INTERMESO

Kampung Petasan Indramayu

Lingkaran Setan Industri Petasan

Jumlah uang yang berputar di Kampung Petasan Indramayu disebut mencapai triliunan rupiah. Kini lesu karena menurunnya permintaan.

Foto: Petasan yang diproduksi masyarakat Teluk Agung, Indramayu (May Rahmadi/detikcom)

Kamis, 20 April 2023

Di tengah waktu senggangnya, NM, perempuan 44 tahun di Desa Teluk Agung, Indramayu, kerap melinting congkong. Di Indramayu, congkong berarti selongsong kertas yang berguna untuk membuat petasan korek. Menggunakan alat pelinting yang terbuat dari batang alat pancing bernama pleting, rutinitas itu dia lakukan untuk menambah penghasilan tatkala warungnya sepi pembeli.

“Kita kayak gini juga sambil zikir,” katanya seraya memperlihatkan cara melinting congkong, Jumat 14 April 2023. “Lumayan, buat nambah penghasilan.”

NM adalah seorang pedagang warung sembako. Dia tinggal bersama dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Suaminya bekerja di Jakarta sebagai sopir.

NM mengatakan, penghasilan dari dagangan warung serta gaji suami tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena itu, segala hal yang bisa dia kerjakan akan dilakukan, termasuk membuat congkong. “Yang penting, kan, halal,” katanya.

Desa Teluk Agung, Indramayu, merupakan wilayah yang dikenal dengan nama ‘Kampung Petasan’. Dulu, seluruh penghuni kampung ini memproduksi petasan, yang biasa disebut sebagai bledogan. Mereka punya keahlian yang diwarisi secara turun temurun.

Namun, kini jumlahnya sudah berkurang, meski tetap banyak. NM adalah salah satunya. Dia mengisahkan, waktu kecil orang tuanya adalah petani. Pendapatan hasil tani tak cukup untuk hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, NM pun membantu keluarga mendapat penghasilan dengan menjual congkong.

Keahlian itu pun terus dia gunakan sampai sekarang. Saat ini, NM mengaku punya 20 kilogram congkong siap jual yang ada di rumahnya. Congkong-congkong itu akan dijual kepada pemilik pabrik petasan rumahan yang juga merupakan tetangganya.

“Nanti kalau ada yang nyari, ya, atau kalau harganya lagi mahal, kita jual,” katanya. “Biasanya dari mulut ke mulut saja, kita tahu ada yang butuh.”

Tumpukan petasan yang diproduksi di rumah seorang warga Desa Teluk Agung, Indramayu
Foto: May Rahmadi/detikcom 

Kertas congkong menyerupai kertas brosur minimarket yang dipotong-potong seukuran perasan korek. NM membeli kertas itu dengan harga Rp13 ribu per kilogram.

Jika sudah dilinting menjadi congkong, harga per kilogramnya berubah di kisaran Rp18 ribu sampai Rp25 ribu. “Kalau harga lagi mahal, sih, kita seneng banget keluarin stok yang ada, tapi sekarang, boro-boro. Yang nyari saja jarang,” kata eks pekerja migran yang pernah bekerja di Arab ini.

Pelinting congkong hanya satu dari sederet rantai produksi petasan di Desa Teluk Agung. Selain melinting selongsong petasan, sebagian warga juga menyimpan bahan-bahan kimia sebagai peledak seperti belerang, barium nitrat, potasium florat, dan lain-lain.

NM mengatakan, mereka yang memiliki bahan-bahan kimia itu tidak banyak. Sebab, pembelian bahan-bahan tersebut tidak mudah. "Entah gimana orang bisa mendapatkan itu," katanya.

Congkong-congkong dan bahan-bahan peledak itu kemudian dibeli oleh pengusaha kecil yang berperan meraciknya menjadi petasan. ST, pengusaha perempuan berusia 63 tahun yang memiliki empat pekerja, mengatakan, jika sudah diracik, petasan-petasan itu dikumpulkan di gudang.

"Nanti tinggal tunggu penyuplai yang mau beli," katanya. "Biasanya, disuplai ke Jakarta."

Namun, ST menekankan, permintaan terhadap petasan saat ini sangat jauh menurun, baik secara langsung maupun via daring. Akibatnya, banyak stok petasan tidak terjual.

ST hanyalah salah satu pengusaha kecil. Kepala Desa Teluk Agung Rasmani, mengatakan, bagi pengusaha petasan yang lebih besar bisa memiliki pekerja hingga 25 orang. "Apalagi dulu, itu hampir tiap rumah ada yang produksi petasan," katanya.

Rasmani menjelaskan, penduduk sebagian banyak penduduk Desa Teluk Agung berprofesi sebagai petani dan nelayan tambak. Tak sedikit pula warga yang memilih menjadi pekerja migran.

Petasan korek merupakan jenis petasan yang paling banyak diproduksi di Desa Teluk Agung
Foto: May Rahmadi/detikcom 

Karena sulitnya mendapat pekerjaan, mereka pun membuka usaha rumahan yang memproduksi bahan-bahan pembuat petasan maupun petasan jadi. Sebagian warga menjadikan produksi petasan sebagai tambahan penghasilan, tapi sebagian lain menjadikannya sebagai mata pencaharian utama.

"Kami dari segi penduduk sekarang tuh hampir 5.026 jiwa, dan yang masih produktif itu hampir 20 persen, yang masih membidangi pengrajin petasan tersebut," katanya. "Perputaran uang dari petasan itu sebenarnya triliunan kalau sedang lancar, walaupun masyarakat kami itu ada yang pinjam ke bank banyak."

Produksi petasan di Desa Teluk Agung bukan tanpa resiko. Sudah berkali-kali terjadi peristiwa ledakan di wilayah ini, bahkan ada yang memakan korban.

Dari segi aturan, industri petasan di sana memang ilegal. Polisi kerap melakukan penyitaan dan bahkan melakukan penangkapan terhadap mereka yang hendak menyuplai petasan ke luar kota.

Kepala Bidang Industri di Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Indramayu Komaryadi mengatakan, isu industri petasan ini memang menjadi dilema di mata pemerintah daerah.

Di satu sisi, itu merupakan mata pencaharian turun temurun masyarakat, tapi di sisi lain ada aturan yang dilanggar. Industri petasan itu, Komaryadi mengatakan, memiliki banyak resiko antara lain masalah keamanan, kesehatan, dan lingkungan.

Sementara, penindakan hukum bukanlah solusi. "Bisa ditindak, sangat bisa, tapi tidak mungkin seperti itu. Itu sudah mendarah daging," katanya.

Proses penjemuran petasan setelah diracik
Foto: May Rahmadi/detikcom 

Komaryadi melanjutkan, dalam beberapa pertemuan dengan warga, pemerintah daerah sudah pernah menawarkan untuk memindahkan lokasi pembuatan petasan itu. Opsi relokasi ke tempat yang jauh dari pemukiman warga, menurut Komaryadi, adalah solusi terbaik.

Dengan begitu, keamanan akan lebih baik baik dan para pelaku industri juga bisa mendapatkan izin serta pelatihan dari pemerintah daerah. Namun, Komaryadi mengatakan, opsi tersebut ditolak warga.

"Jadi kami tawarkan, akan ada satu izin untuk seluruhnya, tapi mereka tidak mau," katanya. "Mereka memilih untuk memproduksi di rumah masing-masing karena mereka bisa bebas menentukan harga sendiri."


Reporter: May Rahmadi, Dimas Miftakhul Fakri
Penulis: May Rahmadi
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE