SPOTLIGHT

Hidup Irit dengan Motor Listrik

Penggunaan motor listrik diklaim 16 kali lebih hemat dibandingkan motor bensin. Booming motor listrik diprediksi tinggal menunggu waktu.

Foto: Muhammad Iqbal/Antara

Kamis, 28 Desember 2023

Di garasi rumah Ilham Bachtiar, 30 tahun, di Arcamanik, Bandung, Jawa Barat, berjajar empat kendaraan listrik. Satu tipe sepeda motor listrik, dua motor listrik, dan satu jenis motor listrik konversi. Keempatnya digunakan secara bergantian. Sesekali untuk mengantar istri ke kantor, main ke rumah karib di Cimahi, atawa mengunjungi tempat usahanya di Kopo dan Sukajadi, Bandung.

Dalam sehari, Ilham paling tidak bakal menempuh jarak sekitar 30 kilometer dengan menggunakan kendaraan roda dua ini. “Ngecas-nya cuma dua kali (dalam sepekan),” tutur content creator Instagram dan TikTok asal Bandung ini kepada reporter detikX pada Selasa, 26 Desember lalu.

Ilham mengaku menggunakan kendaraan listrik roda dua sejak awal 2022. Mulanya, dia coba-coba membeli sepeda motor listrik dengan harga Rp 8 juta. Sejak menggunakan sepeda motor listrik itu, Ilham merasa lebih hemat. Dia tidak perlu membeli bensin, cukup mengisi baterai di rumah. Biayanya tidak sampai Rp 500 sekali cas. Dengan Rp 500 itu, dia sudah bisa menempuh jarak 30-40 kilometer.

Tetapi Ilham merasa performa sepeda motor listrik belum cukup baik jika dibandingkan motor BBM. Akhirnya dia kembali membeli satu motor listrik dengan harga Rp 10 juta. Performa motor listrik ini lebih baik, tetapi juga belum bisa setara dengan motor BBM. Jarak tempuh tidak begitu jauh dan akselerasinya saat di jalan menanjak belum cukup kuat. Ilham butuh merakit ulang baterai hingga dinamo motor itu sehingga bisa digunakan untuk jarak yang jauh dan melewati jalan-jalan menanjak.

“Saya upgrade daleman semuanya dan saya terakhir sudah ngabisin upgrade total termasuk motornya Rp 36 jutaan,” kata pria yang kerap membuat konten-konten otomotif di media sosialnya ini.

Suasana Inabuyer EV Expo 2023 yang berlangsung pada 28-30 November 2023 di Smesco Exhibition Hall, Jakarta. Pameran sepeda motor listrik dan ekosistemnya itu memamerkan produk sepeda motor listrik, motor konversi, serta teknologi dan inovasi terkini.
Foto: Safir Makki/CNN Indonesia

Setelah berhasil merakit satu motor listrik sendiri sehingga bisa menyaingi motor BBM, Ilham kembali kepincut pada satu tipe motor listrik lain. Kali ini, jauh lebih mahal: Rp 43 juta. Dia membeli motor ini pada November 2023 dengan memanfaatkan subsidi dari pemerintah Rp 7 juta. Dengan begitu, Ilham cukup membayar Rp 35 juta.

Motor ini, menurut Ilham, jauh lebih baik. Daya baterainya cukup besar, sekitar 6.000 watt. Jarak tempuhnya lebih jauh, bisa 100-120 kilometer. Secara tenaga, motor ini sudah setara dengan motor bensin 150 cc. Baterainya terbuat dari litium, bukan lagi menggunakan akumulator seperti dua kendaraan listrik yang Ilham beli sebelumnya. Waktu pengisian baterainya juga lebih cepat, hanya 2-3 jam.

“Jadi, kalau mau yang setara dengan motor bensin itu, harganya memang lumayan mahal karena kapasitas baterainya semakin besar karena performa motor listrik ini kan tergantung baterainya, ya,” jelas Ilham.

Selain tiga motor listrik itu, Ilham punya satu motor listrik lain yang dia konversi dari motor BBM. Empat motor itulah yang saat ini digunakan Ilham untuk aktivitas sehari-hari. Di rumahnya, sudah tidak ada lagi motor konvensional. Ilham sudah tidak lagi menggunakan motor konvensional dalam setahun terakhir. Sebab, dia merasa menggunakan motor listrik jauh lebih nyaman dan hemat biaya.

Dengan menggunakan empat motor listrik, Ilham cukup merogoh kocek Rp 20 ribu per pekan untuk pengisian daya. Hampir tiga kali lipat lebih hemat dibandingkan saat dia menggunakan motor BBM. Dulu, kata Ilham, dengan satu motor BBM saja, dia perlu mengeluarkan uang Rp 50 ribu dalam sepekan untuk mengisi bensin.

Motor listrik SMEV
Foto: Instagram Riza Ardiana

Motor listrik juga jauh lebih hemat dari segi perawatan. Tidak dibutuhkan biaya penggantian oli atau servis rutin bulanan sebagaimana motor BBM. Tetapi, di samping itu, pengguna motor listrik perlu juga sesekali mengecek kapasitas baterai dan dinamonya di bengkel resmi. Hanya masalahnya, bengkel motor listrik masih sedikit. “Kalau di Bandung masih hitungan jarilah bengkelnya,” sambung pemilik akun Instagram @bapakcanggih ini.

Meski motor listrik terbilang lebih hemat, menurut Ilham, penggunanya juga tetap harus menyisihkan uang untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi kerusakan pada baterainya. Apalagi jika rusaknya setelah habis masa garansi. Biasanya produsen motor listrik memberi garansi pada baterai dan dinamonya selama tiga tahun. Setelah habis masa itu, pengguna motor listrik harus membeli lagi baterainya jika terjadi kerusakan.

Nah, harga baterai motor listrik terbilang cukup mahal. Untuk baterai berkapasitas 3.000 watt, harganya sekitar Rp 10 juta. Karena itu, pengguna motor listrik tetap perlu menyimpan uang untuk berjaga-jaga kalau-kalau baterainya rusak. “Kalau teman saya ada yang setiap kali dia ngecas itu dia celengin Rp 4.000 buat jaga-jaga,” jelas Ilham.

Pengalaman yang sama dirasakan Grevel Wahyu, 30 tahun. Grevel mengaku sudah dua bulan menggunakan motor listrik. Dia membeli motor listrik dengan kapasita baterai 6.000 watt. Harganya sekitar Rp 42 juta setelah subsidi pemerintah. Motor listrik ini digunakan Grevel untuk pulang-pergi dari rumahnya di Jababeka, Cikarang, ke kantornya di Delta Silicon, Cikarang, yang jaraknya sekitar 4 kilometer.

Untuk jarak tempuh itu, Grevel mengaku motor yang dimilikinya tidak terlalu banyak memakan daya. Dalam sebulan, Grevel hanya butuh merogoh kocek Rp 20 ribu untuk pengisian baterai. Berbeda jauh saat dia menggunakan motor BBM berkapasitas 150 cc, yang butuh sekitar Rp 320 ribu untuk bensin dalam sebulan. “Gue di rumah kan pakai listrik yang 900 ampere. Itu tadinya sebulan Rp 70 ribu. Sekarang jadi Rp 90 ribu. Itu doang,” kata Grevel pekan lalu.

Pramuniaga merapikan kendaraan motor listrik yang dijual di sebuah diler di kawasan Jalan Fatmawati, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (29/11/2023). Pemerintah menargetkan, pada 2025, populasi kendaraan listrik roda dua dan tiga secara nasional bisa mencapai 6 juta unit dan jumlah tersebut diharapkan terus meningkat hingga 12 juta unit pada 2035. Dengan begitu, Indonesia bisa menghemat penggunaan BBM sebanyak 18,86 juta barel atau setara dengan 6,9 juta ton karbon dioksida. 
Foto: Makna Zaezar/ANTARA FOTO

Untuk fitur, Grevel menganggap motor listrik miliknya jauh lebih baik dibandingkan motor BBM. Motor listrik milik Grevel ini sudah tersambung dengan aplikasi di ponsel yang bisa mendeteksi keberadaan motornya sekaligus mengendalikan sistem pengapian motor dari jarak jauh. Fitur ini membuat Grevel merasa jauh lebih aman lantaran dia bisa mematikan motornya dari jarak jauh jika terjadi pencurian.

Di samping itu, motor milik Grevel sudah dilengkapi dengan fitur buzz. Fitur ini selayaknya NOS (nitrous oxide systems) pada mobil. Dengan fitur ini, akselerasi motor untuk mencapai kecepatan tertentu bisa sangat cepat. Jika fitur ini ditekan, torsi motor listrik miliknya bisa ngebut selayaknya motor bensin berkapasitas 250 cc.

Dengan penghematan dan kecanggihan motor listrik ini, Grevel merasa booming motor listrik tinggal menunggu waktu. Problemnya sekarang, kata Grevel, hanya tinggal bagaimana infrastruktur pendukung kendaraan listrik ini bisa diperbanyak. Seperti bengkel, SPLU, dan dealer resmi motor listrik. Kalau itu sudah terpenuhi, Grevel yakin pengguna motor listrik akan semakin menjamur. Sembari pelan-pelan digagas komunitas-komunitas motor listrik di berbagai kota untuk saling bertukar pengetahuan.

“Karena sekarang komunitasnya itu belum ada kalau di Cikarang. Ada sih, tapi cuma di Facebook, dan itu bukan yang tinggal di Cikarang, kan. Komunitas kayak gini kan penting juga biar kita ada tempat buat kumpul-kumpul,” pungkas pria yang berprofesi sebagai design engineer di salah satu perusahaan di Cikarang ini.


Reporter Fajar Yusuf Rasdianto
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho 
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE