SPOTLIGHT

Temali Kasih Konseling Kesehatan Mental

Kebutuhan penyediaan konseling gratis sebagai upaya penguatan psikologis kian bertumbuh di tengah masyarakat. Berbekal tekad dan tujuan mulia, para pendiri mengulurkan tangan untuk memberikan dukungan pemulihan kesehatan mental pada yang membutuhkan.

Ilustrasi: Ilustrasi gangguan kesehatan mental (DW (News)

Selasa, 26 Desember 2023

Alimah Fauzan menyadari pemulihan kesehatan mental berhak dan harus diperoleh oleh para penyintas maupun korban kekerasan berbasis gender (KBG). Trauma akibat kekerasan yang dialami mereka bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari jika tak memperoleh akses konseling. Lebih jauh lagi, bisa membuat mereka kembali menjadi korban.

“Misalnya (jadi) depresi berkepanjangan, kembali menjadi korban, self-harm, suicide, dan sekian tindakan yang merugikan mereka. Karena selama ini mereka merasa sendiri tanpa dukungan psikososial dari mana pun,” tutur Alimah kepada reporter detikX.

Menurut Alimah, ketika layanan konseling disediakan secara gratis, ini membuat para penyintas lebih dimudahkan untuk mengaksesnya. Apalagi, dari pengalaman Alimah, tidak semua penyintas memiliki kesadaran untuk melakukan konseling.Pengalamannya bertahun-tahun sebagai pendamping kasus terkait perempuan di organisasi non pemerintah membuat Alimah tergerak untuk merintis komunitas yang memberikan kesempatan setiap perempuan, transpuan maupun anak-anak untuk berbagi kisah mereka.

Komunitas itu bernama Perempuan Berkisah. Tak hanya sebagai ruang berbagi kisah, Alimah menyadari di tengah perjalanannya penting menyediakan layanan konseling bagi korban kekerasan berbasis gender (KBG). Karena sebagian besar kisah yang masuk dari luar ternyata merupakan penyintas KDRT, kekerasan seksual, maupun perkawinan anak.

“Ruang aman PB bertujuan memudahkan akses layanan konseling dan pendampingan secara gratis kepada penyintas, tidak ada tujuan profit. Kami semua bergerak secara sukarela,” kata Alimah.

Ilustrasi gangguan kesehatan mental 
Foto: Getty Images/iStockphoto/Baona 

Kebutuhan konseling kesehatan mental utamanya semakin krusial ketika Alimah mencoba membuat jajak pendapat yang diisi oleh para pengakses layanan konselingnya. Hasilnya, lebih dari setengahnya mengakui membutuhkan dukungan penguatan mental. “55.5 persen menuliskan masalah mereka kesehatan mental, karena mereka mengalami trauma akibat kekerasan berbasis gender yang mereka alami di masa lalu maupun saat ini,” jelas Alimah.Sejauh ini, komunitas dan layanan konseling ini hanya bisa diakses dari jarak jauh melalui telepon, zoom¸ maupun WhatsApp. Tetapi kelebihannya layanan konseling ini bisa dijangkau dari berbagai belahan Indonesia.

Semua konselor yang menjadi relawan komunitas Perempuan Berkisah terdiri dari berbagai latar belakang mulai dari mahasiswa pasca sarjana psikologi, akuntan, dokter hingga pekerja sosial. Karena layanan ini diperuntukkan untuk korban KBG, tantangannya relawan konselor harus memahami etika konseling keberpihakan terhadap korban tanpa penghakiman.

Selain itu, mereka mesti melakukan pelatihan selama tiga bulan dengan para ahli di berbagai bidang. Sejauh ini, terdapat 20 konselor dalam komunitas Perempuan Berkisah. Tak jarang para konselor ini yang merangkap sebagai pendamping korban menghadapi situasi berisiko apabila kasus KBG masih berjalan. Tetapi ini tak menyurutkan keberanian mereka untuk memberikan konseling kepada korban.

Seiring berjalannya waktu, berbagai dukungan dana maupun tenaga berdatangan dari berbagai yayasan seperti Yayasan IKa, Kawan Puan, dan Indika Foundation. “Namun, prinsip kami, ada atau tiada dana, karena sejak awal spiritnya untuk menolong sesama penyintas, maka konseling tetap (harus) berjalan,” pungkas Alimah.

Salah satu penyintas yang tak ingin disebutkan namanya dan telah menerima layanan konseling dari Perempuan Berkisah mengaku sangat terbantu karena merasa didengar dan divalidasi apa yang telah ia alami. “Aku merasa lega karena mendapatkan penerimaan dengan baik pada waktu itu, mendapatkan validasi yang aku harapkan. Ditawarkan komitmen bersama PB untuk konseling gratis sampai aku merasa pulih,” katanya.

Peduli kesehatan mental sesama ternyata juga bergema di Kota Pelajar, Yogyakarta. Ialah Gereja Kristen Indonesia Gejayan yang sejak tahun 2018 menyediakan layanan konseling gratis. Program itu diinisiasi oleh penatua saat itu, Rosa, dan Betty yang memiliki latar belakang psikologi dan konselor profesional.

Layanan tersebut hadir karena Rosa dan Betty resah dan membaca kebutuhan akan konseling gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Alhasil, kini setiap bulannya ada tiga hingga empat orang yang mengantri untuk mendapatkan konseling tersebut. Padahal relawan konselor sejauh ini hanya dua orang saja, dibantu dua orang magang.

“Tugas konselor, ya, mendengarkan, tetapi dalam artian ini seorang konselor itu tidak boleh memberikan jawaban atas permasalahan. Jadi setiap konseli itu dibantu, difasilitasi untuk bisa melihat sebenarnya secara pribadi kamu mampu melakukan apa, kamu mampu membantu dirimu dengan apa,” ungkap Ketua Program School of Counseling GKI Gejayan, Monika Silalahi melalui zoom.

GKI Gejayan tak sembarangan menerima relawan konselor. Mereka melewati beberapa tahap wawancara dengan Majelis Gereja. Setelahnya mereka mesti menjalani pelatihan dengan para profesional.

Meski disediakan oleh Gereja, Monika mengatakan layanan konselor gratis bisa diakses oleh siapapun dari latar manapun tanpa memandang agama, maupun usia. Misi program ini sebenarnya membuat masyarakat lebih peduli bahwa meminta bantuan tidak harus menunggu ketika benar-benar sakit. Adapun selama ini orang-orang yang mengakses layanan konselor gratis ini datang dengan berbagai ragam situasi.

“Kalau kemarin itu ada yang adiksi, adiksi terhadap obat, obat narkotika maksudnya. Lalu ada juga yang hamil, hamil tapi belum nikah dan itu levelnya masih anak sekolah. Kalau nggak salah kemarin anak SMk dan SMA,” ucap Monika.

Namun, jika level persoalan dan kebutuhan psikologisnya semakin krusial seperti ada pemikiran bunuh diri maupun adiksi narkotika berat, tak jarang konselor meminta bantuan psikolog profesional yang bekerja sama dengan GKI Gejayan.

Tantangan yang dihadapi sejauh ini adalah ketersediaan relawan konselor. Tak jarang relawan konselor berhenti karena merasa sudah cukup berkontribusi maupun membutuhkan ruang untuk merawat kesehatan mentalnya sendiri.

Ilustrasi konseling
Foto: thinkstock 

“Jadi, jika mereka melakukan pelayanan konseling itu semata-mata karena mereka terpanggil untuk melakukannya. Kemudian juga, ada sedikit perubahan sih untuk tahun 2024. Gereja akan memberikan uang untuk relawan konselor yang membutuhkan,” pungkas Monika.

Pendiri Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia (INASP) Dr. Sandersan Onnie mengapresiasi kontribusi masyarakat pada penyediaan konselor gratis. Sebab menurutnya, banyak orang yang memiliki masalah kesehatan mental memiliki kebutuhan untuk didengar dan curhat. “Bagus itu, karena curhat dan ingin didengar itu menjadi kebutuhan dasar kita sebagai manusia,” ucapnya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wahyu Nhira Utami menilai peran masyarakat untuk saling menguatkan keadaan psikologi sekitar amatlah penting. Permasalahan kesehatan mental menurutnya tak bisa hanya dipandang sebagai permasalahan individu, dan tak bisa berfokus hanya pada individu saja.

Oleh sebab itu, IPK Indonesia juga telah membuat modul pelatihan dukungan psikologis awal sebagai bahan ajar bagi masyarakat awam. “(Misalnya) ketika ada orang di sebelahmu yang merasa sedih atau dia sedang merasa tidak baik-baik saja dan kamu bisa meresponnya dengan baik supaya dia juga merasa lebih nyaman, lebih tenang. Dan kalau misalnya dia butuh bantuan, dia bisa mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. At least bantuan secara psikologis gitu,” terang Nhira.

Pekerjaan rumah kesehatan jiwa yang mesti dibenahi menurut Nhira yaitu memperkuat jaring pengaman psikologis mulai dari sektor kesehatan, sektor ekonomi, sosial bahkan masyarakat itu sendiri.


Reporter: Ani Mardatila, Abdurroby Rahmadi (Magang)
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE