SAINS

Whoopi Goldberg Pun Bisnis Ganja

"Dari kacamata chef, ganja mestinya ditempatkan dalam satu rak dengan daun basil dan rosemary."

Warga Uruguay bersukacita setelah pemerintah melegalkan ganja.
Foto: dok. Marijuana.org

Kamis, 16 Juni 2016

Duduk santai di kantornya, persis menghadap alun-alun Kota Montevideo, Uruguay, Guillermo Del Monte sama sekali tak mirip juragan ganja. Bajunya licin perlente, dengan celana jins terbaru, pria yang baru berumur 29 tahun itu lebih mirip sosok eksekutif muda.

Untuk seorang juragan ganja, gaya hidup Guillermo sepertinya juga kelewat lurus. Dia tak pernah merokok sepanjang hidupnya dan jarang sekali menenggak minuman beralkohol. "Aku mungkin kecanduan jus jeruk," kata Guillermo, kepada Guardian, disusul tawanya berderai.

Bisnis ganja Guillermo bermula tiga tahun lalu saat Presiden Jose Mujica melegalkan perdagangan ganja di Uruguay, baik untuk keperluan pengobatan maupun demi kesenangan. Menurut peraturan baru itu, setiap warga Uruguay yang telah lewat usia 18 tahun boleh membeli maksimum 40 gram ganja setiap bulan di apotek-apotek yang ditunjuk pemerintah. Jika pingin irit, mereka juga boleh menanam sendiri di halamannya.

Perusahaan milik Guillermo, International Cannabis Corp, adalah satu di antara dua perusahaan yang ditunjuk pemerintah Uruguay untuk membudidayakan ganja. Ada tiga jenis tanaman ganja yang dibudidayakan dengan kandungan zat aktif tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD) berbeda-beda.

Karyawan Tikun Olam, perusahaan asal Israel, mengepak mariyuana.
Foto: Getty Images

Untuk tahap pertama, International Cannabis telah menanam 3.000 batang tanaman ganja di luar Kota Montevideo. Kebun ganja ini dijaga ketat oleh polisi. Pemerintah Uruguay pasang target, International Cannabis bisa memproduksi 2.000 kilogram ganja setiap tahun. Satu gram ganja dijual sekitar US$ 1, dus perusahaan Guillermo bakal mendapat sekitar US$ 2 juta atau Rp 27 miliar per tahun.

Sebelum jadi juragan ganja, Guillermo bekerja di satu bank di Uruguay. Tapi, melihat peluang yang dibuka Presiden Mujica, Guillermo segera menangkapnya. "Memberi tahu mertuaku jadi bagian paling sulitnya," kata Guillermo. "Tapi mereka tahu aku bukan pemakai atau pengedar ganja, dan mereka paham dengan peluang menjadi bagian dari sejarah ini."

Apalagi peluang menjual ganja ke luar negeri makin terbuka. Sejumlah negara telah melegalkan ganja untuk pengobatan, seperti Kolombia dan Kanada. Sejumlah negara bagian di Amerika Serikat, seperti Colorado dan Oregon, juga telah menghalalkan ganja alias mariyuana. Guillermo yakin ganja dari kebunnya bisa bersaing dengan ganja yang ditanam di halaman belakang rumah.

"Jika ganja kami lebih baik dan lebih murah, tak masuk akal jika orang masih membeli dari orang lain," kata Guillermo. Di jalanan Montevideo, 1 gram ganja dijual US$ 3 atau sekitar Rp 40 ribu.

* * *

Mariyuana di Uruguay
Foto: Reuters


Di mana ada gula, semut pasti akan berbondong-bondong merubung. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah negara, juga pemerintah lokal, melegalkan perdagangan ganja. Ada negara seperti Uruguay yang membuka keran lebar-lebar perdagangan ganja untuk kesenangan, tapi sebagian besar masih terbatas untuk keperluan pengobatan. Ini jelas peluang bisnis.

Juragan-juragan kaya di Lembah Silikon pun paham, ini peluang besar yang belum banyak pemainnya. Dua tahun lalu, Privateer Holding, perusahaan investasi yang disokong bos-bos tajir dari Lembah Silikon, seperti Peter Thiel, investor di PayPal dan Facebook, mendirikan Marley Natural.

Tahun lalu Marley mendapat suntikan modal US$ 75 juta, lebih dari Rp 1 triliun, untuk berdagang ganja. Manajemen Marley Natural bersepakat dengan keluarga penyanyi reggae Bob Marley untuk memakai namanya selama 30 tahun. Beberapa bulan lalu, perusahaan ini memperkenalkan sejumlah produknya. Selain menjual ganja kering, Marley Natural berdagang minyak cannabis. Semua bahan baku ganja mereka tanam di California.

"Kami tak hanya mendapatkan bahan baku dan mengolahnya secara alami, tapi produk kami juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup alamiah, seperti halnya Bob Marley," Zack Hutson, juru bicara Marley, seperti dikutip The Verge, mempromosikan produknya.

Bisnis ganja legal sepertinya bakal jadi bisnis yang gurih. ArcView Market Research menaksir, tahun lalu saja nilai perdagangan ganja legal di Amerika berkisar US$ 5,4 miliar atau sekitar Rp 73 triliun. Dalam lima tahun, angka itu diperkirakan bakal menggelembung menjadi US$ 21,8 miliar atau sekitar Rp 293 triliun. Beberapa selebritas, seperti Whiz Khalifa dan Snoop Dogg, sudah terjun atau "meminjamkan" namanya untuk bisnis ganja.

Legalisasi mariyuana di Uruguay
Foto: YouTube

Masih ingat Whoopi Goldberg? Bintang film peraih Oscar lewat film Ghost pada 1990 ini pun tergiur fulus dari berdagang ganja. Produk Whoopi & Maya, perusahaan yang dia dirikan bersama mitranya, Maya Elizabeth, khusus menjual ganja untuk meredakan sakit pada perempuan saat datang bulan.

"Aku akan berjalan pelan-pelan dengan bisnis ini. Aku tak ingin ini menjadi lelucon bagi orang lain," kata Whoopi, kepada USAToday, dua bulan lalu. Bintang komedi ini mengaku sudah punya pengalaman memakai ganja untuk mengatasi rasa sakit. Menurut Whoopi, dia sudah menyampaikan ide "obat" ganja untuk datang bulan kepada sejumlah laki-laki. Tapi tak ada yang menanggapinya serius. "Mereka bilang pasarnya terlalu sempit.... Kebanyakan laki-laki itu tak paham bagaimana rasanya datang bulan."

Bukan cuma untuk obat datang bulan, ganja sudah siap masuk ke dapur-dapur restoran di Amerika, seperti Cache-Cache di Aspen, Colorado. "Dari kacamata chef, ganja mestinya ditempatkan dalam satu rak dengan daun basil dan rosemary," kata Jessica Catalano. Buku resep masak Jessica, The Ganja Kitchen Revolution, laris manis di toko buku Amazon.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.

SHARE