social welfare-nya naik. Jangan sampai kekayaan melimpah dari cahaya matahari itu terbuang sia-sia. Malah kita fokus mengeksploitasi dari bahan fosil itu akan habis dan kita tidak siap dengan energi terbarukan,” ujarnya.
Pondok pesantren yang terdiri atas PAUD dan SMP ini mengakomodasi semua mazhab pemikiran Islam. Mereka terdata berada di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Murid tidak kami batasi dari madzab tertentu. Apa pun latar belakang mazhabnya, kami sangat terbuka menerimanya. Guru juga tidak seragam, beragam mazhab Islam ada di sini. Keragaman itu sebuah keniscayaan. Kami percaya bahwa tidak dalam rencana Tuhan manusia harus seragam. Yang harus kita kembangkan toleransi dan sekalgius mengapresiasi keberagaman itu sendiri,” tuturnya.
Para siswa SMP, yang berjumlah sekitar 50 orang—sebelum pandemi COVID-19 jumlah siswa mencapai 120 orang—mengikuti kegiatan kepesantrenan sejak sore hari. Mereka mempelajari nahwu shorof terkait tata bahasa Arab hingga berbagai kajian keilmuan. Sebagian aliran listrik yang digunakan untuk seluruh kegiatan itu berasal dari PLTS.
“Kebutuhan (membayar listrik PLN per bulan) Rp 3 juta, itu 60 persennya bisa dari suplai dari PLTS,” ungkapnya.
Pondok pesantren yang mendalami keislaman dari jejak keluarga Rasulullah Muhammad SAW ini kerap menjadi poros kegiatan bersama warga sekitar. Pelataran mereka yang hampir seluas lapangan sepakbola itu kerap dipakai warga untuk hajatan pernikahan, coblosan pemilu, peringatan maulid Nabi, hingga mencacah daging kurban Idul Adha.
“Idul Adha, kami menerima kurban dari berbagai daerah. Dagingnya dibagi ke masyarakat di sini. Mereka juga ikut membersihkan daging, nyacak,” tuturnya.
Kepala SMP Al-Mukarramah Aden Sumarna menuturkan lebih dari 60 persen siswa dan santri menempuh jenjang pendidikan secara gratis. Sebab, mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah secara pendapatan ekonomi. Keberadaan PLTS menjadi bagian yang cukup membantu mengurangi pengeluaran.
Jangan sampai kekayaan melimpah dari cahaya matahari itu terbuang sia-sia. Malah kita fokus mengeksploitasi dari bahan fosil itu akan habis dan kita tidak siap dengan energi terbarukan.
Sejauh ini PLTS yang terpasang berjenis on-grid dan off-grid. Teknisi perawatan dan pemasangan PLTS tersebut, Ekki Kurniawan, menuturkan saat siang hari aliran yang diserap solar panel sekitar 2.200 watt diekspor ke PLN. Proses perizinan pemasangannya sekitar tahun 2018 sempat terganjal birokrasi pemerintahan yang berbelit..
“Perizinannya rumit, hampir tidak jadi. Hampir setahun lebih,” kata Ekki.
Sedangkan yang off-grid sekitar 400 watt. Namun kini diistirahatkan karena perlu peremajaan baterai.
“Kelemahan off-grid, harus merawat baterainya. Santri kami libatkan untuk membersihkan dan merawat,” kata dosen yang juga peneliti di Telkom University tersebut.
Saat ini, Ekki dan pengurus Pondok Pesantren Al-Mukarramah tengah mengeksekusi program pembangunan irigasi untuk kebun warga. Nantinya akan dipasangi kombinasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan PLTS.
“Bendungannya sudah dibuat. Ini energi yang tidak terbatas. Aliran listriknya untuk penerangan jalan masyarakat,” ujarnya.
Pondok Pesantren Baiturrahman di Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengembangkan PLTS dan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg). Jajang Jatnika menuturkan PLTS itu sudah digunakan selama sekitar 12 tahun. Penggunaannya untuk menghidupkan 18 lampu selama 8 jam.
“Kami gunakan untuk penerangan jalan pesantren. Bayar listrik terpotong sekitar Rp 400 ribu per bulan,” kata Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Baiturrahman tersebut.
Di pondok pesantren ini, terdapat SMP dan SMA Terpadu Baiturrahman dengan total 329 peserta didik. Sepulang sekolah, para siswa menjalani rutinitas sebagai santri. Instalasi PLTS menjadi bahan pembelajaran di kelas X. Mereka mengedukasi para siswa terkait arus AC/DC, alat inverter, dan sebagainya.
Sedangkan PLTBg dibangun di sayap kiri pondok pesantren. Mereka menyulap kotoran sapi menjadi pembangkit listrik. Jumlah sapi sempat sampai 40 ekor. Namun kini PLTBg harus diistirahatkan sementara untuk diperbesar dan dipindahkan lokasinya. Salah satu problemnya, lalat yang mengerubungi proses fermentasi dan pemurnian kotoran sapi cenderung mengganggu.
“Yang gas itu ternyata ada masalah. Digester-nya juga perlu yang lebih besar. Kotorannya juga membuat tidak nyaman santri,” tuturnya.
Sisa instalasi PLTBg masih diintegrasikan dalam program pembelajaran munaqosah. Para siswa menjadikannya objek miniriset sains maupun kewirausahaan.
“Selain biogas, kotoran (sapi) diolah untuk dijual ke masyarakat menjadi pupuk organik. Sapinya untuk ternak dan kurban. Anak-anak dilibatkan ngasih makan sapi, menghitung perkembangan sapi,” ujarnya.
Ini tidak lepas dari latar belakang para pendiri pondok pesantren dari orang-orang eksakta. Mereka terjalin ikatan sebagai sesama pemuda masjid yang ingin membangun institusi pendidikan berbasis sains dan agama. Mereka membekali para santri dengan pelajaran mengaji, dakwah, fikih, nahwu shorof, tafsir, hingga sejarah Sirah Nabawiyah. Mereka mencoba meragamkan pembelajaran
Energi dari batu bara itu kan eksploitasi alam yang besar. Kami berpikir bagaimana membuat energi terbarukan dari kotoran sapi. Dari kandang sapi ke digester, power house, diubah menjadi listrik.
Selain itu, di ruang makan para santri, yang berbentuk seperti kantin seluas sekitar 40 meter persegi, terdapat belasan galon yang ditata di atas meja makan. Ini air minum yang diolah secara mandiri hasil filtrasi dari mata air. Mereka juga mengemasnya dalam botol kecil.
“Sumbernya dari mata air, tidak pakai bor. Ada filternya. Semua minumnya santri dari situ,” tuturnya.
Kepala Laboratorium SMA Baiturrahman, Sukarmo, menuturkan air bersih tersebut digunakan untuk konsumsi sehari-hari para santri hingga para guru atau pengasuh. Ini menjadi bagian dari proyek kemandirian dan penelitian, selain PLTBg, yang kotoran sapinya dijual Rp 5 untuk pupuk oleh kelompok murid yang belajar kewirausahaan dan PLTS.
“Energi dari batu bara itu kan eksploitasi alam yang besar. Kami berpikir bagaimana membuat energi terbarukan dari kotoran sapi. Dari kandang sapi ke digester, power house, diubah menjadi listrik,” terang guru fisika tersebut.
Reporter & Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Irwan Nugroho
Ilustrasi: M. Afwan Fathul Barry