SAINS
“Jika dia berlatih sekeras aku, hasilnya tentu akan lebih luar biasa.”
Michael Phelps di Olimpiade Brasil 2016
Foto: Reuters
Sebelum era Michael Phelps, di lintasan renang ada “ikan besar” bernama Ian Thorpe. Ian “Thorpedo” Thorpe, kini 33 tahun, sudah pensiun dari lintasan renang beberapa tahun lalu. Pada masa jayanya, pada awal 2000-an, perenang asal Australia itu adalah idola Phelps.
Di Olimpiade 2000 di Sydney, Thorpe mendapat tiga medali emas dan mencatatkan tiga rekor dunia baru. Empat tahun kemudian di Athena, Yunani, Thorpe membawa pulang enam medali emas dengan memecahkan empat rekor dunia.
“Thorpe bukan cuma hebat di kolam renang, tapi juga banyak belajar bagaimana mesti bertindak di luar kolam,” Phelps menulis di bukunya, No Limits: The Will to Succeed. Menurut Phelps, ada dua olahragawan yang jadi idolanya. “Aku selalu mengidolakan Michael Jordan, bagaimana dia telah mengubah arena bola basket…. Ian Thorpe adalah Michael Jordan di kolam renang.”
Di Olimpiade Athena, Michael Phelps adu balap dengan Ian Thorpe di nomor 200 meter gaya bebas. Tapi pada saat itu, Phelps, yang baru 19 tahun, tak bisa mengalahkan Thorpe. Phelps hanya mendapat medali perunggu, di belakang Ian Thorpe dan perenang dari Belanda, Pieter van den Hoogenband. Sadar masih ada di belakang Thorpe, Phelps memelototi apa yang membuat lawannya itu bisa berenang lebih kencang.

Michael Phelps melompat ke dalam air di babak final gaya ganti 200 meter di Olimpiade Brasil, 2016.
Foto: Reuters
“Tendangannya seperti motor…. Saat berbalik, alih-alih menjejakkan kaki ke dinding sekuatnya dan buru-buru muncul di permukaan air, dia bertahan lebih lama di bawah air. Kedua kakinya bergerak seirama, bak gerakan lumba-lumba,” kata Phelps soal lompatan pertama dan gaya berputar Thorpe. “Sejak hari itu, aku belajar melompat seperti dia dan menjejakkan kaki sekuatnya.”
Walaupun kalah cepat dari Thorpe di lintasan 200 meter gaya bebas, Phelps, yang ingin jadi Michael Jordan di kolam renang, mulai bersinar. Seperti Thorpe, Phelps membawa pulang enam medali emas. Tapi enam emas tak cukup bagi Michael Phelps untuk menjadi Michael Jordan di kolam renang. Dia harus melampaui rekor Mark Spitz, yang merebut tujuh medali emas di Olimpiade 1972 di Muenchen, Jerman. “Aku pikir dia tak akan bisa mencapainya…. Tapi aku bakal dengan senang hati menyaksikannya,” kata Thorpe, kepada News.Com, kala itu.
Ramalan sang idola terbukti meleset. Di Olimpiade Beijing empat tahun kemudian, Michael Phelps menyapu delapan medali emas dan memecahkan tujuh rekor dunia dan satu rekor Olimpiade. Dan Phelps masih jauh dari berhenti. Pada dua Olimpiade berikutnya, di London pada 2012 dan di Rio de Janeiro, Brasil, pada 2016, kendati tak sedahsyat prestasinya di Beijing, Phelps masih berjaya dengan masing-masing membawa empat dan lima medali emas dari kolam renang.
Total, Phelps punya 23 medali emas dari Olimpiade, menjadikannya atlet Olimpiade, bukan sekadar perenang, paling dahsyat sepanjang masa. Dengan membandingkan sejarah perolehan medali di Olimpiade, Charles Rettner, peneliti di IBM, menujum, baru pada tahun 2260 nanti atau 244 tahun lagi, rekor Phelps akan terlampaui atau tersamai.
* * *
Michael Phelps di babak final 100 meter kupu-kupu di Olimpiade Brazil
Foto : Reuters
Konon, Michael “Peluru Baltimore” Phelps memang terlahir sebagai perenang. Dengan tinggi badan 193 sentimeter, perenang asal Baltimore itu mempunyai rentang tangan jauh lebih panjang dari tubuhnya, yakni 203 cm. Ukuran sepatunya, 14 untuk skala Amerika, atau 49,5 untuk ukuran Eropa, juga sangat besar.
“Kalian bisa segera melihat bagaimana bentuk tubuh yang memberikan keuntungan pada jenis olahraga tertentu,” kata Jay T. Kearney, Direktur Kinerja di Tim Olimpiade Amerika Serikat, kepada Washington Post, beberapa waktu lalu. “Untuk perenang gaya bebas dan kupu-kupu, mempunyai tubuh yang tinggi, tangan yang lebar, dan telapak kaki yang besar merupakan satu keuntungan.”
Punya postur tubuh menjulang dan rentang tangan lebar tentu bukan jaminan bakal bisa berenang secepat lumba-lumba, secepat Michael Phelps. Tubuh Matt Grevers, anggota tim renang Amerika, menjulang lebih dari 2 meter dengan bentang tangan lebih lebar lagi. Dua kali ikut Olimpiade, yakni pada 2008 dan 2012, Matt membawa pulang empat medali emas, tiga di antaranya dari nomor renang beregu atau estafet. Matt perenang yang lumayan bagus, tapi masih jauh dari Phelps.
“Jadi tinggi badan bukan jaminan prestasi,” kata Richard Weiner, peneliti olahraga di Universitas Wisconsin-Milwaukee, kepada Scientific American. Richard juga tak yakin bahwa ada yang “abnormal” pada atlet-atlet hebat seperti Michael Phelps, Usain Bolt, atau Katie Ledecky. “Aku tak percaya bahwa atlet-atlet itu punya kapasitas paru-paru 200 persen lebih tinggi dari orang normal atau punya kekuatan otot dua kali lebih kuat dari orang biasa… come on.”
Teknik berenang hasil latihan bertahun-tahun tentu juga punya andil di lintasan renang. Saat Phelps melompat ke lintasan sebagai perenang kedua di nomor 4 X 100 meter gaya bebas di Olimpiade Brasil pekan lalu, dia tertinggal beberapa detik dari perenang Prancis, Fabien Gilot. Tapi Phelps melibas selisih itu saat berputar balik. Ketika badannya muncul di permukaan air setelah berbalik, dia sudah unggul setengah badan dari Gilot.

Michael Phelps dan perenang Amerika Serikat merayakan medali emas di nomor 4x100 meter gaya ganti di Olimpiade Brasil.
Foto: Reuters
“Sepakan kaki saat berputar balik dan berenang di bawah air merupakan teknik berenang paling cepat karena mengurangi hambatan gelombang permukaan,” kata John Mullen, pendiri Swimming Science. Tapi berenang di bawah air kelewat lama juga tak menguntungkan karena perenang bakal kekurangan oksigen. Phelps sanggup berenang di bawah air lebih lama tanpa mengurangi kecepatannya. Ini jelas buah dari latihan, bukan faktor keturunan.
Memang ada beberapa gen yang konon akan menentukan apakah seseorang akan menjadi atlet kelas kampung, kelas kecamatan, atau kelas dunia. Daniel Macarthur, dosen di Harvard Medical School, telah bertahun-tahun meneliti hubungan gen ACTN3 dengan atlet-atlet top. Menurut Daniel, gen ACTN3 muncul dalam dua varian pada manusia, yakni gen 577R dan 577X.
Keberadaan gen 577X mencegah kemunculan protein a-actinin-3 dalam otot. Rendahnya atau tak adanya kadar protein a-actinin-3 pada otot bakal meningkatkan ledakan energi pada otot yang sangat dibutuhkan seorang perenang seperti Phelps.
Timothy Caufield, peneliti dari Universitas Alberta, Kanada, tak percaya bahwa satu gen ACTN3 bisa menentukan nasib seorang atlet. Kalaupun ada pengaruhnya, menurut Timothy kepada Los Angeles Times, peran gen ACTN3 pada prestasi atlet sangat kecil. Fakta berbicara. Dari 60-an juta warga Inggris, sekitar sepertiganya punya gen ACTN3 dalam tubuhnya. “Tapi hanya sebagian sangat kecil dari mereka yang jadi atlet hebat,” kata Timothy.
Bakat bawaan atau faktor genetis barangkali memang ada pengaruhnya terhadap masa depan atlet. Sebab, berlatih sangat keras saja tak akan menjadikan seseorang atlet hebat. Michael Phelps, kata Tyler Clary, anggota tim renang Amerika ke Olimpiade 2012, tak berlatih sekeras dia. “Jika dia berlatih sekeras aku, hasilnya tentu akan lebih luar biasa,” kata Tyler kepada harian Baltimore Sun.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.