SAINS
“Aku tak pernah bisa membayangkan sesuatu sepanjang hidupku…. Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajah ayahku, kamarku waktu kecil.”
Foto: Thinkstock
Jumat, 29 Juli 2016Blake Ross terang bukan orang bodoh, bahkan bisa dibilang jenius. Pada usia 19 tahun, Blake bersama Dave Hyatt membuat browser Mozilla Firefox, yang dipakai ratusan juta orang sampai hari ini. Blake bekerja untuk Netscape Communications dan belakangan Mozilla Foundation sejak masih duduk di bangku SMA.
Umurnya baru 22 tahun saat dia direkrut Mark Zuckerberg sebagai Direktur Produk Facebook. Blake juga punya bakat lain. Tahun lalu, dia menulis naskah drama di kanal HBO, Silicon Valley. “Itu naskah drama televisi yang pertama aku tulis,” kata Blake kepada TechCruch.
Tapi jangan suruh Blake membayangkan sekawanan domba dan menghitung berapa jumlah domba dalam imajinasinya. Jangan pula minta dia menggambar gunung, ayam, atau anjing. “Aku tidak bisa,” Blake menulis. Bukan karena Blake tak berbakat menggambar atau berhitung, tapi lantaran dia tak mampu berimajinasi atau membayangkan anjing, kambing, kucing, dan segala hal.
Aku pikir aku punya kemampuan imajinasi sangat kuat, sehingga aku bisa menciptakan satu dunia dan bisa terus mengembangkannya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya tak mampu berimajinasi.”
Lauren Beard, penulis buku anak-anak Fairytale HairdresserTiga bulan lalu, Blake, 31 tahun, menulis panjang-lebar di Facebook soal ketidakmampuannya berimajinasi. Menurut Blake, dia tak punya “kanvas” di otaknya. “Aku tak pernah bisa membayangkan sesuatu sepanjang hidupku…. Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajah ayahku, kamarku waktu kecil, atau jalan yang aku lewati saat lari sepuluh menit lalu,” Blake menulis. Otaknya seolah-olah polos, kosong tanpa imajinasi.

Blake Ross
Foto: DigiFreak
Alih-alih punya gambaran utuh soal pemandangan pantai atau binatang atau perempuan, menurut Blake, otaknya mengingat sesuatu sebagai sekumpulan konsep. Seperti apa “imajinasi” versi Blake, hanya dia yang paham. Tapi Blake Ross tak sendiri. Di Facebook, kata Blake, ada dua orang yang tak bisa berfantasi senasib dengannya, yakni Ben Maurer dan Olaoluwa Okelola. Craig Venter, peneliti kondang, kabarnya juga “buta” imajinasi.
Mereka semua orang pintar yang tak mampu berfantasi. “Aku selalu merasa menjadi gabungan tak lengkap bodoh-pintar,” Blake menulis. Mereka semua “menderita” Aphantasia—nama untuk “kelainan” ini baru mulai dipakai setahun lalu.
* * *
Pada 2005, seorang laki-laki yang sudah lanjut usia datang ke kantor Adam Zeman di Sekolah Kedokteran Universitas Exeter, Inggris. Kepada Adam, laki-laki itu mengaku belum lama menjalani operasi pembedahan.
Tapi ada satu masalah besar yang sulit dia mengerti setelah pembedahan tuntas. Imajinasi dalam otaknya ikut terhapus. Dia mengaku tak mampu lagi berimajinasi. Dokter Adam mencari-cari di buku-buku kedokteran, tapi tak menemukan rujukan untuk kasus laki-laki itu.
Laki-laki itu setuju untuk diperiksa Adam Zeman dan teman-temannya di Universitas Exeter. Sejumlah tes menunjukkan tak ada masalah dalam memorinya. Tapi setiap kali diminta membayangkan sesuatu, pemindaian otak laki-laki itu menunjukkan ada bagian otak yang semestinya aktif ternyata tak menunjukkan reaksi.

Craig Venter, peneliti genom
Foto: Vittorio Zunino Celotto/Getty Images
Thomas Ebemeyer, 26 tahun, baru sadar bahwa dia tak sama dengan rata-rata orang sekitar lima tahun lalu. Thomas sangat terkejut saat pacarnya masih bisa mengingat dengan jelas baju yang dipakai seorang teman setahun sebelumnya.
“Aku tak paham bagaimana dia bisa melakukan itu,” kata Thomas kepada New York Times. Saat itu pula dia paham bahwa hampir semua temannya bisa berimajinasi seperti yang dilakukan pacarnya. Dia tak paham, apa yang salah di kepalanya. “Aku cari-cari di Google, tapi tak tahu pasti yang harus aku cari.”
Dari kontak yang dia peroleh, Thomas menghubungi Adam Zeman. Untuk menjajaki apa yang terjadi pada Thomas, Dokter Adam mengirimkan sejumlah pertanyaan. Salah satu yang ditanya Dokter Adam adalah gambaran rumahnya. Thomas bisa mengingat berapa banyak jendela dan pintu di rumahnya, tapi tak mampu menggambarkannya.
“Sangat aneh dan sulit dijelaskan,” Thomas menuturkan apa yang dia rasakan. “Padahal aku tahu semua fakta tentang rumahku, tahu di mana letak semua jendela.”

Ilustrasi
Foto: Matt Cardy/Getty Images
Kondisi yang dialami oleh Blake Ross dan Thomas sebenarnya sudah dikenali oleh psikolog-antropolog Inggris, Sir Francis Galton, hampir satu setengah abad lalu. Dalam artikelnya, “Statistics of Mental Imagery”, Galton menulis bahwa setiap orang punya derajat kemampuan yang berbeda dalam membayangkan kembali pemandangan yang pernah mereka lihat. Ada orang yang mampu membayangkan kembali dengan sangat detail, tapi ada pula yang imajinasi di kepalanya sangat kabur, bahkan kosong melompong. Beberapa tahun lalu, Adam Zeman bersama dua peneliti lain, Michaela Dewar dari Universitas Heriot-Watt, Skotlandia, dan Sergio Della Salla dari Universitas Edinburgh, Skotlandia, mengusulkan nama Aphantasia bagi mereka dengan imajinasi kosong itu.
Diperkirakan, satu di antara 50 orang punya masalah dalam urusan berimajinasi. “Tapi sampai sekarang belum ada bukti kaitan antara Aphantasia dan kemampuan belajar,” kata Dokter Adam kepada Guardian. Blake Ross dan Craig Venter buktinya.
Pada sebagian orang dengan Aphantasia, “kekurangan” itu tertutupi dengan “keunggulan” mereka dalam hal lain. Philip, 42 tahun, seorang fotografer asal Toronto, Kanada, punya Aphantasia, tapi dia bisa mengingat dan menirukan suara orang dengan sangat akurat. “Aku bisa menirukan suara semua orang. Aku juga bisa mengimitasi aksen bicara orang,” kata Philip.

Ilustrasi
Foto: Dan Kitwood/Getty Images
Menurut Adam, Aphantasia bukanlah kelainan, melainkan hanya salah satu variasi pada manusia. Ada orang dengan kemampuan imajinasi sangat hebat, tapi ada pula orang yang kemampuan berimajinasinya lemah. Orang-orang dengan Aphantasia, kata Joel Pearson, peneliti di Universitas New South Wales, Australia, biasanya punya cara khusus nonvisual untuk mengatasi ketidakmampuan mereka berimajinasi.
Lauren Beard, penulis buku anak-anak Fairytale Hairdresser, adalah ujung lain dari Aphantasia. Lauren mengaku punya kemampuan berimajinasi luar biasa detail. Cukup mendengar satu atau dua kalimat saja tentang sesuatu atau peristiwa, Lauren bisa mengembangkannya menjadi satu gambaran sangat detail.
“Aku pikir aku punya kemampuan imajinasi sangat kuat, sehingga aku bisa menciptakan satu dunia dan bisa terus mengembangkannya,” kata Lauren, dikutip BBC. “Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya tak mampu berimajinasi.”
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.