SAINS

X-MEN DI DUNIA NYATA

Manusia-manusia 'Super'

"Kemampuan antisipasinya seperti Spider-Man."

Dean Karnazes
Foto: UltraMarathonMan

Jumat, 13 Mei 2016

Dean Karnazes sudah 53 tahun. Tapi jangan coba-coba menantangnya adu ketahanan lari. Berani bertaruh, tak ada di antara kita yang bisa mengalahkannya. Bayangkan, Dean sanggup berlari 560 kilometer, lebih jauh dari jarak Jakarta ke Yogyakarta jika ditarik garis lurus, selama 80 jam atau lebih dari tiga hari, tanpa berhenti, tanpa tidur.

Jangankan cuma lari keliling lapangan sepak bola sepuluh kali, bahkan lari maraton, bagi Dean, sudah seperti santapan tiap hari. Tak ada masalah bagi dia ikut dua kali lari maraton berturut-turut. Hanya sedikit keringat menetes di tubuhnya seolah-olah baru berjalan kaki beberapa puluh meter. "Ini baru pemanasan. Tubuhku masih terasa segar," kata Dean, kepada Inside Edition, setelah menuntaskan jarak 84 kilometer, pekan lalu.

Beberapa waktu lalu, Guardian menulis artikel soal kemampuan luar biasa Dean bertajuk “Dean Karnazes: the Man Who Can Run for Ever”. Memang agak berlebihan. Dean tetap manusia yang butuh tidur, bahkan saat berlari sejauh 560 kilometer. "Sejujurnya aku merasa sangat mengantuk. Pada hari ketiga, sepertinya aku berlari sambil tidur," kata Dean.

Dean memang punya tubuh lain dari yang lain. Lazimnya, setelah tubuh membakar glukosa dan mengubahnya menjadi energi, bakal tersisa laktat dalam sirkulasi darah. Mitokondria dalam sel tubuh, dengan bantuan enzim, sebenarnya bisa mengkonversi kembali laktat ini menjadi energi. Tapi makin lama berlari, kemampuan tubuh mengubah laktat menjadi energi akan berkurang. Timbunan asam laktat dalam otot pun makin banyak.

Dean Karnazes
Foto: NeverStopExploring

Hasil tes di Colorado beberapa waktu lalu membuktikan, tubuh Dean mampu membersihkan laktat dalam darahnya sangat cepat, membuat otot-ototnya seperti tak kenal lelah. Tubuh pelari-pelari jarak jauh biasanya punya kemampuan lebih tinggi daripada rata-rata orang dalam membersihkan timbunan laktat dalam darahnya. Makin sering berlatih, makin bagus pula kemampuan itu.

Berlari sejauh dan selama itu merupakan kemampuan manusia super."

Tapi hasil latihan tetap ada batasnya. Yang membuat pelari kelahiran Los Angeles, California, Amerika Serikat, ini istimewa kemungkinan besar bukan cuma karena dia rajin berlatih. "Tapi selebihnya, seperti para peneliti bilang, adalah faktor genetis," kata Dean. Bukan orang biasa yang tahan lari sejauh dan selama itu. "Berlari sejauh dan selama itu merupakan kemampuan manusia super," kata Nicole Marie Pinto, peneliti dari Sekolah Kedokteran Universitas California, San Francisco.

* * *

Ma Xiangang dari Kota Daqing, Provinsi Heilongjiang, Tiongkok, kecanduan sesuatu yang benar-benar ganjil. Dia sangat suka menikmati sengatan setrum listrik. Entah bagaimana, arus listrik, yang sangat berbahaya bagi hampir semua orang, jadi "mainan" untuk Ma Xiangang. Tubuhnya, menurut Beijing Sci-Tech, sama sekali tak terpengaruh oleh sengatan listrik.

Arus listrik yang dia pegang dengan tangan telanjang bisa lewat begitu saja dalam tubuhnya, tanpa masalah. Ma sadar bahwa dia kebal setrum listrik sejak belasan tahun silam. Tanpa sengaja dia memegang kabel berarus listrik dan ternyata baik-baik saja. Menurut hasil pengujian di laboratorium Universitas Harbin, Ma Xiangang mampu menahan arus listrik tujuh kali lebih kuat daripada rata-rata orang.

Liam Hoekstra
Foto: RestNova

Eskil Rønningsbakken
Foto: GrindTV

Beberapa orang, lantaran punya gen "super" atau gen yang termutasi, bisa memiliki kemampuan yang tak wajar. Saat bayi-bayi lain masih belajar merangkak, Liam Hoekstra sudah bisa melakukan sesuatu yang wajarnya hanya bisa dilakukan anak-anak atau orang dewasa. Ketika umurnya baru 9 bulan, Liam sudah bisa melakukan pull-up, mengangkat tubuhnya sendiri.

Sejak lahir, walaupun muncul di dunia lebih cepat ketimbang seharusnya, Liam memang sudah mengagetkan kedua orang tua angkatnya. Umurnya belum juga seminggu saat bayi Liam berdiri di atas dua kakinya. "Dia anak yang normal. Jika kalian tak melihatnya sendiri, kalian tak akan mengenali perbedaannya," kata Markus Schuelke, neurolog di rumah sakit Charite, Berlin, kepada Deutsche Welle. Sejak Liam masih bayi, Schulke terus mengamati perkembangannya.

Mutasi pada gen yang mengatur produksi protein myostatin-lah, menurut Dokter Schulke, yang menyebabkan tubuh Liam jauh lebih kekar dan punya otot jauh lebih kuat daripada anak-anak sebayanya. Protein myostatin berfungsi mengatur dan membatasi pertumbuhan otot. Produksi myostatin dalam tubuh bocah itu jauh di bawah normal, sehingga membuat ototnya terus menggelembung. Dalam keluarga Liam, bukan cuma dia yang bertubuh kekar. Seorang kakaknya juga mengalami mutasi gen serupa.

Isao Machii di Los Angeles, 2014
Foto: Getty Images


Mutasi genetis pada sejumlah kasus bisa jadi berkah, sekaligus masalah. Seorang bocah di Lahore, Pakistan, juga Steven Pete, kini 34 tahun, asal Kelso, Amerika, tak pernah kenal yang namanya rasa sakit sejak lahir. Sekalipun telapak tangannya terbakar api atau teriris pisau dan berdarah-darah, mereka tak akan meringis, apalagi sampai menangis, karena kesakitan.

Lantaran tak kenal sakit, Steven jadi cenderung ceroboh. "Entah berapa kali aku cedera selama beberapa tahun ini, aku tak bisa mengingatnya lagi.... Sudah berkali-kali aku mengalami patah tulang," kata Steven kepada News.com. "Aku tak merasakannya. Aku tahu aku cedera lantaran aku lihat ada tulang yang menonjol keluar."

Adiknya, Chris, juga punya "masalah" sama persis. Steven, Chris, bocah dari Lahore itu beserta sebagian keluarganya kebal dari perih, pedih, dan ngilu lantaran mutasi pada gen SCN9A. John Wood, neurolog dari Universitas College London, meneliti kasus bocah dari Pakistan dan keluarganya sepuluh tahun lalu. Dia merilis hasil penelitiannya di jurnal Nature.

"Sinyal sakit dalam tubuh mereka tak pernah sampai ke otak," kata John, dikutip Guardian. Mutasi pada gen SCN9A menyebabkan ion-ion sodium yang mengantarkan sinyal-sinyal rasa sakit ke sistem saraf tak bekerja sempurna, bahkan tak bekerja sama sekali. Kecuali tak kenal rasa sakit, selebihnya, Steven, Chris, dan bocah dari Pakistan itu tetap manusia biasa. "Mereka bisa malu dan menangis. Mereka juga bisa sakit hati saat ditolak seseorang."

Wim "Ice Man" Hof
Foto: dok. Wim Hof

Penelitian soal peran gen bagi manusia sudah melompat jauh sekali ke depan. Tapi masih ada jutaan pertanyaan seberapa besar pengaruh genetis ini bagi kemampuan-kemampuan tak biasa manusia. Satu komunitas di Afrika Selatan, misalnya, punya massa tulang jauh lebih besar dan padat dari orang lain.

Wim "The Iceman" Hof dari Belanda punya kemampuan luar biasa dalam menahan dingin. Pada 2007, hanya dengan celana pendek, tanpa baju, tanpa jaket, Wim, kini 57 tahun, mendaki Gunung Everest hingga ketinggian 22 ribu kaki. Dua tahun kemudian, dengan kostum sama persis, dia mencapai puncak bersalju Gunung Kilimanjaro di Benua Afrika.

Dalam kubangan es, detak jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh Wim relatif tak banyak berubah. Demikian pula konsentrasi hormon adrenalin dan detak jantung Eskil Rønningsbakken saat berakrobat di atas bentangan tali atau batu di atas jurang yang dalamnya tak kira-kira. Steven tak kenal sakit, Eskil tak kenal takut.

Apakah hanya bermodal latihan terus-menerus, tanpa pengaruh "gen-gen super", kita bisa menyamai kemampuan mereka masih jadi teka-teki. Isao Machii dari Jepang punya indra luar biasa tajam. Saat ini Isao masih memegang beberapa rekor Guinness World. Dia, misalnya, mampu membelah peluru plastik berukuran 5 milimeter yang melaju dengan kecepatan lebih dari 300 kilometer dengan sekali sabetan katana. "Kemampuan antisipasinya seperti Spider-Man," kata Ramani Durvalusa, profesor psikologi di Universitas Negeri California, Los Angeles.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.

SHARE