Spotlight

Manakala Indonesia Terpanggang Matahari

Sebagian wilayah Indonesia bakal mengalami panas luar biasa hingga November mendatang. Pemerintah menyiapkan langkah mitigasi potensi karhutla dan gagal panen tanaman pangan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 6 Mei 2024

Sumuk. Sepekan terakhir beberapa kota di Indonesia terasa begitu panas. Di Jakarta, suhu udara pada pukul 11.00-14.00 terasa mencapai 40 derajat Celsius. Meski sebetulnya, suhu udara maksimum di Jakarta dalam sepekan terakhir hanya 34,4 derajat Celsius. Sinar matahari terasa terik menyengat kulit.

“Itu karena tidak ada tutupan awan, maka sinar matahari itu langsung ke permukaan secara optimum sehingga, kalau mengenai kulit, itu sangat menyengat,” tutur Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Guswanto kepada detikX pada Kamis, 2 Mei 2024.

Netizen Indonesia sempat menganggap cuaca panas sepekan terakhir ini merupakan dampak dari gelombang panas  alias heat wave di beberapa negara Asia Tenggara. Negara-negara seperti Myanmar, Kamboja, Vietnam, dan Thailand memang tengah mengalami gelombang panas dengan suhu 40-49 derajat Celsius. Namun, menurut Guswanto, fenomena itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Indonesia. 

Suhu panas di Indonesia lebih disebabkan oleh gerak semu matahari. Sebuah fenomena yang biasa terjadi berulang setiap tahun. Gerak semu merupakan pergerakan matahari dari utara ke selatan atau sebaliknya, yang terjadi setiap tahun. Saat ini posisi matahari berada di kisaran 10-13 derajat Lintang Utara. Ini menyebabkan wilayah Indonesia yang berada di garis ekuator atau titik 0 derajat terpapar sinar matahari secara maksimum.

Ditambah lagi dengan situasi musim yang telah memasuki kemarau, sehingga menyebabkan kelembapan udara di daratan cenderung lebih kering. “Puncaknya diprediksi terjadi sekitar Juli-Agustus 2024, sekitar 75,8 persen wilayah Indonesia memasuki zom (zona musim) kemarau,” jelas Guswanto.

Klaster ketiga yaitu pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku konsesi, praktik pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan lahan gambut.”

Ahli klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan, selain oleh gerak semu matahari, cuaca panas di beberapa kota di Indonesia juga disebabkan oleh fenomena hot spells. Fenomena ketika suhu rata-rata harian wilayah melebihi suhu rata-rata negara selama tiga hari beruntun. Di Indonesia, suhu rata-rata hariannya hanya sekitar 27,7 derajat Celsius.

Sebagian besar kota yang mengalami hot spells berada di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Fenomena ini juga terjadi di wilayah Riau, Pekanbaru, Jambi, dan Palembang. Temperatur suhu di kota-kota ini akan terus-menerus melewati angka 27,7 derajat Celsius mulai Maret hingga November setiap tahun.

“Jadi di kota-kota ini hanya terbebas dari hot spells pada Desember, Januari, dan Februari,” jelas Erma saat dihubungi via telepon pekan lalu.

Penelusuran detikX di laman accuweather.com menunjukkan sejumlah wilayah Indonesia yang terkena dampak hot spells memang bakal seperti terpanggang dalam satu bulan ke depan. Di Jakarta, pada 6 Mei hingga 6 Juni 2024, suhu rata-rata maksimum harian berada di kisaran 30-34 derajat Celsius. Namun di kulit, suhu panas ini akan terasa seperti 36-40 derajat Celsius.

Di Semarang, temperatur suhu di kota ini akan berada pada kisaran 31-35 derajat Celsius dan terasa seperti 37-40 derajat Celsius. Indeks ultraviolet selama sebulan ke depan di dua kota ini juga mayoritas berada di ambang batas moderat, yakni 6-9 poin. Meski pada beberapa hari indeks UV berada di batas moderat, yakni 3-5 poin dan di titik terendah 0-2 poin.

Erma Yulihastin bilang indeks UV yang berada di atas ambang batas moderat itulah yang menyebabkan temperatur suhu terasa lebih panas dari suhu aktualnya. Paparan indeks UV yang tinggi dalam waktu beberapa jam bisa menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, di antaranya dehidrasi dan heat strokeHeat stroke merupakan kondisi ketika tubuh tidak mampu lagi menahan panas matahari. Bagi orang yang sedang dalam kondisi tidak fit, heat stroke bisa sampai menyebabkan kematian.

“Jadi jangan terlalu lama di panas itu. Harus sering-sering ngadem, entah di bawah pohon atau di ruangan ber-AC,” tukas Erma. 

Deteksi hotspot (titik api) menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar (NOAA20, S-NPP, TERRA dan AQUA) memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan.
Foto : BMKG

Selain menimbulkan masalah kesehatan, temperatur suhu yang tinggi berpotensi melahirkan sebaran titik panas di beberapa wilayah. Sebaran titik panas dapat menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Direktur Jenderal Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Laksmi Dhewanti mengatakan potensi karhutla pada 2024 rawan terjadi di Kalimantan Timur, Riau, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Barat. 

Meski demikian, Laksmi meyakini potensi karhutla tahun ini tidak akan seluas pada 2023. Tahun lalu, saat Indonesia dilanda kekeringan akibat El Nino, sekitar 1,16 juta hektare lahan di Indonesia terbakar. Sekitar 370 ribu hektarenya merupakan kawasan padang rumput. Pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi sejak dini agar luasan karhutla tahun ini bisa dikurangi. 

Langkah mitigasi tersebut telah dibahas sejumlah kementerian/lembaga di kantor KLHK pada Kamis, 14 Maret 2024. Rapat dipimpin langsung oleh Menko Polhukam Hadi Tjahjanto. Dalam persamuhan itu, pemerintah memperkirakan potensi karhutla bakal terjadi pada Mei 2024 di Nusa Tenggara Timur dan meluas ke beberapa wilayah lain pada Juni-September 2024.

Upaya pencegahannya sudah mulai dilakukan dari sekarang dengan terus memantau sistem perangkat bahasa kebakaran yang dimiliki BMKG dan penerapan tiga klaster solusi penanganan karhutla. Klaster pertama, kata Laksmi, penanggulangan berdasarkan analisis cuaca. Lalu, pengendalian operasional dengan sistem satgas patroli terpadu di tingkat wilayah yang dilakukan TNI, Polri, BNPB, dan BPBD.

“Klaster ketiga yaitu pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku konsesi, praktik pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan lahan gambut,” jelas Laksmi melalui keterangan tertulis pada Minggu, 5 Mei 2024.

Upaya mitigasi lainnya adalah potensi kegagalan panen sejumlah tanaman pangan, seperti beras, jagung, dan kedelai, juga sudah mulai disiapkan pemerintah. Langkah mitigasi ini telah dilakukan sejak April lalu. Kementerian Pertanian telah menyebar puluhan ribu pompa air ke seluruh wilayah Indonesia untuk memastikan pengairan pada sawah tetap bisa dilakukan meski terjadi kekeringan.

Kepala Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Rahman Rahim mengungkapkan pada musim kemarau sungai-sungai kecil biasanya mengalami kekeringan. Pompa dibutuhkan untuk menutup kekeringan yang terjadi pada sungai-sungai tersebut. Air dipompa dari sungai-sungai besar yang berada dekat dengan sungai-sungai kecil ini. 

  

“Pak Menteri (Andi Amran Sulaiman) sudah mengatasi itu jauh-jauh hari, karena kemarin itu kita mulai dari dampak El Nino,” jelas Rahman kepada detikX pekan lalu. 

Dari segi ketersediaan, langkah antisipasi juga telah dilakukan. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan produksi tanaman pangan, termasuk beras, sedang digenjot dalam beberapa bulan terakhir. Ini agar Indonesia mengalami surplus beras pada Mei dan Juni mendatang.

Untuk kebutuhan pokok lainnya, seperti daging, gula, bawang putih, dan kedelai, bakal dipenuhi melalui skema impor. Saat ini impor untuk empat kebutuhan bahan pokok ini masih terus berjalan, sehingga Gusti meyakini stok pangan Indonesia masih cenderung aman.

“Jadi untuk dua-tiga bulan atau lima bulan ini kita sudah mencukupi,” pungkas Gusti. 


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Alya Nurbaiti
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE