Spotlight

Umar bin Khattab di SDN Pondok Cina 1

Sebanyak 200 orang tua siswa SDN Pondok Cina 1 menolak penggusuran dan pemindahan paksa sekolah anaknya. Mereka melawan rencana pemusnahan sekolah oleh Pemkot Depok untuk dibangun masjid raya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 14 Desember 2022

“Bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus.” Begitu tulisan pada spanduk besar berwarna hitam dengan gambar tulang di tengahnya di SDN Pondok Cina 1, Depok, Jawa Barat. Di bagian bawahnya, ada kutipan pernyataan dari Khalifah Umar bin Khattab mengenai keberpihakannya pada seorang Yahudi miskin yang tanahnya akan digusur oleh penguasa Mesir.

Ini bukan tentang kisah hidup sahabat Nabi ataupun kekhalifahan Islam. Kutipan di spanduk itu adalah wujud ekspresi para orang tua siswa yang menolak kebijakan penggusuran sekolah oleh Pemerintah Kota Depok untuk dijadikan masjid raya. Mereka menganggap Wali Kota Depok, yang juga politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohammad Idris tutup mata dan telinga mengenai permasalahan ini. 

“Tidak ada satu pun curhatan kami yang direspons Pemkot,” kata Wawan Setiawan, salah satu orang tua siswa, kepada reporter detikX kemarin.

Sejumlah orang tua wali beserta mahasiswa dari BEM Universitas Indonesia, Universitas BSI, Gunadarma melakukan aksi di depan SDN Pondok Cina 1, Depok, Jawa Barat, Selasa (13/12/2022). 
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

Pada Minggu, 11 Oktober 2022, pagi, dengan mengerahkan pasukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Wali Kota Idris hendak mengosongkan isi sekolah. Dia sekonyong-konyong ingin memusnahkan bangunan aset SDN Pondok Cina 1. Padahal belum ada kesepakatan dengan para orang tua siswa.

Kan, kasihan anak-anak terpaksa mengubah ritme biologisnya hanya karena kebijakan Pemkot yang tidak jelas.”

Para orang tua siswa menginap sejak Jumat, 9 Oktober 2022, untuk menghalangi pasukan yang diturunkan Idris. Mereka menghadang personel Satpol PP, mempertahankan fasilitas pembelajaran yang digunakan anak-anaknya di sekolah itu.

“Kami berjaga-jaga sejak Jumat, takutnya ada penggusuran lebih awal,” kata Wawan Setiawan.

Pengosongan aset di sekolah itu memang sudah diberitahukan sebelumnya. Namun pemberitahuan itu tidak didahului kesepakatan dengan para orang tua murid.

Wawan menceritakan pasukan Satpol PP itu tiba di sekolah sejak pukul 06.00 WIB. Para orang tua, yang lebih didominasi ibu-ibu, mencegah pasukan itu masuk ke sekolah karena mereka menilai itu adalah tindakan sewenang-wenang. Tidak ada dasar hukum yang jelas atas operasi pengosongan aset tersebut.

“Kami minta surat keputusan Wali Kota bahwa sekolah ini harus digusur, mereka tidak bisa menunjukkan,” kata Wawan.

Walhasil, perdebatan pun terjadi selama berjam-jam hingga pukul 12.00 WIB. Karena warga tetap bertahan menjaga segala fasilitas yang ada di sekolah, Kepala Satpol PP Depok Lienda Ratnanurdianny memutuskan menunda operasi pengosongan aset tersebut.

Permasalahan Pemkot Depok dengan para orang tua siswa SDN Pondok Cina 1 ini terjadi sejak Agustus lalu. Sejak itu, para orang tua mendapat pemberitahuan bahwa sekolah itu bakal digusur untuk dijadikan masjid. Para siswa nantinya akan dipindahkan ke SDN Pondok Cina 3 dan 5. Namun para orang tua menolak rencana tersebut. Mereka keberatan karena rencana itu akan mengubah pola aktivitas anak-anaknya.

Penyebabnya, kelas-kelas di SDN Pondok Cina 3 dan 5 sudah digunakan. Anak-anak yang baru pindah dari SDN Pondok Cina 1 baru bisa menggunakan kelas pada siang hari.

“Dua sekolah itu tidak ada kelasnya. Makanya harus masuk siang,” kata Wawan. “Kan, kasihan anak-anak terpaksa mengubah ritme biologisnya hanya karena kebijakan Pemkot yang tidak jelas.”

Bukan hanya mengubah aktivitas anak-anaknya, rencana tersebut juga akan mengubah aktivitas orang tua dalam memantau pendidikan anak. Selain itu, para orang tua yang sudah terbiasa mengantar anak ke sekolah pada pagi hari harus mengatur ulang kebiasaan karena anaknya mesti bersekolah pada siang hari.

Para orang tua pun memandang sebenarnya tidak ada urgensi membangun masjid di Jalan Margonda, Depok, tempat SDN Pondok Cina 1 berdiri. Sebab, di sana sudah ada lebih dari 10 masjid. Wawan memandang Pemkot Depok seharusnya menjadikan sekolah itu sebagai cagar budaya.

Para orang tua siswa SDN Pondok Cina 1 Depok saat mengadu ke DPRD Depok terkait rencana penggusuran sekolah anaknya, Jumat (11/11/2022). 
Foto : Sholihin/detikcom

“Usia SD itu sudah lebih dari 50 tahun berdiri, lho,” kata Wawan. “Selama ini juga tidak pernah ada audiensi, yang ada hanya sosialisasi satu arah.”

SDN Pondok Cina 1 berdiri di atas lahan seluas 1.632 meter persegi dan memiliki 12 kelas. Sekitar 350 siswa dari kelas 1 hingga 6 menimba ilmu di sekolah itu. Karena ada rencana penggusuran, sebagian siswa sudah terpaksa pindah ke SDN Pondok Cina 3 dan 5. Sedangkan sekitar 200 siswa lainnya masih bertahan.

Sejak November 2022, Pemkot Depok memerintahkan seluruh guru di SDN Pondok Cina 1 tidak mengajar di sana. Walhasil, sejak saat itu, para murid belajar dengan dibantu para relawan.

Kuasa hukum para orang tua, Ikhsan Luthfi, menegaskan, hingga saat ini, 200 lebih orang tua siswa berkomitmen tetap menyekolahkan anaknya di sekolah itu. Mereka akan berjuang agar Pemkot Depok tidak menggusurnya. 

“Semua sepakat menolak rencana itu,” kata Luthfi.

Polemik penggusuran sekolah untuk dijadikan masjid ini sudah menjadi sorotan berbagai pihak, mulai Kementerian Pendidikan, Komnas HAM, hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Sedangkan Wali Kota Depok Mohammad Idris mengklaim rencana penggusuran itu sudah didasari berbagai kajian, antara lain kajian lingkungan dan lalu lintas.

Idris menambahkan, relokasi para siswa itu sebenarnya sudah direncanakan pada 2015 ketika Wali Kota Depok dijabat Nur Mahmudi Ismail, yang juga politikus PKS. “Ini keputusan SK Wali Kota 2015, ini tidak terekspos, makanya harus diekspos. Jadi sudah ada (rencana) untuk relokasi ini,” kata Idris kemarin.

Eksekusi rencana pembangunan masjid itu baru mulai berjalan sejak tahun lalu. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan, pada mulanya Pemkot Depok meminta bantuan anggaran untuk membangun masjid raya. Ridwan pun menyanggupi permintaan tersebut. Namun, Ridwan menegaskan, Pemkot Depok harus lebih dulu mempersiapkan lahan dan mengatasi segala persoalannya.

Tahun lalu Ridwan mendapatkan kabar lahan untuk pembangunan masjid tersebut siap. Namun ternyata, belakangan ini, lahan tersebut menjadi polemik berkepanjangan.

"Kalau sekarang ternyata belum, ada dinamika sosial, ya Pemkot Depok harus menyelesaikannya dulu," kata Ridwan pada Kamis, 17 November 2022. 

Polemik inilah yang mengingatkan para orang tua murid yang menolak pada kisah Khalifah Umar bin Khattab. Dikisahkan dari buku berjudul ‘The Great of Two Umars’, Gubernur Mesir Amr ibn al-Ash ingin membuat masjid megah di dekat istananya. Namun, di sana terdapat gubuk ringkih milik seorang Yahudi. Umar akhirnya membela seorang Yahudi tersebut.

Akses ke SDN Pondok Cina 1 tertutup trotoar yang baru direvitalisasi, Kamis (10/11/2022). Kini dibangun tangga untuk membantu akses ke sekolah tersebut.
Foto : Dwi Rahmawati/detikcom

Belakangan, Mohammad Idris memberikan informasi lain. Dia menegaskan upaya pemindahan SDN Pondok Cina 1 ditunda.

"Bagi siswa SDN Pondok Cina 1 yang masih belajar di SDN Pondok Cina 1 tetap akan difasilitasi belajar-mengajar di SDN Pondok Cina 1 sampai dengan terbangunnya ruang kelar baru di SDN Pondok Cina 5," kata Idris melalui akun Youtube resmi Pemkot Depok, Rabu, 14 Desember 2022.

Bagi siswa yang terlanjur pindah, ke SDN Pondok Cina 3 dan 5, kata Idris, diperkenankan untuk kembali bersekolah di SDN Pondok Cina 1. Sedangkan pembangunan masjid akan ditunda.


Reporter: May Rahmadi
Penulis: May Rahmadi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE