Spotlight

Bom Bunuh Diri
Teroris Kambuhan

Markas Polsek Astana Anyar, Bandung, diserang bom bunuh diri. Pelakunya mantan narapidana teroris.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 8 Desember 2022

Aktivitas perdagangan di sepanjang Jalan Astana Anyar, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat, sudah bergeliat pada Rabu, 7 Desember 2022, selepas Subuh. Warung makanan milik warga sudah buka sejak pagi buta. Seiring matahari semakin tinggi di ufuk timur, sejumlah gerai toko di kawasan itu pun dibuka pemiliknya.

Lalu lalang angkot dan kendaraan pribadi semakin banyak melintas di kawasan yang dikenal sebagai pusat perdagangan itu. Begitu juga dengan warung makan milik Dindin dan istrinya tengah ramai didatangi pelanggan. Kebanyakan pembelinya adalah para pedagang kaki lima di Jalan Pajagalan. Didin sibuk membereskan aneka hidangan makanan, sementara istrinya melayani pelanggan yang datang.

Blar...! Tiba-tiba terdengar suara yang memekakkan telinga Dindin, istrinya, serta para pelanggannya sekitar pukul 08.20 WIB. Suara dentuman yang mengejutkan itu juga sempat membuat tanah yang mereka pijak ikut bergetar. Mereka mengira dentuman itu berasal dari ban meledak. “Kaget, suaranya keras, bahkan terasa bergetar. Innalillahi,” ucap Dindin.

Warga menyemut di sekitar lokasi bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung.
Foto: Sudirman Wamad/detikJabar


Akibat ledakan itu, 11 orang menjadi korban, terdiri atas 10 polisi, satunya meninggal atas nama Sofyan. Sembilan orang dalam kategori luka-luka akibat pecahan serpihan ledakan.”

Dindin dan warga lain celingukan sambil matanya memandang ke arah sumber suara dentuman. Tak lama, hampir semua mata memandang ke arah kepulan asap putih yang membubung tinggi tepat di depan Kantor Polsek Astana Anyar, yang berjarak 30 meter dari mereka berdiri.

Kepulan asap putih itu begitu pekat sehingga menutupi plang bertulisan 'Polsek Astana Anyar'. Sejurus kemudian, terlihat sejumlah anggota kepolisian berhamburan ke luar dari area kantornya. Warga lain yang penasaran mencoba mendatangi kantor polisi yang terletak di Jalan Astana Anyar No 340 tersebut.

Tapi langkah warga dihalau polisi yang baru keluar agar tak mendekat. Warga semakin panik ketika polisi mengatakan ada ledakan bom bunuh diri. Warga pun tak mendekati area tersebut. Polisi meminta warga mundur sejauh mungkin.

Ledakan bom bunuh diri itu merusak plafon, pintu, jendela bagian depan kantor Polsek Astana Anyar, dan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). “Ledakan di dalam Mako Polsek saat anggota sedang melakukan apel pagi. Pelaku berada di dalam dan memaksa untuk mendekati anggota kita yang sedang apel,” kata Kepala Polda Jawa Barat Irjen Suntana di TKP, Rabu, 7 Desember 2022.

Dari keterangan polisi, sekitar pukul 08.20 WIB, saat sejumlah personel polisi tengah melaksanakan apel pagi, tiba-tiba datang seorang pria tak dikenal mengenakan jaket hitam dari arah pintu gerbang untuk masuk ke dalam barisan peserta apel pagi. Pria itu mengenakan tas ransel dan di bagian depannya seperti ada benda terbungkus.

Melihat hal itu, anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibas) Polsek Astana Anyar bernama Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Sofyan Didu berusaha mencegahnya. Ia berusaha mencegah orang yang tak dikenal dan mencurigakan yang memaksa mendekati barisan peserta apel pagi.

Karena niatnya dihalangi, pria itu malah langsung mengacung-acungkan sebuah golok kepada Sofyan dan polisi lainnya. Ketika Sofyan meminta orang tersebut mundur dan menjauh dari sejumlah polisi yang berkumpul, tiba-tiba, dalam hitungan beberapa detik, orang tak dikenal itu meledakkan dirinya sendiri.

Ledakan itu menghancurkan tubuh pelaku hingga terpotong menjadi beberapa bagian. Sementara itu, Sofyan, yang paling dekat dengan pelaku, mengalami luka cukup parah di bagian lehernya. Di sisi lain, 10 orang lainnya mengalami luka-luka ringan karena terkena serpihan bom.

Ada sembilan polisi yang mengalami luka-luka. Mereka adalah Iptu Suparyana (Kepala Unit Lantas), Ipda Asim (Kepala Unit Patroli), Aipda Agus (Kepala Unit 2 Sabhara), Iptu Wawan (Kepala Unit Bhimas), Ipda Zainal (Panit Bhimas), Iptu Susi (Kepala Unit Intel), dan Aiptu Heryanto (Sabhara). Juga ada satu warga sipil yang tengah melintas di depan Polsek Astana Anyar bernama Nurhasanah, 36 tahun.

Para korban ini lantas langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Immanuel. Namun, karena kondisi luka parah dibagian leher, Sofyan akhirnya mengembuskan napasnya yang terakhir. Sofyan gugur setelah mencoba menghalangi aksi serangan teroris tersebut. “Akibat ledakan itu, sebelas orang menjadi korban, terdiri atas 10 polisi, satunya meninggal atas nama Sofyan. 9 masih dalam kategori luka-luka akibat pecahan serpihan ledakan,” ungkap Suntana.

Setelah kejadian tersebut, polisi akhirnya mengetahui identitas pelaku bom bunuh diri. Pelaku diketahui bernama Agus Sujatno alias Abu Muslim bin Wahid, warga RT 04/RW 11, Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batu Nunggal, Kota Bandung. Pria berumur 34 itu ternyata mantan narapidana teroris dalam kasus bom panci di Taman Pendawa, Cicendo, Bandung, pada 27 Februari 2017.

Agus Sujatno, pelaku bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar
Foto: Istimewa 

Agusditahan di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan pada 2017-2021. Dalam peristiwa bom Polsek Astana Anyar kali ini, Agus datang menggunakan motor Suzuki Shogun warna biru bernomor polisi AD-5055-S. Ia saat itu membawa dua bom bom panci. Bom panci ini berisi sisa material, seperti potongan besi dan paku.

“Dari CCTV, bom dilekatkan keduanya di badannya, ditempel di depan dan belakang. Satu meledak dan satu terlempar ke kantor,” ungkap Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Ibrahim Tompo di sela olah TKP di Polsek Astana Anyar.

Pelaku memarkirkan motornya tak jauh dari kantor Kelurahan Nyengseret, tak jauh dari Polsek Astana Anyar. Di bagian lampu atas atau setang motor terdapat tempelan stiker berwarna hitam bertuliskan huruf Arab lambang ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Juga ditempeli kertas putih bertulisan “KUHP, Hukum Syirik/Kafir perangi para penegak hukum setan, QS: 9:29”.

Kepala Polri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, Agus merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung dan Jawa Barat. Setelah menjalani masa tahanan empat tahun di LP Nusakambangan, Agus bebas sejak September 2021. Gerak-gerik Agus selalu dipantau karena dikategorikan sebagai kelompok yang masih 'merah' dalam proses deradikalisasi. 

“Artinya, masuk kelompok masih 'merah'. Proses deradikalisasi membutuhkan teknik dan taktik yang berbeda,” jelas Sigit.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md membenarkan Agus mantan narapidana teroris yang masih dalam proses deradikalisasi. Tapi yang bersangkutan ternyata kembali aktif secara diam-diam dalam jaringannya.

“Keluar 2021, terus bekerja lagi secara diam-diam dengan jaringan yang sekarang kita tangani,” terang Mahfud, yang ditemui setelah menjenguk korban ledakan bom bunuh diri di RS Immanuel Bandung, Rabu, 7 Desember 2022.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menampik bila kasus bom bunuh diri yang dilakukan Agus di Polsek Astana Anyar sebagai kecolongan. Masalahnya kasus terorisme memang selalu mencari kesempatan. Karena itu, semua pihak harus waspada.

Kalau seperti ini, pelaku kejahatan selalu mencari kesempatan. Jadi dia cari celah-celah kapan, jamnya. Bisa jadi ketika semua sedang tidur, kita tidak ada di tempat, tapi dilihat ada simbol-simbol yang layak untuk diserang dia lakukan itu," kata Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar dalam keterangannya, Rabu, 7 Desember 2022.

Dari catatan detikJabar, bom bunuh diri dengan bom panci di Polsek Astana Anyar merupakan kasus ketiga di Bandung. Dua kasus bom panci juga sempat menggegerkan Bandung lima tahun silam, 2017. Pertama, ledakan bom panci di Taman Pendawa, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Senin, 27 Februari 2017.

Suasana pemakaman Aiptu Sofyan Didu, anggota Polsek Astana Anyar yang menjadi korban meninggal bom bunuh diri di kantor polisi tersebut, Rabu 7 Desember 2022
Foto: Novrian Arbi/ANTARA Foto 

Pelakunya adalah Yayat Cahdiyat. Ia bersama Agus merakit bom panci berkekuatan rendah (low explosive). Bahan dasar bom menggunakan pupuk urea dengan casing panci. Yayat, yang saat itu membawa senjata api, terlibat kontak tembak dengan personel Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di dalam kantor Kelurahan Arjuna.

Ia akhirnya dilumpuhkan dengan cara ditembak. Tapi nyawanya tak bisa ditolong ketika dalam perjalanan ke Rumah Sakit Kartika Sari. Tak lama, Densus 88 Antiteror menangkap Agus Sujatno, yang saat itu bekerja sebagai ahli listrik di sebuah apartemen di Bandung. Ia diduga yang merakit dan mendanai bom panci Cicendo.

Kedua, bom panci kembali meledak tak sengaja di sebuah rumah kontrakan di Kampung Kubang Beureum RT 07 RW 11, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung pada 8 Juli 2017. Polisi menangkap Agus Wiguna, 21 tahun, asal Garut, penghuni kontrakan yang bekerja sebagai tukang bakso.

Agus mengaku merakit bom panci melalui internet. Ia rencananya akan meledakkan bom panci di tiga tempat, yaitu rumah makan di Astana Anyar, kafe di Braga, dan Gereja Buah Batu. Tak lama Densus 88 Antiteror menangkap YC, warga Kampung Sirnagalih, Desa Karya Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Rencananya YC akan meledakkan bom di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).


Reporter: Wisma Putra, Bima Bagaskara, Sudirman Wawad (Bandung)
Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE