Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 24 September 2024Orang yang baik. Itu kesan pertama saat bertemu Cham Chuen Lay alias Ken Lai dan Kwan Cherry Lai. Keduanya tak segan memberi angpau kepada karyawan-karyawan barunya. Setidaknya begitu yang dirasakan Dini saat pertama kali bergabung dengan Brandoville Studios, perusahaan animasi gim yang diampu pasangan suami-istri itu.
“Dan kami (saat itu) di BV (Brandoville) termasuk salah satu studio animasi yang gajinya lumayan bagus, masuk akal-lah,” tutur mantan karyawan Brandoville yang tidak mau disebutkan nama aslinya itu demi keamanan kepada reporter detikX pekan lalu.
Setelah beberapa bulan bekerja, Dini baru tahu ternyata Ken dan Cherry tidak sebaik yang dipikirkannya saat awal masuk kerja dulu. Menurut Dini dan karyawan Brandoville lainnya, Cherry Lai kerap menghina para karyawannya dengan sebutan yang tidak pantas: gendut, pelacur, hingga goblok.
Cherry Lai juga sering memaksa karyawannya lembur kerja sampai larut malam tanpa dibayar. Tidak jarang juga, Cherry memaksa Dini dan karyawan lainnya tetap masuk kantor saat akhir pekan dan libur nasional.
“Yang nggak masuk potong cuti atau potong gaji,” keluh Dini.
Dini dan beberapa karyawan Brandoville lainnya merasa seperti ditipu mentah-mentah oleh Cherry Lai dan Ken Lai lantaran kebaikan keduanya saat awal masuk kerja. Padahal Dini dan beberapa rekan kerjanya sudah tahu perusahaan ini pernah bermasalah saat masih berkantor di Malaysia dulu.

Penampakan kantor Brandoville Studios yang kini sudah tutup di Jl. Sumenep No.23, Menteng, Jakarta Pusat.
Foto : Ahmad Thovan Sugandi/detikX
Pada Maret 2021, kantor berita Malaysia pernah melaporkan tindakan sewenang-wenang Brandoville kepada karyawannya. Banyak karyawan yang dipaksa lembur tanpa mendapatkan uang saku. Budaya lembur tanpa bayaran alias crunch culture itu disebut sudah terjadi sejak Brandoville masih berada di bawah naungan Lemon Sky Studio.
Kami punya keberanian (melaporkan ke kepolisian) awal mulanya karena itu, karena kita akhirnya punya wadah untuk ngomong sama mereka (investor).”
Ken Lai salah satu pemegang saham di Lemon Sky. Ken jugalah yang mendirikan Brandoville pada 2011. Di situ dia menjabat direktur utama. Waktu itu, nama perusahaannya masih Brandoville by Lemon Sky. Perubahan nama menjadi Brandoville Studios baru dilakukan setelah Ken mendapatkan investor dari Indonesia pada 2020.
Ken mengajak istrinya, Cherry, ikut terlibat di Brandoville Studios. Keduanya menyewa rumah mewah di Menteng, Jakarta Pusat, sebagai kantor. Mereka merekrut banyak karyawan, termasuk Dini.
Saat menerima tawaran wawancara, Dini dan beberapa karyawan lainnya mengira budaya kerja Brandoville Studios akan berbeda dengan saat di Malaysia. Soalnya, kata Dini, perusahaan ini sudah tidak berada di bawah naungan Lemon Sky.
“Aku dihubungi sama HR (human resources), lagi nyari kerjaan apa nggak. Setelah aku lihat yang apa, aku bilang, oh ya sudahlah, bolehlah, mungkin siapa tahu sudah better,” kata Dini.
Namun nyatanya, yang terjadi justru lebih parah. Ratih—bukan nama sebenarnya—mengatakan bukan hanya melanggengkan budaya lembur tanpa bayaran di Brandoville, perusahaan ini juga disebut kerap menipu kliennya sendiri.
Sebagai orang yang duduk di posisi cukup penting, Ratih tahu betul bagaimana Ken Lai dan Cherry Lai bernegosiasi dengan para kliennya. Pasangan warga negara asing (WNA) ini kerap membohongi kliennya untuk bisa mendapatkan proyek bernilai miliaran rupiah. Sering, kata Ratih, keduanya mengatakan kepada klien bahwa Brandoville memiliki lebih dari 80 animator dan puluhan animator senior. Padahal, pada kenyataannya, total animator di Brandoville tidak lebih dari 30 orang dan animator senior hanya dua.
Beban kerja 80 animator dan puluhan animator senior ini dibagi ke hanya kepada 30-an animator yang bekerja di Brandoville. Kebohongan itu, pada akhirnya, membuat Cherry Lai dan Ken Lai memeras karyawannya untuk lembur sampai larut dan tetap bekerja di akhir pekan serta libur nasional.
“Soalnya, mereka mau projek yang prestisius-lah ya gitu, biar bagus juga portofolio company. Jadi yang tidak ada diada-adain orangnya walaupun ya, gitu deh, nangis darah,” ungkap Ratih kepada detikX pada Kamis, 19 September lalu.
Ken dan Cherry Lai juga diduga menggelapkan uang dari kliennya yang harusnya menjadi keuntungan bagi investor. Penggelapan ini disebut membuat keuangan perusahaan amburadul. Tidak ada pemasukan sejak awal 2024.
Investor yang mengetahui kebusukan Cherry Lai dan Ken Lai akhirnya memutus kerja sama dengan keduanya pada Juli 2024. Brandoville resmi ditutup. Ken mundur dari kursi direktur utama, sementara Cherry Lai mundur dari kursi komisaris.
Baca Juga : Perbudakan Karyawan di Jantung Jakarta
Saat itu, Ken Lai dan Cherry Lai disebut menghalang-halangi akses para karyawannya untuk menagih pesangon pemutusan hubungan kerja. Begitu pula akses investor kepada karyawannya. Padahal Cherry dan Ken justru menagih uang pesangon mereka sendiri kepada investor sebesar 16 kali gaji.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta Hari Nugroho mengatakan investor Brandoville Studios adalah PT Sumbergas Satya Primadya (SSP). Alamatnya, kata Hari, berada di KYB Building, Jalan Cideng Barat Nomor 32, Jakarta Pusat.
“Anak pemilik PT SSP (Ibu Kanny Kamdrawati) senang animasi dan bekerja sama dengan Ibu Cherry Lai dan mendirikan PT Brandoville Studios,” jelas Hari melalui pesan singkat.
Ibu Kanny adalah Dewi Kam, perempuan terkaya di Indonesia. Pada Desember 2023, Forbes Billionaires menempatkan Dewi sebagai orang 10 terkaya di Indonesia dengan total kekayaan US$ 4,45 miliar atau setara dengan Rp 69,11 triliun jika dikonversi menggunakan kurs Rp 15.330 per dolar AS.
Dewi dikenal sebagai pengusaha listrik tenaga uap. Dua dari banyak kerajaan bisnisnya adalah PT Sumber Energi Sakti Prima dan PT Sumbergas Sakti Prima.
Dua ibu dan anak inilah yang disebut berusaha untuk bertemu dengan para karyawannya setelah Brandoville resmi ditutup. Ketika akhirnya keduanya bertemu dengan para karyawan, barulah diketahui kebusukan Cherry Lai dan Ken Lai. Dewi dan Kanny-lah yang akhirnya mendorong para karyawan itu untuk melaporkan Cherry Lai dan Ken Lai ke kepolisian.
“Kami punya keberanian (melaporkan ke kepolisian) awal mulanya karena itu, karena kita akhirnya punya wadah untuk ngomong sama mereka (investor),” terang Ratih.
detikX sudah berupaya mendatangi kantor Kanny dan Dewi di Cideng, Jakarta Pusat, untuk mengonfirmasi kesaksian mantan karyawan Brandoville tersebut. Sayangnya, saat kami berkunjung, keduanya tidak berada di tempat. Kami juga telah mendatangi rumah Kanny di Jelambar, Jakarta Barat. Namun, saat kami datangi, rumah Kanny, yang tercatat dalam laporan pendaftaran merek Brandoville, ternyata hanya ruko kosong.
Kasus kekerasan yang diduga dilakukan Cherry Lai dan Ken Lai ini viral di media sosial pada pertengahan September lalu. Saat itu, Ken dan Cherry diduga sudah melarikan diri ke luar negeri.
Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, Roni Handoko, mengungkapkan keduanya sudah mengajukan izin keluar dari Indonesia alias exit permit only (EPO) sejak 23 Agustus 2024. Cherry dan Ken lantas meninggalkan Jakarta melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 29 Agustus 2024.
“Cuma penerbangannya pesawat apa dan tujuan keberangkatannya ke mana, di kami nggak bisa lihat,” terang Ronny saat dihubungi detikX pekan lalu.
Dalam dokumen Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas), Cherry memiliki nama asli Kwan Cherry Lay. Dia lahir di Hong Kong pada November 1981. Sedangkan Ken bernama asli Cham Chuan Lay, lahir di Kanada pada Oktober 1977.

Potret Ken Lai dalam suatu acara.
Foto : Sosmed Brandoville
Keduanya tinggal di Indonesia sejak 20 Februari 2020 dan sudah dua kali memperpanjang Kitas. Perpanjangan terakhir dilakukan pada 25 Maret 2024. Artinya, Kitas keduanya masih berlaku sampai 25 Maret tahun depan.
Ken merupakan lulusan Vancouver Film School dan University of Toronto, Kanada. Dia memulai kariernya di bidang animasi gim pada 2024 di EA Sport Canada. Dalam laman resmi Brandoville Academy, perusahaan yang juga dimiliki Ken, dia mengklaim pernah terlibat dalam pembuatan proyek gim FIFA, Medal of Honor, Fight Night Champion, NBA Live, dan Resident Evil.
Sementara itu, Cherry Lai merupakan lulusan filsafat di salah satu universitas di Amerika Serikat. Ibunya merupakan warga negara Hong Kong dari Shanghai. Sedangkan ayahnya merupakan orang Bangka.
Kini baik Cherry Lai maupun Ken Lai diduga sudah berada di Hong Kong untuk menjalankan bisnis baru. Polres Metro Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya tengah memburu keduanya karena diduga telah melakukan pelanggaran aturan ketenagakerjaan dan kekerasan kepada karyawannya.
detikX telah berupaya menghubungi keduanya melalui akun media sosial X, Instagram, dan Facebook. Kami juga berkirim surat ke semua laman resmi Brandoville. Namun, sampai naskah liputan mendalam ini diterbitkan, keduanya belum menjawab permintaan wawancara kami.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban