Spotlight

Meringkus Penipu Akademikus Kampus

Pelaku penipuan investasi bodong ratusan mahasiswa IPB diduga sempat ingin melarikan diri setelah kasusnya viral. Polisi berhasil menangkapnya pada 17 November lalu. Terbuka peluang adanya tersangka baru.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 29 November 2022

Menjelang pukul 03.00 WIB, pada Kamis, 17 November lalu, rumah Siti Aisyah Nasution di kompleks Kebun Raya Residence, Pasir Kuda, Bogor, Jawa Barat, digeruduk tim Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor. Aisyah pasrah setelah polisi menunjukkan surat penjemputan paksa terhadapnya atas dugaaan penipuan investasi bodong. 

Penangkapan Aisyah dilakukan selang dua hari setelah Polsek Dramaga menerima laporan dari ratusan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka menjadi korban atas dugaan penipuan investasi bodong yang dilakukan Aisyah.

“Jadi kami langsung melakukan pemeriksaan, kemudian gelar perkara. Setelah didapatkan cukup alat bukti, perkaranya naik sidik, langsung dilakukan upaya paksa,” tutur sumber detikX yang merupakan seorang penyidik Polres Bogor pada Kamis, 24 November 2022.

Mobil yang dibeli Aisyah, tersangka penipuan ratusan orang di Bogor yang dibeli dari uang para korbannya, Jumat (18/11/2022). 
Foto : Sholihin/detikcom

Sumber lainnya di Polres Bogor mengatakan proses gelar perkara hingga penangkapan paksa terhadap Aisyah berlangsung singkat. Penyebabnya, polisi mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa tersangka penipuan investasi bodong ini akan melarikan diri. Aisyah, kata sumber ini, sudah tahu kasusnya viral dan naik statusnya ke penyidikan.

Dengan bantuan dari masyarakat karena ini sudah menjadi atensi publik dan melibatkan korban yang cukup banyak, ya kami respons cukup cepat”

Tim penyidik yang bertugas memantau rumah Aisyah mendapati tersangka ini tidak lagi terlihat berada di rumah pada 15-16 November. Itulah alasan mengapa polisi bergerak cepat menangkap Aisyah ketika mengetahui penipu berusia 29 tahun ini pulang ke rumahnya pada 17 November.

“Ya, pertimbangan penyidik, perkara sudah masuk, sudah naik tersangka juga, ya kami amankanlah dia saat itu,” jelas sumber ini.

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Yohanes Redhoi Sigiro tidak membantah ataupun membenarkan keterangan dua sumber tersebut. Yohanes hanya mengatakan informasi yang disampaikan dua sumber ini bersifat teknis dan mestinya hanya menjadi konsumsi penyidik. Ketika ditanya lebih lanjut terkait kronologi penangkapan Aisyah, Yohanes enggan membeberkan lebih terperinci.

Kepada tim detikX, Yohanes hanya mengatakan proses penangkapan Aisyah dilakukan dengan cepat lantaran kasusnya sudah sangat meresahkan masyarakat. Waktu itu, kata Yohanes, kasus investasi bodong berkedok hadiah cashback belanja di toko online ini sudah sangat menyita perhatian publik.

Sampai sekarang tercatat ada 329 orang yang menjadi korban penipuan Aisyah. Sebanyak 116 di antaranya merupakan mahasiswa dari kampus IPB. Sebagian besar korban lainnya berasal dari kalangan akademisi di 38 universitas lain dan masyarakat sipil.

“Dengan bantuan dari masyarakat karena ini sudah menjadi atensi publik dan melibatkan korban yang cukup banyak, ya kami respons cukup cepat,” terang Yohanes ketika dihubungi melalui sambungan telepon kepada reporter detikX.

Transaksi Siluman dan Skema Ponzi

Aisyah ditahan selama 20 hari sejak 17 November hingga 7 Desember 2022. Selama itu pula, kata Yohanes, penyidik akan berupaya melengkapi berkas penyidikan sebelum nantinya diserahkan kepada kejaksaan.

Sejumlah saksi, termasuk dari pihak mahasiswa dan dua orang dari toko online, sudah diperiksa untuk melengkapi berkas tersebut. Dua toko online ini sempat diakui Aisyah sebagai miliknya. Hal itu dilakukan untuk mengelabui para korbannya bahwa dia adalah seorang pengusaha jual-beli yang sukses.

Barang bukti kasus penipuan ratusan orang di Bogor yang disita kepolisian daru tersangka Aisyah, Jumat (18/11/2022). 
Foto : Sholihin/detikcom

Lewat dua toko online itu, Aisyah meminta para korbannya melakukan ‘transaksi siluman’ dan dijanjikan bakal mendapatkan komisi 10-15 persen dari setiap transaksi. Para korban yang tidak memiliki uang untuk investasi bakal dibantu mengajukan pinjaman ke perusahaan pinjaman online (pinjol).

Dalam praktiknya, barang yang dibeli para korban ini tidak pernah dikirim sama sekali alias hanya transaksi fiktif. Aisyah bakal meminta kepada pemilik toko online mengirimkan kembali uang yang dibelanjakan para korban ini. Dari uang itulah, Aisyah bisa memberikan ‘keuntungan’ sebesar 10-15 persen kepada para korban.

Alur penipuan ini membuat penyidik turut mencurigai adanya peran pemilik toko onlinedalam kejahatan yang dilakukan Aisyah. Penyidik, sambung Yohanes Redhoi Sigiro, masih mendalami kesaksian operator dua toko online tersebut untuk mencari fakta-fakta baru. Selain itu, ada kemungkinan polisi menjerat tersangka baru dalam penipuan itu.

“Masih kami dalami apakah bisa dijadikan tersangka atau tidak. Tapi, untuk saat ini, tersangkanya masih tunggal, yaitu SAN,” jelas Yohanes.

Selain di Polres Bogor, kasus penipuan investasi bodong yang menyasar kalangan mahasiswa ini tengah ditangani oleh Polresta Bogor Kota. Berdasarkan salinan surat tanda bukti lapor yang tim detikX dapatkan, pelaporan dilakukan oleh masyarakat sipil yang menjadi korban Aisyah pada 5 Oktober 2022.

Dalam surat pelaporan ini, tertuang nama 278 korban dengan nilai kerugian masing-masing berkisar Rp 1 juta hingga Rp 20 juta. Secara total, kerugian seluruh korban ditaksir mencapai Rp 2,3 miliar.

Salah seorang korban yang dimintai keterangan penyidik mengaku telah ditipu Aisyah sebanyak tiga kali sejak Januari hingga Oktober 2022. Penipuan itu pertama kali dilakukan Aisyah ketika bertemu dengan korban di salah satu kafe kopi di Mal Botani Square, Bogor, Jawa Barat, pada pertengahan Januari silam.

Wakapolresta Bogor Kota AKBP Ferdy Irawan mengatakan laporan inilah yang akhirnya membuat pihaknya turut menyelidiki kasus penipuan yang dilakukan Aisyah. Sebab, kata Ferdy, Mal Botani Square sudah masuk dalam wilayah hukum Polresta Bogor Kota. Sedangkan kasus yang diselidiki oleh Polres Bogor dilakukan di sebuah kafe persis di depan kampus IPB di kawasan Dramaga, Bogor.

Perbedaan locus delicti dan tempus delicti alias tempat kejadian dan waktu ini menjadi alasan penyidik Polres Bogor dan Polresta Bogor Kota melakukan penyidikan secara bersamaan. Dua kantor polisi itu berkolaborasi untuk mendalami kasus yang telah memakan ratusan korban tersebut.

“Di Polresta Bogor juga statusnya sudah tersangka,” kata Ferdy kepada reporter detikXpekan lalu. “Kalau penahanannya di Kabupaten Bogor (Polres Bogor).”

Baik Polres Bogor maupun Polresta Bogor Kota telah mentersangkakan Aisyah dengan Pasal 372 dan 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Aisyah diduga telah melakukan penipuan dan penggelapan uang para korbannya dengan skema Ponzi. Aksi ini dilakukan dengan cara menutup cicilan pinjol maupun pembayaran keuntungan para korban dari uang hasil investasi korban-korban baru.

Pendamping hukum korban Aisyah, Anto Siburian, menganggap pasal yang disangkakan terhadap Aisyah ini belum cukup. Menurut Anto, Aisyah juga seharusnya ditersangkakan dengan Pasal 64 KUHP. Sebab, Aisyah sudah melakukan perbuatan ini berulang kali dan korbannya lebih dari 300 orang.

Selain itu, Anto menyarankan polisi menggunakan Pasal 55 KUHP untuk turut menjerat toko online yang membantu Aisyah melakukan kejahatannya. Pasal ini mengatur soal perbuatan kejahatan yang dilakukan lebih dari satu orang. Mereka yang melakukan, menyuruh, dan turut serta melakukan mestinya ikut dipidana.

“Toko itu bisa jadi turut serta karena para korban ini kan diminta menaikkan rating toko,” kata Anto kepada tim detikX pekan lalu.

Sumber detikX di Polres Bogor mengungkapkan, atas penetapan status tersangka ini, Aisyah juga bakal mengambil langkah-langkah hukum. Keluarga Aisyah, kata sumber ini, telah menunjuk pengacara untuk melakukan pembelaan di mata hukum. "Ada (pengacaranya) dari kami, ada juga dari keluarga, tapi saya nggak bisa kasih nomornya," kata sumber ini.

Tim detikX telah berupaya mencari nomor telepon kuasa hukum Aisyah melalui sejumlah sumber di Polres Bogor dan Polresta Bogor Kota. Namun, hingga artikel ini diterbitkan, kuasa hukum Aisyah belum dapat diakses.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Rani Rahayu
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE