SAINS

Berlari Seperti
‘Petir’ Bolt

“Kecuali manusia telah berubah spesies, itulah kemampuan lari paling cepat yang bisa dicapai manusia.”

Usain Bolt
Foto: Getty Images

Jumat, 19 Agustus 2016

Barangkali, hanya dengan cara menjegal kakinya, pelari lain bisa mengalahkan Usain Bolt. Sejak Olimpiade Beijing 2008, tak ada pelari lain yang bisa mengalahkan sprinter asal Jamaika itu. Tidak Justin Gatlin, bukan pula Tyson Gay, maupun Asafa Powell.

Beberapa hari lalu, walaupun kalah cepat dari Justin Gatlin saat menjejakkan kaki dari garis start, Usain kembali merebut medali emas di nomor lari 100 meter. Inilah ketiga kalinya berturut-turut dalam Olimpiade, Bolt merebut emas di nomor lari paling bergengsi itu.

“Ada orang mengatakan aku bakal bisa immortal, hidup abadi…. Dua medali lagi dan aku akan berhenti. Immortal,” kata Bolt, dikutip BBC, setelah mengalahkan Gatlin dan Andre de Grasse. “Hari ini aku tidak berlari sempurna, tapi menuntaskannya dengan baik…. Tak ada orang lain yang pernah mencapainya.”

Bolt memang pantas agak jumawa. Sampai hari ini, tak ada pelari lain yang punya catatan sedahsyat dia: pemegang rekor dunia di nomor lari 100 meter, 200 meter, dan estafet 4 x 100 meter. Beberapa peneliti menyimpulkan, Bolt sebenarnya bisa berlari lebih kencang lagi dan menjadi satu-satunya manusia yang bisa berlari sejauh 100 meter dalam waktu kurang dari 9,5 detik. Rekornya untuk lari 100 meter adalah 9,58 detik, sementara di lari 200 meter, catatan terbaik Bolt adalah 9,19 detik.

Matematikawan dari Universitas Bloomsburg, Inggris, Reza Noubary, pernah membuat simulasi dan menghitung batas waktu yang bisa dicapai manusia untuk berlari sejauh 100 meter adalah 9,44 detik. Setelah melihat catatan waktu Bolt, dia meralatnya. ”Barangkali angkanya bisa sedikit lebih kecil,” kata Profesor Reza kepada Wired. Dalam bukunya, The Perfection Point, John Brenkus menaksir batas waktu maksimum kemampuan lari manusia sejauh 100 meter adalah 8,99 detik. “Kecuali manusia telah berubah spesies, itulah kemampuan lari paling cepat yang bisa dicapai manusia.”

Usain Bolt di Olimpiade Brasil, 2016
Foto: Reuters

Profesor John D. Barrow, dosen matematika di Cambridge University, Inggris, punya tip untuk Bolt supaya dia bisa memecahkan rekornya dan barangkali bisa menembus waktu 9 detik. Menurut Profesor Barrow, tanpa perlu banyak usaha, sebenarnya Bolt bisa mencetak rekor 9,45 detik.

“Pertama, reaksi Bolt saat start sangat buruk untuk kelas sprinter seperti dia,” kata Profesor Barrow, kepada Daily Beast, beberapa waktu lalu. Jika Bolt bisa memperbaiki tolakan kaki pertamanya, menurut Barrow, dia bisa memangkas waktu menjadi 9,53 detik.

Kedua, Bolt bisa memanfaatkan kecepatan angin hingga batas yang diperkenankan, yakni 2 meter per detik. Dengan cara ini, lagi-lagi Bolt bisa mengurangi waktunya menjadi 9,48 detik. Cara ketiga, dengan berlari di dataran tinggi. Menurut aturan internasional, ketinggian lokasi lomba yang diperkenankan adalah 1.000 meter di atas permukaan laut. Jika Bolt bisa berlari di dataran tinggi, ada kemungkinan Bolt bisa memangkas lagi catatan waktunya menjadi 9,45 detik.

Sampai berapa cepat kemampuan alamiah manusia dalam berlari memang masih jadi teka-teki. “Kita masih jauh untuk memahami berapa batas kecepatan seorang Usain Bolt dan sprinter lainnya,” kata Barrow. Peter Weyand, peneliti olahraga dari Universitas Southern Methodist, Amerika Serikat, mengatakan sangat sulit menghitung batas maksimum kemampuan seorang sprinter. “Lari jarak pendek merupakan sebuah lubang hitam,” katanya.

* * *

Bagaimana Usain “Lightning” Bolt bisa berlari jauh lebih kencang ketimbang miliaran orang di dunia masih sulit dipahami.

Maurice Wilson, Direktur Teknik Tim Olimpiade Jamaika, dengan nada bergurau mengatakan “rahasia” kemampuan lari Bolt barangkali adalah ubi yang jadi santapan sehari-hari ibunya, Jennifer, saat mengandung. “Ubi adalah sumber karbohidrat yang kaya serat dan banyak menyimpan asam fitat, senyawa yang berperan penting dalam pembentukan otot ‘cepat’,” kata Maurice, kepada National Post. Tapi tak lantas makan banyak ubi akan menjadikan orang bisa berlari sekencang Usain Bolt.

Usain Bolt mengacungkan sepatunya setelah memenangi lari 100 meter di Olimpiade Brasil, 2016
Foto: Reuters

Lintasan atletik milik SMA William Knibb di Kingston, Jamaika, sama sekali tak mirip sebuah lintasan yang telah melahirkan Usain Bolt, 25 tahun, pelari tercepat di antara 7 miliar manusia di bumi. Rumput kering liar meranggas, tumbuh menguning terbakar matahari.

Yang menandai lapangan itu sebuah lintasan atletik hanyalah garis-garis panjang yang dibuat dengan oli bekas. Yeonkeo McKay, guru olahraga SMA William Knibb, menceritakan bagaimana Usain Bolt muda berlatih di lintasan ala kadarnya itu. “Dia selalu ingin menang,” kata McKay, kepada Der Spiegel, beberapa tahun lalu.

Wilton Peart, sprinter amatir di Kingston, mengatakan berlari di lapangan rumput menguatkan otot-otot kaki. Walaupun hanya hasil analis amatiran tanpa bukti ilmiah, Peart percaya lapangan rumput dan motivasi untuk lepas dari belenggu kemiskinanlah yang membentuk kemampuan lari Usain Bolt dan pelari-pelari cepat asal Jamaika.

Resep “rahasia” yang membuat Bolt, Asafa Powell, dan Yohan Blake bisa melesat secepat kilat terang tak segampang analisis Peart. “Aku dengar kamu dari sebuah majalah investigatif. Percayalah, kamu tak akan menemukan rahasia apa pun di sini,” kata Glen Mills, pelatih Bolt, kepada wartawan Der Spiegel yang menelusuri jejak sprinter-sprinter Jamaika.

Annete Hosoi, peneliti dari Massachusetts Institute of Technology, mengatakan kunci kecepatan Bolt ada pada tinggi badan dan kekuatan tubuhnya. Dengan tinggi badan 196 sentimeter, Bolt merupakan pelari tercepat bertubuh paling tinggi yang pernah meraih emas di lintasan Olimpiade. Rata-rata pelari cepat perlu 44 langkah kaki untuk mencapai jarak 100 meter. Bolt hanya butuh 41 langkah.

Usain Bolt di Olimpiade Beijing, 2008
Foto: Getty Images


Errol Morrison, dari University of Technology, Kingston, meneliti gen di otot pelari-pelari cepat di klub MVP Track, yang telah melahirkan Asafa Powell, mantan pemegang rekor dunia asal Jamaika. Errol menemukan gen ACTN3 lebih banyak pada otot sprinter-sprinter Jamaika ketimbang orang-orang dari Eropa.

Benarkah ada manusia yang memang terlahir sebagai atlet? Ada dua kubu yang punya pendapat berseberangan soal seberapa besar peran keturunan dalam urusan prestasi olahraga. Komite Olimpiade Nasional Uzbekistan rupanya termasuk dalam kubu yang percaya betul pada peran bakat genetis dalam prestasi olahraga.

Bekerja sama dengan Akademi Sains, Komite Olimpiade negara di Asia Tengah ini membuat program yang agak ambisius, yakni menyeleksi calon-calon atlet Olimpiade berdasarkan faktor genetis. Rustam Muhamedov, Direktur Institut Kimia Bio-Organik Uzbekistan, mengatakan program ini dimulai pada awal 2015.

“Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Cina, dan negara-negara Eropa, sudah memetakan genom manusia dan mengidentifikasi gen-gen yang mempengaruhi prestasi atlet,” kata Rustam kepada harian Pravda Vostoka. Berdasarkan faktor genetis ini, mereka juga bisa menentukan jenis olahraga apa yang paling cocok untuk sang calon juara.

Daniel Macarthur, dosen di Harvard Medical School, telah bertahun-tahun meneliti hubungan gen ACTN3 ini dengan atlet-atlet top. Menurut Daniel, gen ACTN3 muncul dalam dua varian pada manusia, yakni gen 577R dan 577X.

Usain Bolt berlari di depan sprinter lain di babak final lari 100 meter di Olimpiade Brasil.
Foto: Reuters

Keberadaan gen 577X mencegah kemunculan protein a-actinin-3 dalam otot. Rendahnya atau tak adanya kadar protein a-actinin-3 pada otot bakal meningkatkan ledakan energi pada otot yang sangat dibutuhkan seorang sprinter seperti Usain Bolt. Daniel menduga sekitar seperenam penduduk dunia memiliki gen 577X. Di media, orang-orang menamai gen ini sebagai gen sprinter.

Benarkah keberadaan gen ini menentukan kemampuan lari seorang Usain Bolt atau Yohan Blake? Daniel meragukannya. Perbedaan frekuensi gen 577R antara pelari-pelari Jamaika dengan pelari-pelari Eropa tidaklah setinggi yang dibayangkan. “Perbedaannya hanya antara 98 persen pada atlet Jamaika dan 82 persen pada atlet Eropa,” Daniel menulis di laman blognya.

Jika gen ACTN3 identik dengan sprinter, kata Daniel, mestinya bukan cuma Jamaika yang melahirkan sprinter-sprinter hebat. Sebab, rata-rata populasi penduduk Kenya memiliki gen ACTN3 lebih tinggi daripada penduduk Jamaika, yakni 99 persen. Tapi justru tak terdengar satu pun nama sprinter hebat dari negara di Afrika Timur ini. Kenya justru melahirkan banyak pelari jarak jauh yang tangguh.

Ken van Someren, Direktur Sains Olahraga di English Institute of Sport, mengatakan kemampuan seorang atlet ditentukan oleh faktor alamiah dan faktor bentukan atau latihan. “Faktor genetis hanya berperan sekitar 50 persen,” kata Someren kepada Reuters.

Pendapatnya berseberangan dengan Bengt Saltin, Direktur Copenhagen Muscle Research Institute di Denmark. Justru faktor genetislah, menurut Bengt, yang membedakan atlet Olimpiade dengan atlet kelas kampung. Jadi, menurut Bengt, sekalipun sudah berlatih sampai lumutan, Anda jangan bermimpi bisa berlari sejauh 100 meter hanya dalam waktu 9,58 detik seperti Usain Bolt jika tak punya gen sprinter.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim


Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.

SHARE