Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 18 September 2023Pendukung Ganjar Pranowo merasa dipinangnya Muhaimin Iskandar alias Cak Imin sebagai pasangan Anies Baswedan merupakan keuntungan bagi PDI Perjuangan pada Pilpres 2024. Dengan begitu, kata Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Budi Sulistyono, partainya tetap bisa mendominasi. Sebab, Anies jauh dari kaum nahdliyin.
“Soal PKB lebih banyak bersyukurnya, kami tidak harus bergabung dengan Cak Imin. Cak Imin lari bergabung dengan orang yang memang sebenarnya haluan pikirannya dan hatinya jauh dari nahdliyin,” kata pria yang akrab disapa Kanang itu kepada reporter detikX melalui sambungan telepon.
Analisis detikX berdasarkan hasil Pileg 2019, PDI Perjuangan menjadi pemenang di wilayah Jawa Timur. Suara yang PDI Perjuangan kantongi hanya berselisih 121.115 suara dari PKB. Kedua partai itu mendominasi dengan perolehan 20 dan 19 kursi DPR RI. Urutan ke-3 Partai Gerindra, yang mengantongi selisih 1,9 juta suara pemilih PDI Perjuangan.
Untuk memperluas wilayah kekuasaan PDI Perjuangan itu, kata Kanang, partainya mengeksekusi strategi pendekatan kepada para kiai kampung di berbagai pesantren kecil.
“Kiai kampung yang NU (Nahdlatul Ulama)-nya lekat, NU yang tidak kenal politik. Ini justru mereka tidak bisa ditarik ke mana-mana, justru mereka akan bicara sesuai hati nurani,” jelasnya.
Baca Juga : Ancang-ancang Politik Identitas di Jawa Timur

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat melakukan safari Ramadan ke Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Foto : Dok. Istimewa
Ganjar akan dikaitkan dengan Joko Widodo (Jokowi), yang menjadi ‘pendahulu’. Dengan begitu, kata Kanang, para kiai kampung akan lebih tertarik pada Ganjar dibandingkan terhadap Anies atau bahkan Prabowo Subianto.
Kedekatan itu tidak dimiliki bacapres lain, sehingga ketika Cak Imin memutuskan beralih dari Pak Prabowo ke yang lain, beberapa kiai masih tetap istikamah untuk mendukung Pak Prabowo.”
Dari data KPU, memang pada Pilpres 2019, Jokowi-Ma’ruf Amin unggul hampir dua kali lipat daripada Prabowo-Sandiaga Uno. Prabowo hanya bisa merebut hati pemilih Bondowoso, Pacitan, Pamekasan, Sampang, Situbondo, dan Sumenep. Karena itu, ujar Kanang, penting untuk mengatasi ketertinggalan popularitas Ganjar oleh Prabowo dengan strategi jemput bola.
“Mengenalkan Pak Ganjar inilah dengan door to door, pasang stiker dari rumah ke rumah. Itu sudah clear. Semua siap,” ujarnya.
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Bidang Pemenangan Pemilu Deni Wicaksono menambahkan, penguatan di akar rumput juga dilakukan dengan menghidupkan kembali posko gotong royong di desa-desa.
“Kami nostalgia posko gotong royong tahun ‘97, ‘98 dulu, kini kami gelorakan lagi. Ada juga pengurus di (tingkat) kabupaten/kota juga mulai membentuk itu,” ucap Deni kepada reporter detikX, Jumat (15/9/2023).
PDI Perjuangan Jatim menargetkan kemenangan lebih dari 60 persen di wilayahnya. Pada pilpres sebelumnya, Jokowi menang dengan perolehan 65,79 suara di Jatim. Meski begitu, kata Deni, PDI Perjuangan masih lemah di wilayah Tapal Kuda.
“Strategi ada, khusus, tidak bisa kami ungkap, tapi kami memang mempersiapkan diri, dan percaya diri. Targetnya tidak hanya menang, tapi menang spektakuler,” tuturnya.
Prabowo Subianto kalah dalam dua kali pilpres di wilayah Jawa Timur. Namun, bagi Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jatim Muhammad Fawaid (Gus Fawaid), periode itu menjadi investasi suara tersendiri bagi Prabowo. Bahkan, sejak ketika menjadi tentara aktif, ia menyebut, Prabowo sudah sering sowan kepada para ulama di Jawa Timur.
“Kedekatan itu tidak dimiliki bacapres lain, sehingga ketika Cak Imin memutuskan beralih dari Pak Prabowo ke yang lain, beberapa kiai masih tetap istikamah untuk mendukung Pak Prabowo,” kata Fawaid kepada reporter detikX pekan lalu.
Selain itu, tutur Fawaid, Prabowo semakin mudah diterima oleh masyarakat Jawa Timur tatkala bergabung dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Fawaid menilai kinerja Prabowo di Kementerian Pertahanan menarik hati para pendukung Jokowi di Jawa Timur. Sehingga daerah-daerah yang masih menjadi kelemahan Prabowo di Jawa Timur bisa diatasi.
“Mungkin kami (nanti) lebih banyak (fokus) ke Mataraman. Tapi, karena sudah bergabung dengan Pak Jokowi, kami di Mataraman sudah mulai lebih signifikan hari ini. Sehingga kami tinggal poles sedikitlah,” tutur pria asal Jember tersebut.
Strategi yang mereka pakai ialah menginduk citra politik Presiden Jokowi. Sebab, kata Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad, bergabungnya Prabowo ke pemerintahan Jokowi disambut positif oleh masyarakat Jawa Timur. Ia menyebutkan beberapa relawan Jokowi di daerah Mataraman, seperti Ponorogo dan Pacitan, mengumumkan dukungan ke Prabowo.
“Pemimpin yang baru tidak menegasikan pemimpin yang lama. Kami melanjutkan (program) yang sudah baik sekarang ke depan,” ujarnya.
Poros koalisi pengusung Anies Baswedan dan Cak Imin tengah merebut momentum kampanye sejak deklarasi bersama di Hotel Majapahit, Surabaya. Cak Imin dan mesin politik PKB diandalkan sebagai strategi utama untuk mencuri suara di Jawa Timur, yang merupakan lumbung NU.
Berdasarkan analisis detikX, PKB memiliki 13 kader yang menjadi pemimpin daerah. Mereka terdiri atas enam bupati, lima wakil bupati, dan dua wali kota. Ini partai urutan ke-3 dengan kader terbanyak yang menjadi pemimpin daerah. Urutan pertama adalah PDI Perjuangan dan kedua nonpartisan. Karena itu, Waketum Partai NasDem Ahmad Ali menyebut penting untuk bertumpu pada PKB.
“Maka harus datang dari PKB, yang notabene adalah bagian yang dekat dengan nahdliyin. Itu pasti akan berbeda nuansa cara penerimaannya. Ketika transformasi itu berjalan, kemenangan sudah dekat,” kata pria yang akrab disapa dengan Mat Ali tersebut kepada reporter detikX.
Senada dengan Ali, Wakil Ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur Vinsensius Awey menuturkan Cak Imin memiliki basis suara jelas di Jawa Timur. “Cak Imin itu NU. Kalau bicara NU, kebanyakan NU itu ada di daerah Tapal Kuda sampai ke Pulau Madura,” kata Awey kepada reporter detikX.
Meski demikian, Awey menyadari perlu konsolidasi dengan melakukan kunjungan ke para ulama dan tokoh masyarakat sebanyak mungkin. Sebab, menurutnya, seperti di banyak survei, disebutkan pendukung PKB tak selalu linear dengan pendukung Cak Imin.
“Sudah dilakukan oleh Cak Imin dan Anies untuk sowan ke tokoh yang berpengaruh di Jawa Timur yang punya basis massa riil dan juga ulama-ulama yang tidak kalah penting. Karena di Jawa Timur ini suara masyarakat tidak lepas juga dari suara ulama,” tuturnya.
Direktur Utama Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W Oetomo menilai Jawa Timur memang menjadi medan yang unik karena dianggap merupakan prototipe pemilih Indonesia. Heterogenitas Jawa Timur mirip dengan karakter beragam pemilih di Indonesia. Menurutnya, basis pendukung tiga partai di Jawa Timur, yaitu PDI Perjuangan, PKB, dan Partai Gerindra, sama-sama kuatnya.
“PDI Perjuangan sebagai partai pengusung Ganjar itu sangat kuat di wilayah Arek: Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Mojokerto, sampai Malang dan Mataraman dari Nganjuk, Madiun, sampai Ngawi. Menurut survei, Ganjar memang kuat di dua wilayah itu. Arek dan Mataraman,” tutur Mochtar.
Sementara itu, Mochtar melanjutkan, PKB selama ini kuat di wilayah Tapal Kuda dan Madura. Di sisi lain, wilayah tersebut juga merupakan basis Partai Gerindra, yang mengusung Prabowo.
“Dan itu tidak terlepas dari investasi Prabowo sejak 2014, yang memang selalu unggul di wilayah Tapal Kuda dan Madura. Untuk Anies, tidak kuat di mana-mana sampai hari ini,” terangnya.

Anies Baswedan (kanan) memanjatkan doa saat berziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama KH Bisri Syansuri di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (31/8/2023).
Foto : Syaiful Arif/Antarafoto
Menurut survei terbaru pada Agustus, Surabaya Survey Center (SSC) mencatat elektabilitas Ganjar Pranowo di Jatim sebesar 33,5 persen, kemudian Prabowo Subianto sebesar 28,4 persen, dan Anies Baswedan di urutan ketiga dengan angka 12,4 persen.
Pakar politik Universitas Trunojoyo Madura itu menyebut kemenangan akan mudah didapatkan rival Anies jika menggandeng tokoh representasi NU. “Kalau dari Ganjar atau Prabowo mengambil cawapres yang merepresentasikan NU, itu akan semakin sulit bagi Anies dan Cak Imin,” jelasnya.
Selain tidak linear antara pemilih partai, yakni PKB, dan pilpresnya, Mochtar menilai, pemilih PKB cukup kompleks karena konflik pada masa lalu. Pemilih PKB terbagi menjadi kubu Cak Imin dan kubu Gus Dur. “Kalau pemilih Gus Dur ya tentu memilih Ganjar atau Prabowo,” tandas Mochtar.
Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban