Foto: Potret bom-bom Israel hantam gedung di Gaza (AP Photo/Hatem Ali)
Sabtu, 21 Oktober 2023Sejak Israel membombardir wilayah Gaza, Palestina, selama dua pekan, atau sejak Minggu, 8 Oktober 2023, lalu, ribuan warga sipil tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Hingga kini, terdapat 10 orang warga negara Indonesia yang terjebak dalam situasi mencekam di wilayah Gaza. Dari jumlah itu, 6 orang WNI memilih untuk bertahan di Rumah Sakit Indonesia di kawasan Bait Lahiya, Gaza Utara.
“Warga negara Indonesia yang ada di Gaza itu 10 orang. Dan, Alhamdulillah, warga negara Indonesia dalam keadaan aman dan dalam lindungan Allah SWT. Tidak ada kekurangan suatu apapun,” ungkap Abdillah Onim, pendiri Nusantara Palestina Center (NPC) saat dihubungi detikX, Kamis, 12 Oktober 2023.
Ke-10 orang WNI ini sebagian besar bekerja sebagai relawan kemanusian, termasuk tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Rumah Sakit Indonesia. Kebanyakan dari mereka statusnya ada pelajar atau mahasiswa. Beda dengan Bang Onim, sapaan akrab Abdillah Onim, yang telah menetap di Gaza selama 13 tahun. Dia menikahi perempuan asal Gaza dan kini dikauruniai tiga orang anak.
Onim menuturkan, kondisi para WNI ini sama dengan warga lokal lainnya yang terdampak akibat serangan brutal Israel. Salah satunya kesulitan mendapatkan bahan makanan. “Iya, memang dari segi kebutuhan bahan makanan, tidak hanya WNI yang terkena dampak, tapi seluruh warga Gaza terkena dampak akibat dari krisis ekonomi yang terjadi di Gaza,” jelas Onim.
Onim mengatakan telah melakukan rapat dengan pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia guna membicarakan masalah WNI yang mau dievakuasi. Dari 10 orang WNI, ada 6 orang yang tetap memilih untuk tinggal di Gaza, sedangkan 4 orang memilih untuk sementara ke luar dari jalur Gaza. Ke-4 orang ini adalah Bang Onim, istrinya dan anak-anaknya. Mereka memilih pergi ke Mesir.

Krisis air melanda warga Gaza akibat Israel blokade akses
Foto : REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa
Dari pengalamannya selama menetap di Gaza, baru kali ini Onim merasakan peperangan kelompok pejuang Gerakan Perlawanan Islam atau Harakat Al-Muqawwamatul Islamiyah (Hamas) melawan Israel paling besar dan belum pernah terjadi sebelumnya. “Baik itu di negara-negara lain maupun di negara-negara Timur Tengah. Dengan demikian, saya memilih untuk ke luar dulu sementara. Setelah kondusif baru masuk lagi ke Gaza, karena anak-anak sekolah di Gaza, istri saya kerja di Gaza dan saya pun bekerja di Gaza,” ucapnya.
Pemerintah Indonesia tengah melakukan koordinasi dengan Palang Merah Internasional, dan kedutaaan pemerintah Mesir dan Yordania agar warga Indonesia bisa dievakuasi dini mengingat peperangan lebih besar tinggal menunggu waktu. Situasi di kota Gaza pun semakin mencekam dan krisis ekonomi kian parah.
“Kami tidak bisa ke mana-mana dan tidak bisa beraktivitas maupun aktivitas untuk mendapatkan bahan makanan atau mungkin beraktivitas dari segi sisi kemanusian,” tegas Onim.
Sementara dari 6 orang WNI yang memilih tetap tinggal di Gaza, sebagian adalah relawan dari MER-C. Kini semua warga negara Indonesia dalam keadaan aman, karena berlindung di ruang bawah tanah di Rumah Sakit Indonesia di Bait Lahiya, Gaza Utara.
“Iya, Alhamdulillah mereka pada sehat. Listrik masih mereka nikmati, walaupun wifi sudah hilang nggak bisa dipakai. Kondisi mereka masih baik lah. Masih baik,” kata Ketua Presidium MER-C, Dr. Sarbini Abdul Murad, ketika dihubungi detikX, 14 Oktober 2023.
Bahan makanan di pasar atau toko di Gaza menipis, namun stok bahan makanan yang dimiliki WNI ini masih cukup. Apalagi posisi mereka yang dekat dengan perbatasan dan masih terdapat toko obat yang buka. Saat ini, bantuan pangan dari negara lain sudah mulai mengalir, seperti dari Turki, Yordania, dan Arab Saudi. Karenanya, rumah sakit ini merupakan tempat paling aman dibandingkan tempat lainnya di Gaza.

Abdillah Onim atau Bang Onim (kiri), WNI yang menetap di Gaza, Palestina
Foto: Dok Pribadi (Instagram)
“Masih terdengar suara-suara tembakan, ledakan-ledakan itu sering mereka dengar. Jadi Insya Allah tempat yang aman lah, tapi bukan berarti aman itu aman 100% ya, karena tidak ada tempat yang aman di kota Gaza, baik dari awal Rafah sampai dengan Bait Lahia di utara itu,” tutur Sarbini.
Diakui Sarbini, anggotanya yang menjadi relawan di RS Indonesia berstatus mahasiswa. Salah satunya ada yang masih berkuliah di Universitas Gaza. Kehadiran relawan MER-C sendiri sudah ada sejak awal pembangunan RS Indonesia, ikut membuka poliklinik bersalin, membantu penyaluran bantuan kemanusiaan dan pendidikan untuk warga Gaza, penanaman pohon zaytun, hingga membuat sumur air.
Relawan Indonesia ini juga membantu pihak manajemen rumah sakit, seperti menghubungkan dengan pihak Kementerian Kesehatan Palestina bila ada yang diperlukan. “Misalnya ada rumah sakit yang menampung, ada kena bom yang besar kan perlu bantuan, kita kirim bantuan. Kalau ada alat-alat yang rusak diperbaiki. Kita kasih bantuan untuk kita perbaiki, fungsinya seperti itu sebenarnya,” terang Sarbini lagi.
Kini para relawan MER-C, maupun WNI yang tergabung dengan tim relawan lain makin sibuk karena banyak pasien korban serangan bom yang dilancarkan Israel berdatangan. Masalah yang darurat adalah bagaimana mendapatkan peralatan kesehatan dan obat-obatan yang kurang. Biasanya bantuan dari luar negeri begitu cepat masuk, tapi kali ini berbeda.
Dia mencontohkan ada bantuan yang datang malah kena serangan bom, entah salah sasaran atau bagaimana. Lamanya pasukan bantuan kemanusiaan ini juga karena faktor lainnya, yaitu masalah pendekatan diplomasi negara pengirim bantuan dengan negara perbatasan, seperti Mesir. “Asal pemerintah itu bisa melakukan pendekatan diplomatik ke pihak Mesir aja, nanti ada bantuan, nih, dari Indonesia satu kontainer misalnya bisa itu. Selesai sebenarnya itu,” ujar Sarbini.

Momen dramatis evakuasi korban serangan Israel di Gaza
Foto: AP/Mohammad Al Masri
Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk terus mengupayakan evakuasi warga negara Indonesia di Gaza yang masih terkendala. "Saya perintahkan Menteri Luar Negeri untuk hadir dalam pertemuan luar biasa para menteri OKI di Jeddah kemarin, serta untuk terus mengupayakan evakuasi WNI yang saat ini masih terkendala kondisi lapangan," kata Jokowi melalui keterangan pers, Kamis, 19 Oktober 2023.
Kemenlu RI mengatakan, ada 134 orang WNI yang menetap di wilayah konflik Israel-Palestina. Sebagian besar tinggal di Sapir, Israel bagian selatan sebanyak 94 orang. 10 orang WNI menetap di Gaza, dan sisanya sebanyak 39 orang tinggal di Tepi Barat.
"Berdasarkan data terakhir, jumlah warga negara kita yang ada di Palestina tercatat ada 45 orang, di mana sebarannya 10 orang ada di Gaza dan 35 ada di Tepi Barat," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin, 9 Oktober 2023.
Hingga kini Indonesia terus mengupayakan evakuasi WNI di wilayah konflik tersebut, khususnya dari Israel. Sedangkan WNI yang berada di jalur Gaza belum memungkinkan dilakukan evakuasi mengingat pintu perbatasan di Rafah, jalan satu-satunya menuju Mesir, masih ditutup akibat serangan udara pasukan Israel. Belum lagi rencana Israel akan melancarkan serangan darat ke jalur Gaza.
“Karena Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara bagi WNI di Jalur Gaza, upaya evakuasi masih belum memungkinkan karena pintu perbatasan di Rafah, jalan satu-satunya ke Mesir, ditutup akibat serangan udara oleh Israel,” kata Duta Besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina, Ade Padmo Sarwono kepada BBC News Indonesia, 13 Oktober 2023.
Reporter: M Rizal, Rahmat Khairurizqi
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho