Ilustrasi: Edi Wahyono
Senin, 24 April 2023Hidup Zahra, 23 tahun, berubah ketika berusia 12 tahun. Ia masih ingat kejadian tahun 2011, tatkala menjelang ujian nasional sekolah. Badannya turun drastis lebih dari sepuluh kilogram dalam kurun waktu sebulan.
Mulanya, ia dan orang tuanya menduga hal itu terjadi karena stres persiapan ujian. Tetapi perilaku Zahra semakin tak biasa. Ia kerap merasa lapar dan porsi makannya bertambah. Anehnya, badannya justru semakin kurus.
Puncaknya adalah ketika Zahra tiba-tiba mengompol saat tidur malam. “Padahal usiaku sudah 12 tahun. Jadi agak nggak umum mengompol sudah sebesar itu,” cerita Zahra kepada reporter detikX pekan lalu.
Orang tua Zahra pun bergegas memeriksakan kondisi anaknya ke dokter anak. Setelah melakukan serangkaian uji laboratorium, dokter anak umum merujuknya ke dokter spesialis anak konsultan endokrin.Dokter endokrin mendiagnosis Zahra menyandang diabetes tipe 1. Sontak Zahra maupun orang tuanya terkejut tak menyangka.
“Aku merasa berempati saat itu karena melihat kekecewaan orang tuaku. Mereka merasa sudah membesarkan aku dengan gizi dan pola asuh terbaik, tapi mungkin sulit untuk menerima kenyataan bahwa anaknya terkena diabetes tipe 1. Apalagi di keluarga tidak ada keturunan sama sekali,” kenang Zahra.
Dokter lantas mengkonfirmasi diagnosanya dengan pengecekan laboratorium HbA1C dan cek C-peptide. Sembari mencerna apa yang terjadi, Zahra menjalani rawat inap selama satu minggu untuk pemantauan.
“Di rumah sakit aku dilatih dan diajarkan untuk mengatur pola makan, cek gula darah rutin, dan juga suntik insulin empat kali sehari,” ungkap Zahra.
Tak mudah menjalani hari-hari dengan diabetes ketika masa pubertas. Tetapi dukungan orang tua dan deteksi dini yang dilakukan membuat Zahra bisa melewatinya hingga sekarang. Tak ada satu hari pun yang Zahra lewatkan tanpa insulin dan mengecek gula darah.

Ilustrasi penyakit diabetes pada anak yang ditandai dengan peningkatan nafsu makan namun berat badan berkurang.
Foto: Getty Images/iStockphoto/tortoon
Sejak menikah tahun 2022, Zahra yang sudah tidak tinggal bersama orang tuanya memilih untuk melanjutkan perawatannya dengan BPJS untuk meringankan biaya sehari-hari, meskipun belum semuanya bisa tercakup dalam pembiayaan BPJS.
“BPJS cuma dapat pen insulin dan tiga jarum satu kali pakai. Sedangkan alcohol swab dan kelengkapan strip alat cek gula darah masih biaya sendiri,” tulis Zahra melalui aplikasi perpesanan instan.
Diabetes Anak Meningkat
Kesadaran deteksi dini gejala diabetes pada anak seperti yang dilakukan orang tua Zahra turut menyumbang tercatatnya angka penyandang diabetes melitus pada anak di Indonesia.Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), prevalensi anak penyandang diabetes meningkat 70 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak 2010.
Dokter Muhammad Faizi, SpA(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI mengatakan, peningkatan angka prevalensi tak terlepas dari peningkatan kesadaran komunitas dokter dan masyarakat.
“Kalau dulu tidak pernah ada yang melaporkan. Itu karena kita tidak tahu atau kurang awareness. Jadi sekarang ini sebenarnya (angka prevalensinya) bisa lebih tinggi lagi,” paparnya pada Rabu, 1 Februari 2023 lalu.
Terkini, IDAI mencatat terdapat 1.645 anak penyandang diabetes. Data itu dihimpun dari rumah sakit besar di 13 kota di antaranya Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar, dan Manado.
Tak hanya di Indonesia, angka prevalensi diabetes melitus pada anak terjadi di seluruh dunia. Diabetes melitus merupakan suatu penyakit akibat gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah dalam waktu yang kronis.
Terdapat empat jenis tipe diabetes. Dua di antaranya, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2, banyak diidap masyarakat Indonesia. Diabetes melitus tipe 2 terjadi akibat resistensi insulin. Insulin banyak di dalam tubuh tetapi tidak bisa bekerja secara efektif.
“Berbeda dengan diabetes melitus tipe 2, diabetes melitus tipe 1 kebanyakan terjadi pada anak. Tubuh tidak bisa bekerja menghasilkan insulin,” jelas Faizi.
Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kondisi autoimun dan tidak bisa dicegah. Sedangkan diabetes tipe 2 bisa dicegah dengan menjaga pola gaya hidup sehat.
Namun, menurut catatan IDAI, 71 persen anak pada tahun 2017 terdeteksi diabetes tipe 1 ketika sudah dalam keadaan Ketoasidosis diabetik (KAD). Project Leader Changing Diabetes in Children (CDiC) Indonesia IDAI, Prof DR dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) menyebutkan KAD merupakan kondisi darurat yang mengancam jiwa.
“Jadi dia (pasien) datang dalam keadaan gawat. Ketika dia dalam keadaan gawat, dia sesak, muntah-muntah, atau sakit perut. Dia bisa terdiagnosis seperti penyakit lain,” jelas Prof Aman kepada reporter detikX, Minggu, 16 April 2023.
Oleh sebab itu, menurutnya, penanganan diabetes pada anak tak bisa disepelekan dan orang tua mesti waspada. Jika muncul gejala anak terlalu banyak makan, banyak minum, banyak kencing, namun berat badan turun drastis dan anak mudah lemas, kata Prof Aman, “hal pertama yang harus dipikirkan adalah diabetes,” lanjutnya.
Meski demikian, pekerjaan rumah penanganan diabetes pada anak bukan hanya tugas orang tua dan IDAI saja. “Jadi IDI juga harus dilibatkan agar paham, seluruh dokter umum juga harus paham. Seluruh tenaga kesehatan itu harus paham bahwa diabetes melitus itu bisa (terjadi) pada anak,” tegas Prof Aman.
Selain itu, dukungan dalam keterjangkauan fasilitas kesehatan secara ekonomi mesti dioptimalkan. Pada aspek perawatan, menurut pengamatan Aman, kebutuhan jarum dan strip untuk mengecek darah belum ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah dalam pembiayaan BPJS Kesehatan.
“Jarumnya harus ditanggung sesuai dengan dia (penyandang diabetes) berapa kali suntik (dalam sehari),” katanya.
-jl3jzb.png)
Ilustrasi pengecekan gula darah pada anak.
Foto: Thinkstock
Dikonfirmasi detikX, Agustian Fardianto, Asisten Deputi Komunikasi Publik dan Hubungan Masyarakat BPJW Kesehatan menjelaskan bahwa pembiayaan pasien diabetes dari awal diagnosa hingga perawatan masuk dalam paket pembayaran CBG’s dan luar paket CBG’s.
“Dalam hal peserta memerlukan tambahan jarum insulin, maka rumah sakit dapat memberikan tambahan jarum insulin tersebut kepada peserta yang penjaminannya termasuk lingkup tarif pembayaran CBG’s untuk biaya layanan rawat jalannya,” kata Agustian.
Jaminan kebutuhan insulin yang meliputi jarum suntik tersebut tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018. Namun, perihal strip untuk mengecek gula tidak dijawab secara spesifik oleh Agustian.
“Dalam sistem pengobatan CBG’s ini mulai dari konsultasi, obat-obatan, bahan medis habis pakai semua sudah ditanggung. Jadi tidak ada lagi biaya yang dibebankan kepada pasien,” jelas Agustian.
Faktanya, bagi pasien diabetes butuh pemeriksaan gula darah menggunakan strip minimal empat kali hingga tujuh kali dalam sehari. Begitu pula dengan jarum insulin. Biaya yang mengucur tentu tidak murah.
Di sisi lain, Ketua Yayasan Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (Ikadar) Indonesia, Moh Arif Novianto menyampaikan terdapat kendala lain di lapangan yang mempersulit perawatan penyandang diabetes.
“Banyak orang tua yang mengeluh, tidak semua farmasi di rumah sakit memberikan insulin lengkap seperti yang telah diresepkan oleh dokter,” katanya kepada reporter detikX, Sabtu, 15 April 2023.
Reporter: Ani Mardatila
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Irwan Nugroho