Ilustrasi: Edi Wahyono
Selasa, 13 Februari 2024Pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih presiden, wakil presiden, dan anggota dewan perwakilan rakyat menjadi momen yang disambut antusias oleh masyarakat Indonesia. Inilah waktu yang melibatkan setiap insan secara langsung untuk menentukan pemimpin negeri yang memengaruhi nasib pada masa mendatang.
Omar, bukan nama sebenarnya, turut merasakan spirit untuk menggunakan haknya dalam Pemilu 2024 ini. Omar mengaku ini pertama kalinya dia merasakan dorongan untuk benar-benar menggunakan hak pilihnya.
“Awalnya aku hampir apatis. Tapi melihat gaya kampanye salah satu paslon (pasangan calon presiden-wakil presiden) yang beneran menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan berpendapat, yang berdiskusi, dan berani dikritik, itu kan tanda-tanda orang tidak antikritik. Nah, mulai ada tanda-tanda, kayaknya ini orang yang kupilih,” kata Omar kepada detikX, Jumat, 9 Februari 2024. Oman memang mengaku tidak puas terhadap situasi di Indonesia belakangan ini, terutama dari sisi hukum dan kebebasan berpendapat.
Kesungguhan niat Omar dibuktikan dengan relanya ia merogoh kocek untuk ongkos pulang kampung yang tidak murah. Demi bisa mencoblos, Omar, yang sudah tiga tahun merantau di Jakarta, membeli tiket pesawat menggunakan uang tabungannya untuk mudik ke Lampung. Pemuda berusia 27 tahun itu bahkan memberanikan diri minta izin untuk beberapa hari work from home kepada atasannya.
Omar terlambat mengetahui informasi batas waktu pindah tempat pemungutan suara. Menurutnya, informasi tersebut tidak mudah dijumpai di media sosial. Alhasil, Omar pun tak bisa memanfaatkan opsi tersebut. “Tahun ini lebih niat. Aku bela-belain nyoblos dan pulang ke Lampung, karena ada harapan di paslon yang aku pilih, kayaknya banyak beresonansi dengan apa yang aku percaya nilai-nilainya,” ujar Omar.
Omar bilang selama ini mendalami para paslon melalui media sosial. Ia tak memerlukan berdiskusi dengan teman maupun keluarga. Tak berbeda jauh dengan Omar, Ratih, yang tinggal di Madiun, Jawa Timur, mengamini pendapat yang bertebaran di media sosial yang lantas menjadi panduannya untuk menentukan capres pilihannya.

Foto Ilustrasi: Salah satu TPS di Bogor yang sedang melakukan persiapan untuk pemungutan suara 14 Februari 2024
Foto: Antara Foto/Yulius Satria Wijaya
Ratih merasa belum pernah sebegitu detail mencari alasan untuk memilih salah satu paslon. Dalam pemilu sebelumnya, misalnya, ia tak terlalu menggubris profil para capres. Tapi ia menyadari mengapa pemilu tahun ini membawa suasana yang membuat anak muda semakin ingin tahu dengan para capres-cawapres. Ini membuat Ratih juga kian berminat melihat visi-misi capres sasarannya.
“Aku ingat banget ada pernyataan dia (capres) soal dukungan ke perempuan yang bebas berkarya, terus ngasih cuti melahirkan juga untuk suami, terus banyak poin perempuan dan pemberdayaan. Itu concern aku juga sebagai perempuan,” tandasnya melalui pesan singkat.
Visi-misi capres nyatanya bisa memantapkan pilihan para pemilih ketika merasa gamang memutuskan. Itulah yang dirasakan Putri, anak muda yang kini bekerja sebagai guru honorer di sekolah negeri. Putri sebenarnya penuh keraguan pada semua paslon. Tetapi visi-misi salah satu capres di bidang pendidikan yang mengakomodasi keluarga miskin, menurutnya, menjadi langkah baik untuk memeratakan akses pendidikan.
“Programnya lumayan oke, rekam jejaknya juga oke. Yang lain soalnya rekam jejak kinerja dan lainnya membuatku kurang sreg. Terus juga yang paling penting beberapa visi-misinya nggak realistis. Ada yang visi-misinya, program kerja, yang tidak mengatasi masalah dari akarnya, kurang pas jadinya di aku,” terang Putri.
Agak berbeda dengan Putri, Fitri, yang juga merupakan anak muda, menentukan capres pilihannya dengan berdiskusi dengan keluarganya. Bahkan itu berperan sebanyak separuh dari keputusannya yang kini telah mantap. Apalagi orang tuanya pernah aktif di kegiatan partai tertentu.
“Jadi semakin tahu dalamnya seperti apa, dan bikin mantap,” ucap Fitri kala ditemui di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Namun Putri juga mempertimbangkan rekam jejak paslon. Calon yang berpengalaman duduk di lembaga eksekutif dan legislatif, menurutnya, ideal. Fitri juga menilai calon yang tak punya masa lalu yang kelam layak untuk dipertimbangkan dan, untuk itu, ia banyak berdiskusi dengan teman-temannya.
Diskusi dan mengobrol dengan teman juga dilakukan oleh Rehan, tapi baginya itu hanya menambah wawasan, tak sampai memengaruhi keputusan akhirnya. Rehan pada hari terakhir tenggat mengurus pindah DPT sudah mengantre selama empat jam ketika berjumpa detikX di kantor KPU Jakarta Selatan, Rabu, 7 Februari 2023.
Ia mengaku baru sempat mengurus pindah DPT karena menunggu surat keterangan kerja dari kantor yang tak kunjung diberikan. Selain itu, pekerjaan yang menumpuk membuatnya baru sempat mengurus setelah pulang bekerja.
Rehan rela menunggu agar hak suaranya tidak disalahgunakan, karena ia tak bisa pulang kampung nantinya. Rehan pun sudah memiliki paslon yang ia gadang-gadang memimpin Indonesia. “Saya setuju (dengan paslon yang) melanjutkan proyek yang sudah berjalan dan memberikan dampak positif, seperti IKN dan hilirisasi industri. Berapa banyak uang negara yang hangus jika proyek sebesar itu tidak dilanjutkan dan mengganti dengan proyek lain,” tegasnya.
Tak hanya Rehan, Astrid, yang juga baru sempat mengurus pada hari terakhir, juga memiliki pandangan yang sama terkait fondasi ia memilih capres yang hendak ia coblos. Astrid merasa perjalanan Indonesia masih panjang untuk menjadi negara maju, dan tak baik memulai semuanya kembali dari awal.
“Pokoknya aku mau Indonesia ini maju ke arah Indonesia emas. Dan aku sudah melihat hasilnya selama ini,” katanya sembari mengantre sedari tiga jam lalu. Astrid juga menuturkan terkait dengan program salah satu paslon yang tampak realistis dan dibutuhkan banyak orang, seperti makan siang gratis.
Menurut peneliti di Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aisah Putri Budiatri, di setiap pemilu selalu ada beberapa aspek yang memengaruhi pilihan politik pemilih, di antaranya informasi media, pilihan politik keluarga, dan pengaruh pilihan politik lingkungan terdekat.
“Namun ada hal menarik dari kondisi saat ini. Karena besarnya jumlah pemilih muda (termasuk Generasi Z dan Milenial) dan kuatnya efek media sosial dalam kehidupan masyarakat, terutama pemilih muda, maka membawa warna berbeda dalam pilpres saat ini,” terang Aisah kepada detikX.
Aisah menilai, dalam dua pilpres terakhir, peran media sosial sangat signifikan karena media sosial menjadi sumber informasi politik baru yang tingkat pengaruhnya tinggi karena informasi tersebar cepat, masif, dan mudah.

Ilustrasi Foto: Istana Merdeka
Foto: Danu Damarjati/detikcom
“Situasi ini membuat pemilih pada Pemilu 2024 menjadi semakin cerdas dalam menentukan pilihannya. Berbeda dengan dahulu, pemilih saat ini punya peluang besar menjadi lebih independen menentukan pilihan politiknya dengan tidak hanya berbasis pengaruh pilihan politik keluarga dan lingkungan, tapi juga menentukan berbasis informasi yang cenderung dipilah-pilah juga,” kata Aisah.
Senada, Florida Andriana, Chief Growth Officer Think Policy & Co-initiator Bijak Memilih, mengatakan, dengan adanya informasi yang bertebaran di media sosial, terutama bagi pemilih muda, mereka semakin antusias masuk dalam diskusi politik terkini. “(Sehingga) pemilih muda Indonesia mempertimbangkan beberapa aspek, termasuk rekam jejak individu dan track record partai,” ujar perempuan yang disapa Ori tersebut.
Meski ada beragam faktor, peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro menyebut figur capres masih menjadi faktor paling utama yang dipertimbangkan para pemilih. “Figur itu sangat dominan, karena yang dipilih saat mencoblos itu figur. Dan di masing-masing capres ini (makanya) memiliki citra masing-masing di mata pemilih,” jelas Bawono.
Dalam survei Indikator Politik pada 28 Januari hingga 4 Februari 2024, alasan tertinggi memilih masing-masing paslon masih ditempati oleh citra figur paslon tersebut. Di antaranya tegas, berwibawa, berlatar belakang militer, kemudian perhatian pada rakyat, serta pintar atau berwawasan luas.
Reporter: Ani Mardatila
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Irwan Nugroho