Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 12 Juni 2023Andri, seorang nelayan Muara Angke, kini mesti berlayar lebih jauh ke sekitar Pulau Damar, daratan yang terletak di gugusan Kepulauan Seribu, untuk memperoleh rajungan dan ikan. Sebelumnya, ia biasa mencari buruan di Pulau Bidadari karena jauh lebih dekat. Namun pulau ini mulai dipenuhi sampah. Airnya keruh. Alat tangkap lebih sering dipenuhi sampah plastik yang bersarang.
“10 kilo sampah, 2 kilo rajungan,” kata Andri menjelaskan hasil tangkapan dalam sekali jaring di tempat tercemar sampah plastik kepada reporter detikX pekan lalu.
Satu kilogram rajungan dihargai Rp 100-120 ribu. Jika musim sedang bagus, Andri bisa memperoleh rajungan hingga 10 kilogram.
Andri tak melaut sendirian, ia bersama nelayan lainnya, Ganda dan Nuri. Hasil menjaring dibagi bertiga. Jika mereka hanya memperoleh 2 kilogram, uang yang diperoleh bahkan tak bisa menutupi kebutuhan hidup ketiga nelayan itu dalam sehari. Biaya solar pun mesti dipikirkan untuk tetap bisa melaut keesokan harinya.
Baca Juga : Sampah Indonesia Berlayar Sampai Afrika

Foto pesisir Mangrove Muara Angke yang diselimuti sampah plastik, Jumat (9/6/2023). Sampah berasal dari Teluk Jakarta yang terbawa angin barat.
Foto : Cut Maulida Rizky/detikX (magang)
Hal serupa menjadi dilema para nelayan paruh baya Muara Angke, Supardi dan Tarjo. Supardi sudah melanglang buana ke Laut Jawa selama 30 tahun, demikian pula dengan Tarjo. Keduanya merasakan betul persoalan sampah plastik di Teluk Jakarta semakin mengganggu ketika sedang berlayar menangkap ikan.
Kadang-kadang, pas lagi layaran, kipasnya (perahu) nyangkut plastik. Jalannya jadi berkurang, ganggu.”
“Kadang-kadang, pas lagi layaran, kipasnya (perahu) nyangkut plastik. Jalannya jadi berkurang, ganggu,” ungkap Supardi, pria asal Cirebon, kepada reporter detikX, Jumat (9/6/2023).
“Plastik itu kadang terjaring juga, jadi nggak bisa nangkap ikan dan rajungan. Malah bikin jaring rusak,” Tarjo menimpali.
Jika jaring sudah rusak begitu, Tarjo merasa sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah tidak mendapat hasil tangkapan, malah harus merogoh kocek untuk membeli jaring baru.
Supardi bercerita bahkan sekarang sering melihat sampah plastik ke mana pun ia berlayar. Tak jarang ia mendapati apungan sampah plastik mengular panjang di tengah lautan. Para nelayan menyebutnya ‘kacar’.
Gugusan Kepulauan Seribu sudah lama dikepung sampah plastik. Berdasarkan riset peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Reza Cordova, sampah-sampah itu berasal dari aktivitas manusia di daratan DKI Jakarta. Laporan ilmiah yang dimuat di Springer Nature tersebut mengungkapkan, Teluk Jakarta menerima 55,3-73,8 ton sampah plastik setiap hari. Riset yang dipublikasikan pada 2019 bersama rekannya, Intan Suci Nurhati, itu menunjukkan, jenis sampah plastik yang paling banyak ditemukan di Teluk Jakarta adalah stirofoam atau gabus sintetis.
Senada dengan penelitian tersebut, pengkampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta, Muhammad Aminullah, mengamati sampah yang menumpuk di Teluk Jakarta berasal dari 13 sungai di Jakarta dan sekitarnya.
“Sampah-sampah ini terbawa bahkan ke pulau-pulau kecil, ke Pulau Seribu, bahkan Pulau Pari. Dari studi yang kami lakukan, kebanyakan sampahnya itu memang sampah plastik. Dan sampah plastiknya itu berupa saset, sampah kemasan yang tidak bisa didaur ulang, dan tidak diambil oleh pemulung karena tidak ada nilai ekonomi, dan tak bisa terurai,” ujar Aminullah.
Dari hulu 13 sungai di Jakarta tersebut, sebenarnya sudah dilakukan upaya penanganan sampah. Hal itu dengan memasang sekatan kubus apung serta saringan sampah otomatis agar sampah tidak sampai ke muara.
Sedangkan di hilir, yakni pengelolaan sampah Teluk Jakarta sekaligus pesisir Jakarta, ini menjadi tanggung jawab Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Kepala Sudin LH Kepulauan Seribu Sujanto Budiroso mengatakan, selain berasal dari 13 sungai di Jakarta, sumber sampah di Teluk Jakarta kebanyakan berasal dari daerah lainnya.

Supardi (63), nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, saat ditemui pada Jumat (9/6/2023) siang.
Foto : Ani Mardatila/detikX
“Iya, kalau sungai-sungai Jakarta ini kan semuanya sudah menggunakan jaring ya. Dan sudah disekat-sekat sebenarnya, tidak terlalu masalah. Tapi ada sampah kiriman dari mana-mana. Jadi kalau musim anginnya mendukung, sampah bisa sampai Teluk Jakarta,” kata Sujanto kepada reporter detikX pekan lalu.
Sujanto menuturkan, berdasarkan data yang dihimpunnya, setiap hari petugas penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) membereskan sampah di pesisir dan Teluk Jakarta. Per hari mereka bisa mendapatkan sampah 2 ton, yang kemudian diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.
Untuk mengatasi persoalan sampah ini, dikerahkan hingga 52 orang untuk wilayah pesisir dan 49 orang untuk petugas yang berada di kapal. Pengangkutan sampah didukung kapal Sampah Tanggung Jawab Bersama (Samtama) dan fiberglass, masing-masing mengangkut sampah hingga 300 kilogram setiap harinya.
Menurut Sujanto, dua titik pesisir yang kerap dipenuhi sampah dari laut adalah Marunda Kepu dan Mangrove Muara Angke. Berdasarkan pantauan tim detikX pada Jumat, 9 Juni 2023, memang di pesisir Mangrove Muara Angke, terdapat tumpukan sampah yang menutupi permukaan lumpur.
Pesisir seluas kurang lebih 7.000 meter persegi itu dipenuhi sampah kemasan plastik. Adapun sampah telah bercampur pula dengan lumpur dan mengendap di bawah. Sampah plastik di area tersebut memang terlihat didominasi sampah kemasan plastik yang tidak bisa didaur ulang.
Pada April dan Mei, sebenarnya Komunitas Mangrove Muara Angke (Komma) telah menyingkirkan sampah di area tersebut menggunakan alat berat beko. Ketua Komma Muhammad Said bercerita kepada reporter detikX, upaya menyingkirkan sampah sudah dilakukan berkala, tetapi ombak laut kerap mudah membawa sampah ke pesisir mangrove.
Pesisir mangrove bahkan sudah dipasangi jaring bambu, yang disebut cerucuk, untuk memecah ombak dan mencegah sampah hanyut ke pesisir.
Baca Juga : Janggal Sanksi Pabrik Pencemar Paracetamol
“Kami juga berencana tanami sisa pesisir mangrove agar tidak menjadi tempat mendarat sampah yang terlalu banyak,” ujar Said pekan lalu melalui sambungan telepon.
Komma memang mulanya dibentuk oleh masyarakat setempat salah satunya untuk mengatasi persoalan sampah yang terbawa ke pesisir Muara Angke. Dulu pesisir tersebut penuh sampah. Hingga pada 2008 diputuskan untuk mulai menanam mangrove di area itu agar sampah tidak semakin naik ke wilayah perumahan warga.
Tiza Mafira, pendiri Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, menyoroti peran masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah plastik memang diperlukan. Tapi, di sisi lain, pemerintah sebagai pemegang kebijakan harus membatasi penggunaan plastik.
“Utamanya memang harus ada pelarangan plastik kemasan sekali pakai yang tidak bisa didaur ulang. Sebab, kalau kita hanya fokus pada pembersihan sungai, misalnya, ya sampahnya bisa saja diangkut, tapi tetap jadi tumpukan sampah. Dan akan datang sampah lagi, akan kotor lagi sungai itu, tidak ada habisnya,” kata Tiza kepada reporter detikX, Kamis (8/6/2023).
Reporter: Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Cut Maulida Rizky (magang)
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban