Spotlight

Tipu-tipu Sutradara Film Cabul

Irwansyah membuat film porno dengan modal cekak. Para kru dan artis dibayar murah dan diminta mencuci piring, memasak, hingga menyapu rumah untuk kebutuhan syuting.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 25 September 2023

Pada Desember 2022, Virly Virginia dihubungi oleh sutradara bernama Irwansyah untuk diminta membintangi sebuah konten YouTube Kelas Bintang. Kelas Bintang merupakan rumah produksi sekaligus sekolah talent yang dimiliki Irwansyah. Ajakan itu diterima Virly melalui sebuah pesan singkat. Dia mengaku sebelumnya tidak terlalu mengenal Irwansyah.

Mulanya Virly mengira konten tersebut hanya berupa video berisikan kompilasi foto. Sebab, dirinya adalah seorang fotomodel. Nyatanya, di lokasi syuting, ia kaget karena ada beberapa adegan yang mengharuskannya bersentuhan dengan lawan jenis. Proses tersebut juga tidak disertai casting pemeran. Ketika pertama bertemu, Virly langsung diminta beradu peran di sebuah film dewasa.

"Ekspektasinya foto aja. Karena kan ada beberapa konsep foto itu yang memang divideokan untuk di YouTube. Pemikiran aku tuh seperti itu. Nggak yang beneran syuting kamera banyak itu nggak. Karena, begitu (saya) datang ke lokasi pun, lokasinya studio biasa kayak rumah biasa, ruko," kata Virly saat berbincang dengan reporter detikX.

Melihat beberapa kejanggalan tersebut, Virly melayangkan protes kepada Irwansyah. Terlebih saat ada beberapa adegan berciuman dan sentuhan dengan pemeran lain. Namun Irwansyah meyakinkan Virly bahwa produksi film tersebut telah mengantongi izin dan berbadan hukum legal.

Fransiska Candra Novitasari alias Siskaeee saat memenuhi panggilan Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (25/9/2023). 
Foto : Andhika Prasetia/detikcom


Nah, kemudian diiming-imingi oleh pimpinannya (Irwansyah) itu, disampaikan bahwa, ‘Kita legal kok, kita bukan porno kok. Ini masih semi kok, ini masih sesuai dengan standar kok. Bahwa perusahaan kita ini ada legalnya, ada kuasa hukumnya dan lain-lain. Ini kita masih sesuai standar’."

Keanehan tak berhenti di situ. Virly sebagai pemeran tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Bahkan, untuk berdandan, Virly harus melakukannya sendiri tanpa mendapat bantuan dari tim Irwansyah. Parahnya, untuk kebutuhan pakaian, Virly juga harus menyediakan sendiri, bahkan diharuskan membeli.

"Baju, makeup, itu tidak disediakan. Wardrobe itu modal sendiri. Ya harus punya baju seksi, bahkan mesti beli (sendiri). Nggak modal (Irwansyah). Makanya, kenapa makeup-nya sederhana lagi, karena nggak modal," ujarnya.

Terkait upah, Virly mengaku kerap telat dibayar. Mulanya ia dijanjikan gaji Rp 2 juta per syuting film. Namun ia hanya memperoleh uang muka Rp 500 ribu. Proses penggajian juga kerap mengalami keterlambatan. Menurutnya, paling cepat gaji turun tiga hari setelah syuting. Paling lama, upahnya pernah baru dibayar setelah tiga bulan.

"Nyicilnya kadang sejuta dulu, full-nya satu bulan, itu pun kalau kita nggak punya duit lagi. Biar di-callingsyuting lagi sekalian sama yang kemarin. Secara nggak langsung, diikat secara halus," keluhnya.

Anehnya, untuk konsumsi saat syuting, pemain film juga diperintah menjadi juru masak. Virly mengaku harus menyempatkan berbelanja bahan masakan saat jeda syuting. Para artis, menurut Virly, juga diminta turut membersihkan dan merapikan kembali lokasi syuting.

"Saya masak buat banyak orang. Saya ke pasar buat beli bahan. Dijadiin babu, itu nggak dibayar. Beberesjuga, disuruh bantu-bantu. Misalnya talent cowok disuruh angkat-angkat. Nyuci piring juga hasil makan orang," terangnya.

Pengalaman serupa dialami oleh Bima Prawira, salah satu pemeran pria dalam film-film garapan Irwansyah. Menurutnya, satu-satunya fasilitas yang diberikan Irwansyah saat syuting adalah makanan yang diberikan sebanyak tiga kali. Namun, untuk keperluan wardrobe dan makeup, ia diharuskan membawa sendiri.

"Bisa dibilang Irwansyah ini terkenal produser yang pelit. Dia benar-benar pengin memproduksi sesuatu yang bagus dengan bujet yang seminim mungkin," kata Bima kepada reporter detikX.

Bahkan, menurut Bima, bayaran yang diberikan Irwansyah sering tersendat. Jika mengalami keterlambatan gaji, Bima biasanya terpaksa mengajukan kasbon kepada Irwansyah. Sayangnya, kasbon hanya bisa maksimal Rp 200 ribu.

Mulanya Bima mengenal Irwansyah dari salah satu sutradara kenalannya. Ia mengatakan rekannya itu adalah sutradara yang cukup terkenal dan biasa mengerjakan proyek di stasiun TV dan layar lebar. Rekannya itu lalu mengajak Bima bergabung dengan production house milik Irwansyah, yaitu Putaar Film.

Bima menjelaskan setidaknya Irwansyah memiliki dua production house, yaitu Kelas Bintang dan Putaar Film. Kelas Bintang dikhususkan untuk film seri. Adapun Putaar Film diperuntukkan bagi film-film bergenre komedi, horor, dan religi, yang tayang di layar lebar.

"(Irwansyah) mengajak saya di project layar lebar selanjutnya, yang berjudul Wewe Gombel. Dan itu jadi, kami menggarap itu di studio TVRI di Cibubur. Itu Oktober 2022," tuturnya.

Setelah selesai menggarap film Wewe Gombel, yang belum tayang sampai saat ini, pada Oktober 2022, Irwansyah menelepon Bima dan memintanya datang ke suatu tempat di daerah Srengseng Sawah. Di sana ia diminta beradu peran. Bima mengiyakan tawaran itu karena diyakinkan Irwansyah bahwa produksi film tersebut sudah mendapat izin dan legal.

Sementara itu, juru kamera dan editor yang dipekerjakan Irwansyah untuk pembuatan film porno merasa ditipu. Mereka mengaku Irwansyah menawari mereka menggarap film biasa, tetapi malah jadi film porno.

Hika TA Putra selaku pengacara kamerawan dan editor video yang dipekerjakan Irwansyah berharap hukuman yang diterima kliennya tidak disamakan dengan pelaku utama. Menurutnya, mayoritas keuntungan film hanya dinikmati oleh Irwansyah.

"Mereka hanya menikmati gaji bulanan. Masa disamakan dengan orang yang menikmati hasil ratusan juta rupiah. Ini kan tidak fair gitu lho. Kecuali mereka ada kesepakatan, per judul itu berapa per orang yang registrasi berapa, per member berapa, mereka dibagi. Itu okelah kalau hukumannya sama. Nah, ini?" kata Hika kepada reporter detikX.

Foto lama Irwansyah (berbaju kuning). 
Foto : Facebook/Kelas Bintang

Menurut Hika, oleh Irwansyah, kliennya sering diminta mengerjakan pekerjaan di luar produksi film. Mereka berdua diminta mengerjakan urusan rumah tangga, seperti mencuci piring, menyetir mobil, dan menyapu rumah.

"Ya menurut apa yang mereka sampaikan kepada kami, mereka merasa ditipu dan mereka adalah korban, kenapa? Karena mereka sudah memperingatkan, 'Ini kok jadi vulgar begini, kok ini jadi begini, kok filmnya jadi seperti ini?'," kata Hika TA Putra, yang mengaku sebagai kuasa hukum JAAS dan AIS, kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (15/9/2023).

Menurut Hika, kedua kliennya bekerja awalnya bukan untuk film porno. Namun, seiring berjalannya waktu, Irwansyah selaku pimpinannya mengarahkan pada produksi film yang makin vulgar.

"Nah, kemudian diiming-imingi oleh pimpinannya (Irwansyah) itu, disampaikan bahwa, ‘Kita legal kok, kita bukan porno kok. Ini masih semi kok, ini masih sesuai dengan standar kok. Bahwa perusahaan kita ini ada legalnya, ada kuasa hukumnya dan lain-lain. Ini kita masih sesuai standar’," jelasnya.

Kliennya, kata Hika, tidak bisa keluar begitu saja dari rumah produksi film porno tersebut. Sebab, lanjut dia, kliennya terhalang masalah ekonomi. Diketahui, mereka digaji kurang lebih Rp 4 juta per bulan.

"Sebetulnya, kalau tekanan itu nggak ada, ya. Artinya lebih pada kekhawatiran atau ucapan-ucapan karena tidak mudah mencari pekerjaan yang lain. Karena mereka untuk AIS dan J ini mereka rata-rata punya balita yang harus menjadi tanggung jawab mereka untuk nafkahi," jelasnya.

Sementara itu, pemilik rumah yang disewa oleh Irwansyah untuk produksi film cabul mengaku tak tahu-menahu. K, pemilik rumah, mengaku berjumpa Irwansyah di sebuah pengajian. Irwansyah menyewa rumah K sejak akhir Januari lalu. Pada awal perjanjian kontrak, rumah disewa untuk tempat tinggal.

"Di situ bunyinya kontrak, untuk kontrak selama setahun dan, apabila rumah ini terjual, uang yang masuk sudah berapa bulan pihak penyewa akan dikembalikan. Ada itu di keterangan kuitansinya," bebernya saat ditemui detikcom di Jatipadang, Pasar Minggu, Jaksel, Rabu (13/9/2023).

Belakangan, Irwansyah ternyata ketahuan menggunakan rumahnya untuk syuting film. Saat itu K masih memaklumi karena kegiatannya syuting film biasa.

"Soalnya, pas buat film bioskop di Malaysia itu, dia di dalamnya PH itu, ini pohon pisangnya sebagai lokasi syuting. Karena kegiatan syuting itulah tetangga-tetangga pada tahu bahwa rumah ini disewakan untuk syuting iya saya benarkan, saya nggak bohong. Tetangga-tetangga juga nyaksiin, kadang-kadang pinjam set kuburan," paparnya.

Salah satu pegiat Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Ozzy Sulaiman Sudiro mengaku tak pernah mendengar nama Irwansyah di lingkup perfilman. Pihaknya mengaku mengecam dan tidak sepakat dengan praktik pembuatan film porno ilegal.

"Tapi yang jelas, di kami, di komunitas perfilman, itu nggak ada ya (yang kenal)," kata Ozzy kepada reporter detikX.

Baginya, untuk adegan-adegan dewasa di film, telah ada prosedur dan aturan ketat yang mengikat. Menurutnya, adegan dewasa juga harus mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan para pemeran. Menurut Ozzy, gaji yang diterima oleh pemeran film porno ilegal juga tidak sesuai dengan standar. Upah tersebut dipandang terlalu rendah dan tidak manusiawi.

"Ini kan dikomersialisasi. Menurut saya, dia (pemeran) juga terjebak oleh situasi yang salah oleh para pelaku-pelaku yang diduga telah menyalahgunakan film ini," ujarnya.

Penelusuran detikX, Irwansyah mulai bergelut di perfilman sejak 2009. Pada 2009, lelaki kelahiran 26 Oktober 1981 itu mendirikan One Heart Production, memproduksi sinetron pelajar. Lalu, pada Maret 2011, ia mulai bergabung dengan Kelas Bintang di bawah naungan PT Anugerah Bintang Mandiri. Perusahaan ini didirikan sebagai penyedia ruang pembelajaran atau sekolah akting. Setahun kemudian, kariernya berkembang menjadi produser dan penulis naskah.

Pada November 2014, Irwansyah mendirikan PT Karya Bintang Bersama dan menjabat direktur utama. Lini bisnis Irwansyah semakin luas dengan Ozuka Management, bisnis mencari dan mengembangkan artis baru. Lalu melalui rumah produksi Bintang Picture, para artis baru dan siswa Kelas Bintang itu dilibatkan dalam penggarapan iklan layanan masyarakat, sinetron, serial FTV, hingga film pendek.

Selanjutnya, pada November 2019, ia memproduksi belasan film pendek inspirasi remaja yang diambil dari kisah nyata dengan merek dagang Karya Bintang Bersama. Distribusinya ke akun YouTube Bintang Cinema.

Sementara itu, sekitar setahun setelahnya, September 2020 mulai memproduksi puluhan film dewasa alias 18+ dengan label Karya Bintang Bersama. Irwansyah menjuluki film pendeknya sebagai ‘komedi nakal’. Distribusi film disebarkan melalui akun YouTube miliknya dengan nama samaran Salim Tebe.

Adapun pada September 2021, konten film pendek yang diproduksi semakin vulgar dan sudut pandang maskulin. Irwansyah bahkan menjadi pemeran utama di filmnya. Dia juga kerap merangkap penulis skenario dan produser.

Pada April 2022, ia menghidupkan kembali situs kelasbintang.com untuk dipakai sebagai penyedia layanan streaming berbasis langganan film 18+. Ada sekitar 30 film yang dijual. Irwansyah juga membuat aplikasi ponsel Android untuk berlangganan filmnya.

Pada awal tahun ini, Februari 2023, distribusi film 18+ ia perluas dengan memperbanyak situs berlangganan, mulai togefilm.com, kelassbintangg.com, kelasbintangg.com, hingga bossinema.com.  Harga berlangganannya pun dikurangi sampai lebih dari 50 persen, bahkan menyediakan spesial promo Ramadan, yang hanya bisa diakses pada pukul 18.00 sampai 04.00.

Perkara ini dibongkar Subdirektorat Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Subdit Siber Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya melalui patroli siber yang kemudian ditindaklanjuti. Kasubdit Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Ardian Satrio Utomo mengatakan ada tiga situs yang diduga menyebarkan film-film porno tersebut.

Sejauh ini, sudah ada lima orang yang dijerat sebagai tersangka dan ditahan. Kelimanya terdiri atas empat pria dan satu wanita sebagai berikut: Irwansyah berperan sebagai sutradara, admin situs, pemilik, dan produser; JAAS berperan sebagai kamerawan; AIS berperan sebagai penyunting atau editor; AT berperan sebagai penyulih suara atau sound engineer sekaligus figuran; dan SE berperan sebagai sekretaris sekaligus pemeran wanita dalam salah satu film yang diproduksi

Mereka dijerat Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 dan/atau Pasal 34 ayat 1 juncto Pasal 50 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan/atau Pasal 4 ayat 2 junctoPasal 30 dan/atau Pasal 7 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 8 juncto Pasal 39 dan/atau Pasal 9 juncto Pasal 35 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Menurut keterangan polisi, jumlah yang sudah melihat website Kelas Bintang dengan tautan  https://kelasbintangg.com kurang lebih 10 ribu view. Jumlah pelanggan dalam website Kelas Bintang juga kurang lebih sama, kurang lebih 10 ribu pelanggan.

Para penikmat film porno itu mengakses konten dengan sistem berlangganan. Beberapa paket yang tersedia antara lain 1 hari Rp 50 ribu, 1 minggu Rp 150 ribu, 1 bulan Rp 250 ribu, dan 1 tahun Rp 500 ribu. Pelanggan harus membayar langganan paket melalui transfer ke rekening Bank Central Asia, rekening Bank Rakyat Indonesia, Gopay, Dana, dan kesemuanya atas nama tersangka Irwansyah. Sejauh ini jumlah keuntungan yang tersangka peroleh dalam satu tahun dari website Kelas Bintang kurang lebih Rp 500 juta.

detikX telah menghubungi sejumlah kontak telepon dan akun media sosial yang terhubung dengan pihak Irwansyah ataupun manajemen Kelas Bintang guna meminta klarifikasi atas segala tudingan terhadapnya. Namun, sampai tenggat waktu naskah ini, belum ada respons dari semua kontak dan akun media sosial tersebut.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE