Ilustrasi : Edi Wahyono
Kamis, 2 Mei 2024PKB secara terbuka menyambut dengan mesra kedatangan Prabowo di markasnya pada Rabu, 24 April 2024. Pertemuan itu digadang-gadang sebagai tanda pinangan Prabowo kepada PKB setelah ditetapkan KPU sebagai pemenang pilpres.
Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid menegaskan pihaknya memiliki sikap yang sama dengan Partai NasDem dan Gerindra terkait pilpres. PKB menerima secara keseluruhan hasil pilpres dan menyatakan siap berkolaborasi.
"Ya, PKB pandangannya sama dengan Gerindra bahwa pilpres sudah selesai. Sama juga dengan NasDem bahwa hasil pilpres sudah ditetapkan oleh KPU. Secara konstitusi harus kita hormati dan, kedua, pandangannya sama bahwa keadaan ke depan kerja-kerja baru ke depan itu pasti membutuhkan kolaborasi," kata Jazilul kepada detikX pada Jumat, 26 April 2024.
Saat disinggung terkait kesiapan bergabung dengan kubu presiden terpilih, Jazilul mengatakan, dalam pertemuan dengan Prabowo Subianto, telah dilakukan diskusi terkait arah politik ke depan.

Presiden terpilih periode 2024-2029 Prabowo Subianto saat bertandang ke kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu (24/4/2024). Dia disambut Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.
Foto : Aditya Pradana Putra/Antarafoto
"Tentu, yang penting PKB hari ini kan sudah bersilaturahmi dan menyamakan visi. Kita tunggu saja nanti sampai tanggal 20 Oktober, kira-kira seperti apa ketika Pak Presiden, Pak Prabowo, menggunakan hak prerogatifnya," ucapnya.
Ya, Pak Prabowo mengajak agar suasana politik dan kerja-kerja politik ke depan terjadi kolaborasi dan persatuan. Nah, PKB tentu sama pandangannya bahwa tantangan yang berat ke depan ini harus dihadapi dengan persatuan dengan kolaborasi dengan sinergi dari semua kekuatan termasuk juga kekuatan umat Islam yang diemban oleh PKB."
Ketika ditanya apakah sudah ada ajakan resmi dari Prabowo kepada PKB untuk turut bergabung dalam koalisi pemerintah, Jazil tak membantah. Menurutnya, wajar Prabowo mengundang PKB ke dalam koalisi mengingat PKB adalah partai berbasis Islam terbesar. Guna menghadapi tantangan pemerintahan ke depan, presiden terpilih dipandang perlu mengakomodasi keberadaan partai yang merepresentasikan kalangan Islam.
"Ya, Pak Prabowo mengajak agar suasana politik dan kerja-kerja politik ke depan terjadi kolaborasi dan persatuan. Nah, PKB tentu sama pandangannya bahwa tantangan yang berat ke depan ini harus dihadapi dengan persatuan dengan kolaborasi dengan sinergi dari semua kekuatan termasuk juga kekuatan umat Islam yang diemban oleh PKB," ucap Jazil.
Terkait bagi-bagi kursi menteri, kata Jazilul, proses perbincangan belum sampai di titik tersebut.
Di sisi lain, PKB menegaskan masih membuka kemungkinan untuk menjadi oposisi. "Ya tentu itu sangat terbuka, tergantung proses pembicaraan, tergantung juga proses dinamika yang ada di masyarakat," tegasnya.
Menurut pria yang akrab disapa Cak Jazil tersebut, ke depan akan ada beberapa pertemuan lanjutan antara PKB dan pihak Prabowo. Selain itu, PKB disebut akan aktif menjalin kontak dengan partai-partai lain. Selain konsolidasi seusai pilpres, serangkaian pertemuan itu juga untuk mempersiapkan medan laga pilkada serentak.
Setelah bertemu dengan Prabowo, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin juga mengungkapkan hal serupa. Dia menegaskan PKB mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran.
"Pertanyaan soal pertemuan kemarin (dengan Prabowo), saya rasa sudah tidak harus dijawab karena sudah cetho welo-welo (mendukung Prabowo-Gibran). Sudah barang jelas, jelas terpampang gitu masih ditanyakan lagi, itu namanya meragukan," kata Cak Imin menjawab pertanyaan wartawan di kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, pada Rabu, 24 April 2024.
Ke depan, PKB ingin bekerja sama dengan pemerintahan Prabowo-Gibran. Termasuk kerja sama di parlemen dan eksekutif yang sudah terjalin selama ini akan dilanjutkan.
"PKB dan Gerindra ingin terus bekerja sama lebih produktif lagi, apalagi Pak Prabowo sebagai presiden terpilih menghadapi berbagai agenda pembangunan yang begitu menantang di masa yang akan datang," ujarnya.
Muhaimin juga menitipkan delapan agenda perubahan kepada Prabowo sebagai presiden terpilih periode 2024-2029. Delapan agenda perubahan PKB untuk bangsa tersebut terkait merawat dan memperkuat kualitas demokrasi, menjamin kebebasan rakyat berbicara dan mengkritik, menjamin kebebasan pers sebagai pilar ke-4 demokrasi, memperluas kesempatan berusaha, hingga menciptakan lapangan kerja.
Baca Juga : Politik Mudah Move On Surya Paloh
"Masyarakat ini semakin kritis, tuntutannya besar, kalau nggak ada perubahan skenario dan cara kerja, ya berat mengantisipasi," katanya menegaskan.
Di sisi lain PAN, salah satu pengusung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024, meminta PKB dan Partai NasDem tidak membawa visi perubahan jika bergabung ke koalisi Prabowo-Gibran.
"Kalaupun tetap harus masuk, PKB dan NasDem harus menyatakan mengubah visi dan orientasinya. Dari perubahan menjadi keberlanjutan dan penyempurnaan. Ini sangat penting agar masyarakat dan partai-partai yang ada tidak bingung," kata Ketua DPP PAN Saleh Partaonan Daulay, kepada wartawan, Minggu (28/4/2024).
"Kan tidak enak kalau hari ini A, besok B. Hari ini perubahan, eh beberapa hari kemudian langsung berada di keberlanjutan dan penyempurnaan," tambahnya.
Meski begitu, Saleh mengapresiasi langkah NasDem dan PKB yang akan mendukung Prabowo-Gibran. Hal itu menandakan adanya pengakuan atas kemenangan Prabowo-Gibran dari lawan politiknya pada Pilpres 2024.
"Kalau begini, tensi politik kan akan turun. Masyarakat akan semakin dewasa. Serang-menyerang di medsos diharapkan akan hilang. Kita kembali bersatu untuk kepentingan masyarakat," ucap Saleh.
Dosen dan periset politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan pertemuan PKB dan Prabowo adalah sinyal kuat masuknya PKB ke dalam koalisi pemerintahan.
"Cuma beda gaya saja, gaya PKB dengan gaya NasDem gitu loh. Jadi gaya komunikasinya beda saja, tetapi tujuannya sama. NasDem sudah masuk (koalisi Prabowo), PKB pun sama," kata Ujang kepada detikX pada Rabu, 1 Mei 2024.
Menurut Ujang, PKB tidak punya tradisi menjadi oposisi dan selalu nyaman mendukung. Pilihan itu juga dipandang paling menguntungkan bagi PKB sebagai partai Islam terbesar.
"99,9 persen PKB tidak akan menjadi oposisi. Karena, kalau menjadi oposisi, cenderung dikerjai, cenderung dipereteli, cenderung ribet, cenderung sulit, cenderung tersingkirkan. Jadi yang realistis, yang rasional, yang pragmatis, ya PKB masuk pemerintahan Prabowo-Gibran seperti itu kalkulasinya," ujarnya.
Kabar Partai Lain Pengusung Anies Baswedan
PKS masih belum mengutarakan sikapnya terkait bergabung dengan koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran atau tidak. Juru bicara PKS Mabruri mengatakan pihaknya belum menentukan sikap karena masih menunggu hasil musyawarah partai. Menurutnya, keputusan menjadi oposisi atau tidak ditentukan oleh keputusan partai, bukan hanya berdasarkan keinginan segelintir tokoh kunci PKS.
"Itu yang membuat kita jadi kelihatan tidak cepat menanggapi. Jadi itu masalahnya, bukan masalah kita mau atau tidak mau, tetapi semua maslahat dan mudaratnya kita kaji. Dari situ nanti kita akan ambil keputusan," kata Mabruri kepada detikX pada Selasa, 30 April 2024.

Presiden terpilih periode 2024-2029 Prabowo Subianto saat bertandang ke kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu (24/4/2024). Dia disambut Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.
Foto : Gisella Previan Laoh/detikcom
Ia mengatakan baik PKB maupun Partai NasDem tidak memberikan ajakan maupun saran. Kedua partai menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada PKS. Adapun kubu pemenang disebut juga belum terlalu intens melakukan pendekatan kepada PKS.
"Yang jelas, kami dengan Pak Prabowo ini sudah pengalaman dua kali mengusung beliau pada 2014 dan 2019. Jadi secara personal, PKS dengan Pak Prabowo sebenarnya ya nggak jauh-jauh amat gitu loh. Jadi sebenarnya yang sudah kita pernah rajut tinggal dikomunikasikan saja sedikit. Beberapa kawan di DPR juga sering berkomunikasi dengan teman-teman di Gerindra, " ucapnya.
Sedangkan Partai NasDem sudah secara terang membuka diri untuk bergabung dengan koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran. Ketua Umum NasDem Surya Paloh sudah berulang kali bertemu dengan Prabowo.
Sekjen Hermawi Taslim mengungkapkan kompetisi Pilpres 2024 sudah berakhir. Harusnya semua kandidat bisa saling berangkulan kembali.
“Setelah putusan MK, kita merasa saatnya kami move on. Pertandingan ini ada ending-nya, kompetisi ini ada akhirnya. Kami selalu memisalkan, bahkan petinju yang sudah babak belur pun, matanya sembap, nggak bisa melihat orang lagi, di ronde terakhir ketika lonceng berbunyi, mereka berpelukan,” jelas Hermawi Taslim ketika ditemui detikX di lantai 19 NasDem Tower, Selasa, 30 April 2024.
Hal senada juga diungkapkan Ketua DPP NasDem Irma Suryani Chaniago. Menurutnya, Partai NasDem akan mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran tanpa syarat.
“NasDem memang berniat mendukung itu tanpa mahar dan syarat, memang selalu begitu. Dari dulu dukung Jokowi dua periode juga tanpa syarat. Nah, kalau kemudian ada tawaran, ya itu lain. Tapi kami nggak pernah menyodorkan nama, nggak pernah, pasti diminta. Itu bedanya kami dengan partai lain ya, kami nggak menyodorkan. Diminta, lalu kami menyiapkan,” ujar Irma kepada detikX.
Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban