Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 30 Mei 2023Rasya meradang. Sudah dua kali ia mencoba ikut war atau berburu tiket Coldplay pada 17 dan 19 Mei 2023, tapi gagal. Padahal Rasya sudah memanfaatkan jasa titip (jastip) tiket untuk memenangi perang tiket grup musik asal Inggris itu. Dia merogoh kocek setidaknya Rp 200-300 ribu untuk membayar jasa tersebut.
“Itu dua-duanya aku nggak dapat lewat jastip,” keluh perempuan berusia 25 tahun yang enggan nama aslinya dipublikasikan itu, saat dihubungi reporter detikX pekan lalu.
Coldplay sudah lama masuk daftar harap (wishlist) konser yang akan ditonton Rasya. Karena itu, dia bakal mengusahakan segala cara agar bisa menonton Chris Martin dan kawan-kawan. Apalagi, bagi Rasya, menonton konser pertama penembang lagu ‘Fix You’ di negeri sendiri adalah kesempatan langka.
Gagal dengan cara jastip, Rasya mencoba jalur lain. Dia mencari calo tiket Coldplay melalui media sosial Twitter. Beberapa calo yang dihubunginya mematok harga dua kali lipat dari harga tiket resmi. Terlewat mahal, pikir Rasya. Tiket kategori 4 yang semula hanya Rp 2,5 juta plus pajak 20 persen dijual Rp 6 juta oleh para calo.

Muhammad Zainul Arifin (tengah), pengacara para korban penipuan pembelian tiket Coldplay saat sedang di di Bareskrim Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/5/2023).
Foto : Rumondang Naibaho/detikcom
Rasya cukup beruntung karena akhirnya berhasil menemukan calo yang menjual tiket dengan harga masuk akal. Calo ini, kata Rasya, hanya mengambil untung Rp 400 ribuan dari harga normal. Meski begitu, ia sebetulnya masih khawatir kalau-kalau calo yang menjual tiket itu merupakan seorang penipu.
Ini mungkin bukan obat yang mujarab sama sekali, tapi setidaknya bisa mencegahlah.”
Untuk meyakinkan diri sendiri, Rasya telah mengecek nomor ponsel yang digunakan oleh calo itu melalui Getcontact. Hasilnya, nama-nama yang tertera dalam Getcontact sesuai dengan KTP yang digunakan calo sebagai penjamin. Rasya juga mengecek nomor rekening calo itu melalui laman cekrekening.id. Aman, tidak pernah dilaporkan penipuan.
“Habis itu aku minta email konfirmasi dia sudah beli tiket, buat nyamain nama di tiket dengan nama di KTP,” jelas Rasya.
Animo menonton konser Coldplay di Indonesia memang membuat banyak orang gelap mata. Beragam cara dilakukan supaya bisa berada di tengah-tengah momen istimewa bersama grup musik pujaannya ini di Gelora Bung Karno, Jakarta. Akibatnya, tidak sedikit orang seperti Rasya, memaksakan diri membeli tiket Coldplay di luar jalur resmi, meski harus merogoh kocek lebih dalam dan rawan menjadi korban penipuan.
Loket.com sebagai kanal pembelian tiket Coldplay bahkan mengklaim antrean pembeli tiket Coldplay pada 17 dan 19 Mei lalu telah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada 17 Mei, tercatat ada 1,53 juta orang yang turut mengantre tiket Coldplay. Jumlahnya kemudian bertambah pada 19 Mei 2023 dengan catatan rekor baru sebanyak 3,29 juta orang yang turut mengantre.
Euforia terhadap kehadiran Coldplay ini membuka celah yang akhirnya dimanfaatkan untuk meraup cuan. Seperti yang dilakukan Andhita—bukan nama sebenarnya. Perempuan berusia 22 tahun itu menggamit untung dari penjualan tiket yang dibelinya melalui perang di laman Coldplayinjakarta.com.
Andhita menuturkan, sejak awal ia memang berniat membeli sebanyak-banyaknya tiket konser yang digelar oleh Third Eye Management dan PK Entertainment ini. Tujuannya untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.
Karena itu, dia sengaja menyiapkan tiga hari khusus untuk berburu tiket Coldplay pada 17-19 Mei. Semua telah dipersiapkan dengan matang, mulai jaringan internet yang kencang, gawai canggih, hingga uang yang banyak. Di semua gawainya, Andhita juga menerapkan mode Incognito agar tidak terdeteksi sebagai robot.
“Aku kemarin saja war pakai tujuh devices sendirian. Dibantu temen-temen aku yang lain juga,” tutur Andhita saat dijumpai reporter detikX di salah satu kafe di Jakarta Barat pada Jumat, 26 Mei lalu.
Siasat itu dilakukan Andhita setelah belajar dari pengalaman perang tiket konser-konser musik besar lainnya, seperti BTS dan Justin Bieber. Pada dua konser itu, Andhita juga memperjualbelikan tiket dengan harga lebih mahal.
Baca Juga : Modus Sindikat Tiket Coldplay
Andhita mengaku, selama menjadi calo tiket dadakan, dia hanya mengambil untung kecil. Per satu tiket, Andhita bilang hanya menggamit keuntungan Rp 100-200 ribu. “Tapi tergantung harga tiketnya juga sih. Kalau kayak Coldplay kemarin kan mahal banget ya, jadi aku minta Rp 200 ribu,” tuturnya.
Momentum yang sama juga dimanfaatkan Puteri Indonesia Intelegensia 2019, Lycie Joanna. Lycie melalui akun Instagram pribadinya menjual 50 tiket Coldplay dengan harga nyaris dua kali lipat lebih mahal dari harga normal. Saat itu, Lycie mengaku mendapatkan tiket itu dari ‘orang dalam’.
Belakangan, Lycie mengklarifikasi pernyataannya sendiri dengan menyebut ‘orang dalam’ yang dimaksud adalah teman-temannya sendiri yang ikut war tiket. Lycie bilang ada 27 temannya yang berhasil mendapatkan tiket Coldplay dan menitipkan kepadanya untuk dijual kembali.
Waktu itu, kata Lycie, banyak fans Coldplay yang langsung memburu tiket darinya. Dia bahkan sempat mengantongi uang Rp 400 juta untuk pembelian 50 tiket. Dari omzet itu, Lycie mengaku hanya mengambil untung 5 persen. Namun sekarang, uang itu telah dikembalikan kepada orang-orang yang membeli lantaran Lycie mendapat banyak hujatan dari netizen.
“Tiketnya dibalikin ke orangnya masing-masing,” kata Lycie saat dijumpai detikcom di kantor Transmedia, Jakarta Selatan, pekan lalu.
Direktur Eksekutif Information Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi memandang maraknya calo dadakan seperti Lycie dan Andhita terjadi bukan hanya lantaran tingginya animo masyarakat untuk menonton Coldplay. Hal itu juga lantaran adanya celah dalam sistem manajemen pertiketan secara daring.
Salah satu celah yang ditemukan Heru dalam penjualan tiket Coldplay tempo hari adalah alamat internet protocol (IP) laman penjualan tiket yang berada di luar negeri, tepatnya di Amerika Serikat. Situasi ini membuat banyak provider alias layanan internet di Indonesia kesulitan menjangkau titik IP. Itulah yang akhirnya menyebabkan banyak orang yang turut mengantre tiket Coldplay kesulitan masuk ke antrean atau bahkan membuka laman penjualan tiketnya.
Heru menduga, para calo, khususnya yang paham IT, sudah mengetahui jalur tikus ini. Mereka, kata Heru, boleh jadi sudah menyiapkan sistem layanan internet yang bisa langsung menjangkau ke titik IP sehingga bisa dengan mudah masuk ke laman antrean tiket. “Jadi saya melihat mereka sudah tahu itu. Kalau mereka nggak tahu, nggak akan bisa mereka,” beber Heru saat berbincang dengan reporter detikX pekan lalu.
Heru memandang sistem war tiket yang diberlakukan oleh penyelenggara juga menjadi salah satu penyebab banyaknya calo tiket Coldplay. Sistem ini, kata Heru, membuat para calo yang paham IT bisa membeli banyak tiket lantaran mereka sudah memahami cara memenangi perang itu dengan mudah.
Mestinya, kata Heru, promotor tiket Coldplay di Indonesia bisa meniru cara Jepang dalam menjual tiket konsernya. Di Jepang, tiket konser Coldplay dijual dengan cara mengundi calon pembeli. Para pembeli yang memenangi undian baru bisa membeli tiket Coldplay.

Tiga pelaku penipuan tiket konsep Coldplay ditangkap Polresta Malang Kota, Senin (29/5/2023).
Foto : Muhammad Aminudin/detikJatim
“Jadi bisa menghindari orang-orang yang membeli untuk dijual kembali,” tutur Heru.
Tim detikX telah berupaya menghubungi PK Entertainment dan Third Eye Management melalui agensi public relations yang ditunjuk promotor, Helmi Sugara. Namun, sampai artikel ini diterbitkan, PK Entertainment dan Third Eye Management belum memberikan waktu untuk wawancara khusus dengan detikX.
Sementara itu, Kepala Badan Sertifikasi Nasional (BSN) Kukuh S Achmad memandang maraknya calo tiket juga mungkin disebabkan sampai saat ini belum ada satu pun promotor konser yang tersertifikasi. Padahal, kata Kukuh, BSN sejatinya sudah menetapkan standar SNI ISO 202121 tentang Sistem Manajemen Event Berkelanjutan sejak 2012.
Standar ini menekankan sejumlah poin penting dalam penyelenggaraan acara agar tidak memberikan dampak buruk bagi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Beberapa poin di antaranya menekankan soal transparansi, pemantauan, risiko, dan sistem manajemen. Salah satu risiko yang dimaksud, kata Kukuh, adalah adanya penipuan atau praktik percaloan dalam pembelian tiket.
“Ini mungkin bukan obat yang mujarab sama sekali, tapi setidaknya bisa mencegahlah,” tutur Kukuh saat dihubungi reporter detikX pekan lalu.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno pun memandang maraknya calo dan penipuan tiket konser Coldplay menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan konser di Indonesia. Ini, kata Sandi, dapat menimbulkan citra buruk bagi Indonesia ketika menyelenggarakan acara berskala internasional. Dampaknya, masyarakat bakal menjadi korban dan pertumbuhan ekonomi kreatif bisa tersendat.
Karena itu, Sandi menuturkan, ke depannya, Kemenparekraf bakal berupaya melakukan antisipasi lebih baik lagi agar kejadian yang sama tidak terulang. Pihaknya akan menjalin koordinasi dengan aparat penegak hukum dan penyelenggara acara untuk memastikan semua potensi masalah dalam penyelenggaraan konser dapat diantisipasi sejak dini. Mulai perizinan, kepadatan penonton, hingga manajemen risiko saat pembelian tiket maupun ketika penyelenggaraan acara.
“Termasuk mengantisipasi dampak negatif dari terjadinya war tiket, antara lain praktik percaloan dan penipuan,” pungkas Sandi melalui pesan singkat WhatsApp kepada reporter detikX pada Jumat, 26 Mei lalu.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban