SAINS

Mereka Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi

“Aku pikir tak ada yang bisa menghambat manusia untuk hidup ribuan tahun.”

Fauja Singh, 105 tahun, asal Edinburgh, Skotlandia
Foto: Getty Images

Jumat, 2 September 2016

Seperti kata Chairil Anwar dalam puisinya, siapa yang tidak ingin hidup seribu tahun lagi. Sudah sejak berabad-abad silam, manusia terobsesi pada obat panjang umur. Bukan cuma ingin panjang umur, kalau perlu, bisa hidup abadi seperti anggota klan MacLeod dalam film Highlander. Tapi mungkinkah manusia tidak mati alias immortal seperti dalam cerita fiksi karya Gregory Widen tersebut?

Di sejumlah kitab, ada banyak kisah soal manusia yang bisa hidup ratusan tahun. Di kitab Taurat, misalnya, ada kisah soal Methuselah, putra Enoch, yang meninggal pada umur 969 tahun. Dalam kitab Falun Gong, Li Hongzhi menulis soal pendeta Tao, Hui Zhao, yang hidup pada masa Dinasti Tang dan berpulang saat umurnya sudah 290 tahun. Saat meninggal pada 1995, konon, pendeta Buddha, L.P. Suwang, sudah mencapai umur lebih dari 500 tahun.

Apakah benar orang-orang tersebut hidup jauh lebih panjang ketimbang rata-rata orang, hal itu masih jadi silang pendapat. Sebagian orang tak percaya ada manusia hidup selama itu. Dalam bukunya, The Genesis Debate, Ronald Youngblood menulis kemungkinan salah tafsir dalam penghitungan umur Methuselah. Besar kemungkinan, angka 969 bukan merupakan tahun, melainkan bulan. Sehingga umur Methuselah sebenarnya saat meninggal belum satu abad.

Benar atau salah soal klaim umur orang-orang itu, ada beberapa peneliti yang percaya dan yakin, dengan pelbagai cara, manusia bisa berumur sangat panjang, bahkan mungkin immortal. Ini bukan bualan, bukan pula sekadar omong kosong. Sebab, yang menyampaikannya bukanlah peneliti-peneliti abal-abal.

Ray Kurzweil, Direktur Engineering Google
Foto: Getty Images

Penuaan bukan sesuatu yang tak bisa dihindari. Mungkin saja ada cara untuk melawan penuaan."

Daniel Doak, ekolog dari University of Colorado

Raymond “Ray” Kurzweil yakin, penuaan dan kematian bisa kita tunda, bahkan mungkin kita kalahkan. Ray mengatakan, dalam beberapa tahun mendatang pemahaman terhadap gen manusia akan semakin lengkap. Seperti sebuah mesin mobil, gen dalam tubuh manusia akan bisa dimodifikasi sekehendak kita. Kalau ada salah satu “komponen” yang rusak, menurut Ray, teknologi nano akan membuatkan penggantinya.

“Pada 2030-an, kita bakal bisa menanam robot-robot nano untuk menggenjot kekebalan tubuh guna menyingkirkan rupa-rupa penyakit,” Ray, Direktur Engineering Google dan manusia paling pintar di bumi menurut Bill Gates, pendiri Microsoft, menyampaikan ramalannya kepada New York Times, beberapa bulan lalu.

Aubrey de Grey, penulis buku Ending Aging, yakin, belasan tahun lagi peneliti akan menemukan cara untuk menghambat penuaan dan memperpanjang umur. Dia dan tim peneliti di Cambridge telah mengidentifikasi tujuh penyebab penuaan, di antaranya mutasi pada DNA dan protein penyusunnya, mutasi mitokondria, serta penumpukan protein tak berguna pada sel.

Aubrey dan timnya sangat yakin, semua penyebab penuaan itu bisa diatasi atau paling tidak dihambat. Hanya tinggal soal waktu. “Aku tidak melihat batas umur berapa lama manusia bisa hidup. Aku pikir tak ada yang bisa menghambat manusia untuk hidup ribuan tahun,” kata Aubrey kepada Guardian beberapa waktu lalu. Dia berlomba dengan peneliti-peneliti lain yang juga terobsesi untuk “menaklukkan” penuaan.

* * *

Sudah bertahun-tahun Anne Pringle meneliti lumut, khususnya lumut yang biasa tumbuh di batu nisan. Warnanya hijau pucat, jarang menarik perhatian orang. Namun, bagi Anne, profesor biologi di Harvard University, lumut itu bisa membantu mengungkap salah satu rahasia terbesar alam semesta: apakah mungkin makhluk hidup tidak mati secara biologis?

Jamur ulat atau caterpillar dari Hainan, Provinsi Qinghai, Tiongkok, yang dipercaya bisa membuat panjang umur
Foto: Getty Images

Selama hampir sepuluh tahun, Anne menguliti rahasia anggota genus Xanthoparmelia ini. Dia ingin tahu, dengan bertambahnya umur, apakah lumut ini berubah strukturnya, pelan-pelan hancur, dan mati. Seperti kita tahu, lumut alias lichen bukanlah satu individu, melainkan ekosistem kecil. Di dalamnya ada jamur utama, sekelompok alga dan bakteri.

Dan sebagian besar jamur, tak seperti manusia dan binatang bersel banyak lain, dia tak mengalami proses penuaan. Satu perkecualian adalah ragi. Jamur ini mengalami penuaan dan sering menjadi model penelitian bagaimana makhluk hidup berubah seiring dengan bertambahnya umur. Kebanyakan jamur mati bukan lantaran umur, melainkan karena sebab lain di luar tubuhnya, misalnya terinfeksi parasit.

Bagaimana sebenarnya proses penuaan terjadi dan mungkinkah melawannya? Ada yang berpendapat, penuaan terjadi ketika sel-sel dalam tubuh bermutasi setelah kemampuan reproduksi muncul. Artinya, menurut teori ini, proses penuaan tak bisa dihindari. “Tapi cara pandang ini tak berlaku pada jamur,” kata Anne Pringle dikutip majalah Smithsonian.

Daniel Doak, ekolog dari University of Colorado, mengatakan beberapa spesies makhluk hidup bisa terhindar dari penuaan. Seperti Turritopsis dohrnii, sejenis ubur-ubur. Alih-alih semakin kisut, ubur-ubur ini malah semakin muda dari waktu ke waktu. “Jadi penuaan bukan sesuatu yang tak bisa dihindari. Mungkin saja ada cara untuk melawan penuaan,” kata Doak. Bagaimana jamur melawan “hukum besi” penuaan, menjawab pertanyaan itulah yang jadi obsesi Anne.

Ada beberapa senyawa yang diyakini bisa menghambat penuaan, seperti resveratrol yang ada pada kulit buah anggur, rapamycin yang disintesis dari bakteri, dan protein p-21. Ada pula enzim telomerase yang menghambat pertumbuhan telomer, sekuen DNA yang terbentuk saat sel membelah diri. Sampai saat ini, belum ada obat, senyawa, atau teknik yang benar-benar mangkus menghambat penuaan atau memperpanjang umur manusia. Tapi upaya mencari obat panjang umur ini tak pernah berhenti.

Gabungan peneliti dari Amerika dan Kanada berencana menggelar uji klinis pemakaian Metformin untuk memperlambat penuaan. Biasanya, obat itu dipakai untuk menangani penyakit diabetes tipe-2. Belasan tahun lalu, penelitian di Inggris membuktikan, Metformin bisa memperpanjang umur penderita kanker.

Obat itu bekerja dengan memperlambat pembelahan sel, satu proses yang erat kaitannya dengan proses penuaan. Makin cepat pembelahan sel, makin cepat pula penuaan seseorang. Uji coba pada tikus menunjukkan hasil menjanjikan. Metformin memperpanjang umur tikus hingga 40 persen.

Muhammad Gulman, 97 tahun, dari Lembah Hunza, Pakistan. Di daerah ini banyak orang hidup sampai lanjut usia.
Foto: Getty Images


Memperlambat penuaan, menurut Gordon Lithgow, peneliti di Buck Institute for Research on Ageing, California, seperti menembakkan satu peluru, tapi kena dua sasaran sekaligus. “Jika kita memperlambat penuaan, kita akan sekaligus memperlambat pula datangnya penyakit yang terkait dengan penuaan,” kata Lithgow kepada Telegraph. “Ini jelas satu hal yang revolusioner.”

Gordon dan teman-temannya bakal adu cepat dengan tim Leonard Guarente. Selama bertahun-tahun, di laboratoriumnya di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Leonard memelototi bagaimana kerja sel selama proses penuaan. Dia menemukan gen yang memproduksi protein sirtuin. Protein ini diduga punya peran krusial dalam proses regenerasi sel. Riset pada tikus menunjukkan, seberapa banyak sirtuin dalam tubuh ditentukan oleh enzim nikotinamid adenin dinukleotida (NAD).

Leonard Guarente
Foto: MIT

Bersama Dan Alminana serta Eric Marcotulli—keduanya veteran perusahaan investasi—Guarente mendirikan perusahaan Elysium Health. Salah satu produk andalan Elysium adalah Basis. Pada kemasannya, pil ini berfungsi untuk “metabolic repair & optimization”. Guarente memang tak pernah mengklaim suplemen ini sebagai pil “panjang umur”, melainkan obat untuk menggenjot “kesehatan sel”.

Salah satu kandungan utama Basis adalah nikotinamid ribosida. Dalam tubuh, nikotinamid ribosida akan berubah menjadi NAD. Tambahan NAD ini ujung-ujungnya diharapkan akan mendongkrak keberadaan protein sirtuin. Apakah benar pil-pil Basis bisa memperlambat laju penuaan, Elysium masih harus membuktikannya. Dengan memasarkan Basis sebagai suplemen, bukan obat, Elysium tak perlu melewati uji klinis.

Elysium baru berencana melakukan uji coba fase pertama Basis terhadap 120 orang berumur 60-80 tahun. “Kalaupun pil ini tak banyak mengubah panjang umur seseorang, paling tidak akan memperpanjang usia kesehatannya,” kata Guarente, kepada MIT News.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim


Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.

SHARE