Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 16 September 2024Dinasti politik di Banten mengakar kuat sejak era Orde Baru, saat masih belum terbentuk sebagai provinsi. Kekuatan pengaruh silsilah keluarga untuk kemenangan kontestasi politik itu akan dimanfaatkan juga dalam Pilgub Banten 2024. Calon Gubernur Banten, Andra Soni, mengakuinya. Namun, menurutnya, Koalisi Banten Maju tak hanya akan menggunakan kekuatan keluarga itu, tapi juga ada banyak strategi lainnya yang akan dieksekusi.
"Ya bisa diterjemahkan begitu juga (memanfaatkan kekuatan keluarga besar Natakusuma dan Jayabaya). Bisa diterjemahkan seperti itu. Tapi, secara prinsip, memenangkan pertarungan di Pilkada Banten ini tidak boleh memilah-milah mana yang harus diutamakan, mana yang tidak diutamakan. Kami punya keyakinan bahwa sumbangsih masing-masing wilayah akan mempengaruhi penghitungan akhir suara nanti,” ujar Andra kepada detikX pekan lalu.
Begitu juga dengan kubu pengusung Airin Rachmi Diany sebagai calon Gubernur Banten. Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Banten, Muhlis, mengakui dinasti politik keluarga Ratu Atut Chosiyah adalah salah satu kekuatan untuk memenangkan Pilkada Banten 2024. Namun, sama seperti Andra, Muhlis menjelaskan dinasti politik bukan satu-satunya strategi pemenangan.
“Itu (kekuatan keluarga Ratu Atut Chosiyah) menjadi salah satu modal, tapi modal lainnya dengan solidaritas antarpartai politik yang bergabung yang bekerja sama politik itu dalam pengusungan Bu Airin dan Pak Ade ini menjadi satu modal penting karena kami meyakini kedua figur ini sangat dekat dengan masyarakat,” ujar Muhlis kepada detikX pada Kamis, 12 September 2024.
Airin, yang pernah menjabat Wali Kota Tangerang Selatan selama dua periode, adalah istri Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, yang merupakan adik Ratu Atut Chosiyah. Jadi Airin merupakan adik ipar satu-satunya eks Gubernur Banten yang pernah menjabat selama dua periode, yaitu Ratu Atut.
“Airin maju sebagai cagub ingin tetap berusaha mempertahankan dominasinya di provinsi. Tampaknya ingin meneruskan dominasi yang sudah dibangun oleh kakak iparnya, Ratu Atut,” ujar Lili Romli, guru besar ilmu politik dan peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kepada detikX.
Airin maju sebagai calon Gubernur Banten karena diusung oleh Partai Golkar. Ketua DPD Partai Golkar Banten, yang memberi restu, adalah saudaranya sendiri, yaitu Ratu Tatu Chasanah, yang merupakan adik kandung Ratu Atut. Saat ini Tatu Chasanah menjabat Bupati Serang dalam periode keduanya. Partai lain yang menjagokan Airin dan Ade Sumardi adalah PDI Perjuangan, Partai Buruh, PBB, Partai Gelora, Partai Ummat, dan PKN.
Kekuasaan politik keluarga Ratu Atut di Provinsi Banten dibangun oleh ayahnya, Chasan Sochib. Dia merupakan politikus Golkar yang juga pengusaha sekaligus tokoh masyarakat di Banten yang dulu menolak pemecahan Banten dari Jawa Barat. Namun, saat Banten resmi menjadi provinsi pada tahun 2000, justru dia dan keluarganya yang mendapatkan keuntungan.

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten Andra Soni (kanan) dan Dimyati Natakusumah usai menjalani tes kesehatan di RSUD Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Minggu (1/9/2024).
Foto : ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/gp/wpa
Ratu Atut, anak Chasan Sochib dari istri pertamanya Wasiah Samsudin, terpilih sebagai Wakil Gubernur Banten pada 2001. Atut kemudian menjabat Plt Gubernur Banten pada 2005 setelah Djoko Munandar, yang ketika itu berpasangan dengannya, terjerat kasus korupsi.
Sejak itu, cengkeraman kekuasaan keluarga Chasan Sochib di Banten semakin kuat. Atut terpilih sebagai Gubernur Banten selama dua periode, 2007-2012 dan 2012-2017.
Atut dipecat dari jabatan Gubernur Banten pada 2014 lantaran terjerat kasus suap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar. Adiknya, Wawan, juga dibui karena kasus yang sama.
Meski begitu, pengaruh keluarga Chasan Sochib, khususnya Atut, belum pudar. Kekuasaan Atut di Banten terus berlanjut ketika anaknya, Andika Hazrumy, terpilih sebagai Wakil Gubernur Banten periode 2017-2022.
Tidak hanya di level provinsi, kekuasaan keluarga ini juga merambah ke kabupaten dan kota. Di Serang, adik Atut, Ratu Tatu Chasanah, terpilih sebagai Bupati Serang dua periode, 2016-2020 dan 2020-2024. Adik ipar Atut, Airin, juga terpilih sebagai Wali Kota Tangerang Selatan selama dua periode 2011-2016 dan 2016-2021.
Dalam pertarungan Pilkada 2024 ini, keluarga Chasan Sochib bakal kembali bertarung di gelanggang politik Banten. Airin, tentu saja, maju sebagai cagub Banten. Anak Atut, Andika Hazrumy, maju sebagai calon Bupati Serang. Adik tiri Atut, Ratu Ria Maryana, maju sebagai calon Wali Kota Serang. Lalu Pilar Saga Ichsan, anak Ratu Tatu Chasanah, maju sebagai calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan.
Airin tidak membalas pesan singkat dan telepon kami saat dimintai tanggapan terkait dinasti politik keluarganya tersebut. Begitu pula sejumlah petinggi Partai Golkar. Namun anggota DPRD Provinsi Banten Fraksi PDI Perjuangan Muhlis menyebut tidak ada masalah dengan pencalonan Airin dan keluarganya di Pilkada Banten 2024. Sebaliknya, pengaruh dan popularitas keluarga Airin justru menjadi modal penting untuk PDI Perjuangan dan Golkar memenangkan kontestasi pilkada.
“Yang penting kan tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang sudah ditentukan dan tidak akan melibatkan ASN, tapi lebih pada bagaimana menggalang baik itu tokoh masyarakat, agama, juga tokoh-tokoh pemuda,” tutur Muhlis saat dihubungi reporter detikX.
Baca Juga : Pecah Kongsi Koalisi Prabowo di Daerah

Pesaing Trah Atut: Natakusumah dan Jayabaya
Di Koalisi Banten Maju, Andra Soni berpasangan dengan Achmad Dimyati Natakusumah, yang membangun dinasti politiknya di Pandeglang. Dimyati pernah menjabat Bupati Pandeglang selama dua periode, yakni pada 2000-2005 dan 2005-2009. Setelah itu, kekuasaan trah Natakusumah di Pandeglang diteruskan istri Dimyati, Irna Narulita, yang juga menjabat Bupati Pandeglang dua periode pada 2016-2021 dan 2021-2024.
Dimyati Natakusumah juga pernah terseret kasus korupsi pada 2010. Dia menjadi terdakwa dalam kasus suap Rp 1,5 miliar kepada anggota DPRD Kabupaten Pandeglang untuk memuluskan pinjaman dari Bank Jawa Barat.
Di samping trah Natakusumah, Koalisi Banten Maju juga disokong Iti Octavia Jayabaya, yang merupakan kader Partai Demokrat. Iti merupakan anak mantan Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya, yang menjabat pada 2003-2008 dan 2008-2013. Iti melanjutkan tampuk kepemimpinan ayahnya itu pada periode 2014-2019 dan 2019-2023.
Dalam Pilkada 2024 ini, trah Dimyati dan Jayabaya ingin memperluas dan mempertahankan kekuasaan politiknya. Raden Dewi Setiani, adik kandung Dimyati, maju sebagai calon Bupati Pandeglang. Dia bersaing dengan Diana Drimawati Jayabaya, yang merupakan putri mantan Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya. Sedangkan putra Mulyadi, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, maju sebagai calon Bupati Lebak.
Saat ini, kekuasaan trah Jayabaya di Lebak berupaya dipertahankan melalui adik Iti, Hasbi Asyidiki Jayabaya. Hasbi maju sebagai calon Bupati Lebak didampingi Amir Hamzah, mantan terpidana korupsi yang terlibat dalam kasus suap terhadap Akil Mochtar bersama Wawan (suami Airin) dan Atut.
Bagi kubu Koalisi Banten Maju, isu dinasti politik dan korupsi yang lekat dengan keluarga Airin ini justru menjadi peluang bagi mereka untuk mengalahkan dominasi trah Chasan Sochib di Banten, meski sebetulnya dinasti politik itu ada di kubu mereka.
Ketua Dewan Pemimpin Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Banten Gembong Rudiansyah Sumedi memandang tudingan soal dinasti politik tidak pas jika dialamatkan kepada Koalisi Banten Maju. Sebab, kepemimpinan trah Natakusumah dan Jayabaya hanya terbatas di dua wilayah saja, yakni Pandeglang dan Lebak.
Gembong malah berpikir isu dinasti politik akan lebih menguntungkan kubunya. Sebab, masyarakat Banten sudah memahami bahwa isu dinasti politik lebih kental dengan kubu lawan.

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten Airin Rachmi Diany (kanan) dan Ade Sumardi usai menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD Banten, Kota Serang, Banten, Sabtu (31/8/2024).
Foto : ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wpa
“Jadi ini justru memberikan keuntungan bagi Koalisi Banten Maju untuk bisa meraih suara di Pilgub,” tutur Gembong kepada detikX.
Kepada detikX, Andra Soni mengaku dirinya bukan berasal dari basis ‘keluarga besar’. Dia berharap rakyat Banten memilihnya karena tertarik atas gagasan besar.
"Kami tentu punya strategi-strategi, bagaimana bisa menyentuh, ya bagaimana bisa menyentuh langsung kepada seluruh masyarakat Banten melalui segala potensi media yang bisa kita gunakan dengan apa ya seperti penyusunan tim sukses, kemudian aktivasi dari kawan-kawan DPRD yang terpilih, baik dari Partai Gerindra, partai koalisi, kemudian tokoh-tokoh nasional, dan banyak lagi," ujar Andra.
Menurut Lili Romli, daerah-daerah yang dikuasai dinasti politik cenderung lamban dalam pembangunannya. Dalam arti lain, tidak ada kemajuan.
"Ini terlihat dari Indeks GINI yang masih tinggi, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang masih rendah, dan pengangguran yang tinggi. Kasus Tangsel yang dikuasai dinasti tapi daerahnya maju karena memang daerah tersebut sudah menjadi kota mandiri, jadi sudah maju duluan," ujar Lili kepada detikX.
Lantas mengapa kecenderungan masyarakat Banten memilih calon-calon yang berasal dari dinasti politik? "Faktornya ekonomi," sambung Lili, "dan tingkat pendidikan yang masih relatif rendah, tidak ada kekuatan civil society, dan kontrol media massa yang lemah."
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim